Maukah Kau Jadi Roti Bagi Sesama?

Renungan Harian Misioner
Senin, 02 Agustus 2021
P. S. Eusebius, S. Vercelli, S. Petrus Yulianus Eymard

Bil. 11:4b-15; Mzm. 81:12-13,14-15,16-17; Mat. 14:13-21

Kisah perjamuan di istana Herodes, beralih ke cerita perjamuan di padang gurun. Terbunuhnya seorang nabi pewarta Firman, bagaikan biji mati yang darinya tumbuh sumber kehidupan: Yesus, Sang Firman dan Mesias yang ditolak, namun menjadi Roti Hidup bagi semua orang. Yesus adalah Tuhan sendiri yang menganugerahkan daging-Nya sebagai makanan untuk menggenapkan janji-Nya kepada bangsa Israel yang menangis dan meminta daging untuk dimakan. Pembunuhan Yohanes Pembaptis telah membawa kita kepada kisah mesianis yang mengacu pada Ekaristi, makanan bagi komunitas kristiani perjanjian baru yang berpusat pada sang Anak, diterima sebagai anugerah dan dibagikan kepada saudara-saudara. Yesus sendiri menggambarkan apa yang akan dilakukan-Nya pada perjamuan terakhir, yang nantinya juga akan dilakukan untuk selamanya oleh murid-murid-Nya sebagai kenangan akan Dia (Yoh. 6:55; Bil. 11:4, 13; Mat. 14:19, 26:26; 1Kor. 11:23-24).

Kisah ini dimulai ketika Yesus pergi mengasingkan diri ke tempat yang sunyi. Pengasingan diri adalah suatu proses untuk menemukan anugerah Allah, yang diperoleh dengan meninggalkan kehidupan istana lalu pergi menuju ke padang gurun (Mat. 4:1). Banyaknya orang yang mengikuti-Nya memperlihatkan begitu banyak orang yang membutuhkan anugerah Allah itu, membutuhkan Roti Hidup! Dan sesungguhnya kita juga harus sadar, ketika kita sedang berjauhan dengan Yesus dan Firman-Nya, maka seberat apapun usahanya, kita harus terus mendekati dan mengikuti-Nya. Kualitas dasar Allah adalah Kasih, sehingga tidak dapat disangkal lagi kalau Yesus hanya bisa melakukan tindakan ilahi yaitu belas kasih, dengan melayani orang banyak itu dan menyembuhkan mereka. Di mana ada belas kasihan, di sanalah kepekaan terhadap sesama dan lingkungan sekitar tumbuh serta mewujudkan sebuah pelayanan yang mengalirkan berkat melimpah.

Sebaliknya para murid bertolak belakang dengan-Nya, mereka tidak memiliki kepekaan seperti Yesus. Tawaran para murid adalah ajakan untuk meninggalkan padang gurun sebelum malam datang. Mereka ingin menyuruh orang banyak itu pergi untuk membeli makanan. Ketiadaan belas kasih dan iman telah membuat mereka selalu merasa tidak sanggup memberi makan orang banyak. Tetapi Yesus, Sang Roti, hanya bisa diperoleh di tempat itu, di malam hari sebagaimana nantinya pada malam perjamuan terakhir dan Roti-Nya pun tidak perlu dibeli karena merupakan anugerah belaka (Yes. 55:1-2). Yesus mengajarkan sebuah logika baru yang merupakan arti Ekaristi sebenarnya: “kamu harus memberi mereka makan,” – harus dimengerti sebagai ajakan untuk memberi diri dan menjadi roti bagi orang banyak. Sekalipun hanya ada lima roti dan dua ikan, namun bukan jumlahlah yang menjadi fokus, melainkan usaha kita yang terbaik dalam memberi diri dan segala yang kita miliki. Segala keterbatasan yang terkumpul itu harus diserahkan kepada Yesus untuk diberkati, dipecah-pecahkan dan dibagikan kepada semua saudara. Melalui tangan seorang Anak, berapapun jumlahnya, selalu akan lebih dari cukup seturut kehendak-Nya. Mengucap berkat berarti menyatakan bahwa Allah telah memberikan yang baik kepada kita, anak-anak-Nya yang lahir sebagai tanda Kasih Bapa untuk berbagi kepada sesama saudara.

Perintah Yesus agar orang banyak itu duduk menjadikan mereka sebagai orang penting dan para murid yang membagi-bagikan makanan perjamuan sebagai pelayan-pelayan. St. Agustinus membandingkan 5 roti dengan 5 Kitab Taurat, dan memang manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan dan oleh karenanya semua orang yang lapar dan haus akan kebenaran pun dipuaskan, mereka semuanya makan sampai kenyang dan ada sisanya. Sisa dua belas bakul dapat berarti: satu untuk setiap suku Israel, atau satu untuk setiap bulan yang berarti cukup untuk semua orang dan cukup untuk sepanjang waktu. Demikianlah pengalaman hidup dalam Gereja, jika kita memberi diri dan berbagi milik kita, maka semua orang akan dikenyangkan, sebab hanya roti yang dibagi-bagikanlah yang menjadi berkat dan hidup bagi orang lain.
Di masa pandemi yang membawa kita pada ‘pengasingan diri,’ sudahkah kita menemukan anugerah Allah yang memampukan kita menjadi roti yang terpecah bagi-Nya? (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja: Marilah kita berdoa bagi Gereja, agar menerima dari Roh Kudus, rahmat dan kekuatan untuk memperbarui dirinya dalam cahaya Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menanggulangi masalah rasialisme: Semoga pemerintah dikaruniai kejernihan hati dan pikiran dalam membimbing masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh isu perbedaan sosial, budaya dan ras yang mudah meledak. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami menyertai Santo Yoseph untuk memperoleh Roh Kerendahan Hati, agar dalam kemerdekaan sejati dapat menyerahkan diri kepada Kehendak-Mu. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s