Membangun Peradaban Kasih

Renungan Harian Misioner
Senin Biasa XI, 14 Juni 2021
P. S. Metodius

2Kor. 6: 1-10; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Mat. 5:38-42

Sahabat misioner terkasih,
Dalam Injil hari ini dikutip kata-kata, “Mata ganti mata; gigi ganti gigi.” Ini adalah hukum Perjanjian Lama untuk mengatur tata hidup bersama yang adil. Mata ganti mata, gigi ganti gigi merupakan prinsip pembalasan menurut ukuran yang sama. Dasar pokok ukuran hukum ini adalah tidak memberi kelonggaran untuk balas dendam dengan sepuas-puasnya, melainkan mau menjamin persamaan hak dan hukuman serta mengatur pelaksanaan hukuman.

Pada tahap minimal, sepertinya masyarakat terasa dapat hidup tenang dan adil kalau saja bisa menerapkan ukuran lama “mata ganti mata, gigi ganti gigi” itu. Namun, pada kenyataannya apa? Orang-orang menjadi liar. Yang terjadi bukannya mata ganti mata, gigi ganti gigi, tetapi mata ganti nyawa, gigi ganti mati. Orang zaman ini pun jadi beringas, mudah tersulut emosi dan saling menebar kebencian. Teguran baik dan konstruktif bisa dibalas dengan umpatan kasar dan destruktif. Silih pendapat di lini masa bisa berujung pada adu nyawa di jalanan. Rasanya masyarakat ini tidak mampu menjalankan ukuran atau hukum Perjanjian Lama. Kalau ukuran yang lama saja tidak mampu dijalankan, apalagi ukuran yang baru. Yang jelas adalah bahwa ukuran atau hukum Perjanjian Lama itu dimaksudkan untuk membangun kehidupan bersama yang damai dan sejahtera.

Ukuran yang baru disampaikan Yesus, “Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.” Dengan ukuran yang baru ini, Yesus mengajak orang tidak bersengketa dan tidak membalas dendam. Ukuran kesamaan dalam pembalasan “mata ganti mata, gigi ganti gigi” merupakan dasar dari tata hukum pidana. Dasar ini bagi Yesus harus ditinggalkan, karena pada dasar ukuran yang lama itu yang jahat tidak mungkin diatasi. Yesus ingin mengajak para murid-Nya membangun hubungan baru, yaitu peradaban kasih. Kewajiban dan keseimbangan hak janganlah dijadikan dasar bagi hubungan dengan sesama. Setelah dasar pembalasan ditinggalkan, para murid dan tentu saja kita orang Kristen zaman ini mempunyai kebebasan baru untuk menjalin hubungan baru, yaitu peradaban kasih. Kita melepaskan hak (membalas yang sama) bukan karena kita mau tunduk pada kejahatan, melainkan karena kita tahu: kejahatan tidak diatasi dengan pembalasan, tetapi dengan memutus lingkaran kejahatan itu melalui pengampunan dan perbuatan baik.

Sahabat misioner terkasih,
Peradaban kasih tidak didirikan di atas dasar hukum pembalasan, tetapi dibangun dalam hukum kasih. Rasul Paulus dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Korintus, seperti dikutip sebagai bacaan pertama misa hari ini, menasihati kita bagaimana hidup dalam hukum kasih. Rasul Paulus meminta kita agar kasih karunia Tuhan jangan sampai disia-siakan. Kita diajak hidup sebagai pelayan Allah dengan menjalankan kesabaran, kemurnian, kebaikan hati, kesucian dan cinta kasih yang tulus. Sebagai murid-murid Tuhan, marilah kita mengemban misi membangun peradaban kasih itu dalam hidup kita.***(NW)

(RD. M Nur Widipranoto – Dirnas Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keindahan Perkawinan: Marilah kita berdoa bagi kaum muda yang sedang mempersiapkan perkawinan dengan dukungan komunitas Kristiani: semoga mereka bertumbuh dalam cinta, dengan kemurahan hati, kesetiaan dan kesabaran. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pegiat dan pengguna media sosial: Semoga semua pegiat dan pengguna media sosial dikaruniai keutamaan untuk dapat terus berkreasi menebarkan hal-hal positif dan terhindar dari hal-hal yang merugikan diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Berkenanlah memberi kami hati, seperti Hati Putera dari Bapak Yoseph, untuk mengambil bagian secara tulus dalam membangun Paguyuban Umat Beriman dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s