Menyentuh-Nya dan Menjadi Sembuh!

Renungan Harian Misioner
Minggu, 27 Juni 2021
HARI MINGGU BIASA XIII

Keb. 1:13-15; 2:23-24; Mzm. 30:2,4,5-6,11,12a,13b; 2Kor. 8:7,9,13-15; Mrk. 5:21-43 (Mrk. 5:21-24,35-43)

Ini pola sandwich kegemaran Markus. Sebuah cerita dimulai, diinterupsi oleh cerita lain, lalu cerita pertama dilanjutkan lagi. Injil hari ini pun dimulai dengan sebuah cerita. Tokoh pria ditampilkan pertama, lengkap dengan namanya: Yairus. Maklum, dia lelaki berpangkat: seorang kepala rumah ibadat. Status terhormatnya itu ditekankan terus dalam cerita (ay. 22, 23, 35, 36, 38). Tak heran, ia boleh bertatap-muka dan berdialog langsung dengan Tuhan. Tetapi cerita tentang pria terhormat ini diinterupsi oleh seorang perempuan tanpa-nama. Mari kita belajar beriman darinya.

Dia diperkenalkan bukan lewat namanya, melainkan melalui penderitaannya. Ia sakit secara fisik: sudah 12 tahun pendarahan. Karena hidup manusia ada dalam darah, maka pendarahan yang begitu lama membuatnya praktis menjadi mayat berjalan. Ia juga menderita secara psikologis: malu karena terus dianggap sebagai sumber kenajisan (bdk. Im 15:19-31). Penyakit itu kiranya juga membuat dia tidak mampu mempunyai anak. Ini aib besar untuk perempuan se-zamannya. Secara ekonomis pun ia menderita: hartanya habis terkuras demi berobat pada para tabib, yang ternyata tidak berguna. Apakah ia menerima saja semua penderitaan itu? Sama-sekali tidak! Dari tengah kerumunan massa, ia menentukan sikap. Taurat melarang seorang najis menyentuh dan berbaur dengan orang lain. Tetapi keyakinannya akan Yesus mengalahkan kepatuhan pada agamanya. Ia mengambil risiko: menyentuh jubah Yesus (ay. 27,28,30,31).

Sentuhan terlarang itu sungguh berbuah: Yesus berhenti, sekaligus menghentikan pendarahan si perempuan. Ia langsung sembuh dan sehat. Tetapi Yesus tidak mau berhenti pada penyembuhan fisik saja. Ia ingin juga menghentikan status tanpa-nama dan keterpinggiran perempuan itu. Perempuan itu harus ditantang untuk keluar dari lautan massa dan memperlihatkan dirinya. Dia tidak boleh terus anonim dan bersembunyi. Jangan hanya menyentuh dari belakang untuk menghilang lagi dalam kerumunan massa. Yesus menginginkan pertemuan yang personal dan terbuka. Iman akan kuasa Yesuslah yang menyembuhkan, bukan daya magis jubah-Nya! Maka, si perempuan pun “tampil dan sujud di depan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang terjadi” (ay. 33). Saat ia membuka diri, statusnya langsung berubah. Sebelumnya ia tanpa-nama, kini ia disapa “anak-Ku”. Ia disapa sebagai pribadi, sebagai anggota keluarga Yesus. Dia tidak lagi pribadi yang diam dan “tidak kelihatan”. Sekarang dia tampil, berbicara, diberi status anak. Dia menjadi subyek yang mandiri, bukan lagi obyek yang dihindari. Ia pulang dengan perasaan dihargai. Ia dihargai sebagai pribadi yang layak didengarkan dan disapa.

Markus sengaja menampilkan perempuan ini sebelum Yairus sampai di rumahnya. Perempuan ini mengajar Yairus, Anda dan Saya, untuk tetap beriman: tetap berupaya “menyentuh” dan menggapai Yesus, di tengah situasi tanpa harapan. Ia mengajar Saya dan Anda bahwa iman tidak pernah anonim dan demi konsumsi sendiri. Iman berarti keluar dari diam dan kenyamanan massal. Iman selalu berarti berani berisiko dan berinisiatif: tampilkan diri dan bersaksi betapa Yesus sudah menyembuhkan dan membebaskanku.

(Hortensius Mandaru – Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Keindahan Perkawinan: Marilah kita berdoa bagi kaum muda yang sedang mempersiapkan perkawinan dengan dukungan komunitas Kristiani: semoga mereka bertumbuh dalam cinta, dengan kemurahan hati, kesetiaan dan kesabaran. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pegiat dan pengguna media sosial: Semoga semua pegiat dan pengguna media sosial dikaruniai keutamaan untuk dapat terus berkreasi menebarkan hal-hal positif dan terhindar dari hal-hal yang merugikan diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Berkenanlah memberi kami hati, seperti Hati Putera dari Bapak Yoseph, untuk mengambil bagian secara tulus dalam membangun Paguyuban Umat Beriman dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s