Kemarahan adalah Penyebab Kesengsaraan

Renungan Harian Misioner
Kamis, 10 Juni 2021
P. S. Henrikus Balzano

2Kor. 3:15 – 4 :1,3-6; Mzm. 85:9ab-10,13-14; Mat. 5:20-26

Bacaan Kitab Suci hari ini mengajak kita untuk hidup secara otentik dan tidak hidup dalam kepalsuan, khususnya dalam membangun relasi kita dengan Allah dan sesama. Dalam bacaan Injil, Yesus mengatakan, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Mat. 3:20). Hidup seperti apa yang dijalani kedua kelompok ini yang dikritik oleh Yesus? Mereka adalah orang-orang yang dengan setia menjalani hukum Taurat secara detail, tanpa berusaha melanggar apa yang tertulis di dalamnya. Namun, dalam beberapa kesempatan Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena kemunafikan mereka. Cara hidup mereka justru bertentangan dengan ajaran cinta kasih yang diwartakan oleh Yesus. Mereka memahami dan menjalankan ajaran cinta kasih dalam hukum Taurat secara harafiah. Inilah yang menjadi dasar bagi Yesus untuk mengingatkan Para Rasul-Nya dan juga kita para pengikut-Nya agar tidak berperilaku seperti orang Farisi dan ahli Taurat yang hidup secara dangkal dengan menampilkan cara-cara hidup yang mengesankan untuk mendapatkan perhatian dan kehormatan. Mereka menjalankan hukum secara ketat agar merasa dibenarkan di hadapan Tuhan dan manusia. Itulah mengapa Yesus mengundang kita untuk “hidup lebih dalam”, dan tidak hanya menjalankan apa yang tertulis seperti yang dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Yesus menekankan beberapa hal yang sangat erat berkaitan dengan hidup keseharian kita, dan mengajak kita untuk hidup dalam iman Kristen secara lebih mendalam. Pertama, Yesus mengingatkan soal kemarahan! Kemarahan adalah penyebab kesengsaraan! Bagi kita kemarahan itu adalah hal yang biasa, namun Yesus melihatnya sebagai masalah yang besar, karena kemarahan akan mengarah pada pelecehan verbal, tindakan kekerasan dan bahkan pembunuhan. Bagi Yesus, kemarahan akhirnya memengaruhi tindakan kita, yang menyebabkan kita menyakiti sesama dan pada akhirnya menyakiti diri kita sendiri. Yesus berkata, “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” (Mat. 5:21-22). Pada kenyataannya, ketika kita marah, kita tidak bisa melihat sesuatu secara objektif, dan itu mendatangkan dosa bagi kita. Inilah sebabnya mengapa Tuhan meminta kita untuk mengampuni sesama kita. Ketika kita tidak berdamai dengan diri kita sendiri dan dengan orang lain, kita bertindak berdasarkan rasa sakit yang kita alami. Karenanya, kita perlu menyembuhkan rasa sakit karena pengalaman traumatis yang menimpa kita, khususnya oleh orang yang kita cintai, orang tua, saudara dan kerabat. Perdamaian dengan sendirinya menghantar kita pada perjumpaan kita dengan Tuhan secara lebih mendalam. Jika kita tidak berdamai, kita akan dibawa ke kejahatan yang lebih besar. Hal ini menghalangi kita untuk menyembah Tuhan secara total dan menghalangi hati kita untuk memasuki kasih Tuhan. Ketika kita tidak bersatu dengan Tuhan, maka masalah lain akan muncul. Itulah sebabnya Tuhan menasihati kita untuk meninggalkan persembahan di mezbah dan berdamai terlebih dahulu dengan saudara kita (bdk. Mat. 5:23-24). Dalam nada yang sama, mempersembahkan persembahan kepada Tuhan bukan hanya tindakan eksternal dari pengorbanan kita. Cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama kita berjalan beriringan. Yesus menjelaskan bahwa kedua perintah ini tidak dapat dipisahkan,

Kedua, untuk hidup secara mendalam mengharuskan kita menghayati iman kita secara mendalam, bukan hanya iman yang dangkal atau iman bersifat ritualistik saja tetapi harus secara otentik. Kita bisa merefleksikan cara hidup beriman kita, apakah kita menjalankan ajaran Yesud dalam Injil dan ajaran Gereja secara otentik, atau lebih mengikuti pandangan duniawi. Mungkin juga kita berpikir, dengan lebih memperhatikan praktik dan kewajiban eksternal yang diajarkan oleh Gereja, mematuhi aturan yang tertuang di dalamnya sudah cukup bagi kita. Namun, yang benar adalah kita diselamatkan oleh kasih Kristus yang mengampuni dan belas kasihan-Nya melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, dan bukan pertama-tama oleh perbuatan baik kita. Dengan memahami kebenaran ini, hidup keagamaan kita tidak sekedar praktik ritual tetapi suatu undangan untuk mencintai dan hidup seperti Kristus sendiri.

Marilah kita berdoa memohon kekuatan untuk hidup sesuai dengan ajaran Yesus secara lebih mendalam, menjalankannya dengan setia dan tulus. Hanya dengan demikian, kita dapat menjalani hidup kita secara otentik, dalam kuasa Roh, dalam kebenaran dan dalam kasih.

(RP. Gabriel Joseph, CSsR – Imam di Manila)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keindahan Perkawinan: Marilah kita berdoa bagi kaum muda yang sedang mempersiapkan perkawinan dengan dukungan komunitas Kristiani: semoga mereka bertumbuh dalam cinta, dengan kemurahan hati, kesetiaan dan kesabaran. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pegiat dan pengguna media sosial: Semoga semua pegiat dan pengguna media sosial dikaruniai keutamaan untuk dapat terus berkreasi menebarkan hal-hal positif dan terhindar dari hal-hal yang merugikan diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Berkenanlah memberi kami hati, seperti Hati Putera dari Bapak Yoseph, untuk mengambil bagian secara tulus dalam membangun Paguyuban Umat Beriman dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s