Jangan Hambakan Dirimu pada Kekayaan

Renungan Harian Misioner
Senin, 16 Agustus 2021
P. S. Stefanus dr Hungaria

Hak. 2:11-19; Mzm. 106:34-35,36-37,39-40,43ab,44; Mat. 19:16-22

Dalam perkembangan peradaban, manusia telah membuat beberapa standar tentang kesempurnaan yang dapat dilihat secara fisik. Mulai dari standar teknologi sampai ciri-ciri fisik seseorang menjadi patokan dalam penilaian standar kesempurnaan itu. Jika Anda menyaksikan pemilihan putri sejagad misalnya Miss Universe, standar kesempurnaan pada kecantikan itu berupa tubuh yang lansing, kulit mulus, dan tidak lupa dengan polesan make-up untuk menambah kesempurnaan pada senyum merekah yang sudah ‘dilatih’. Standar kesempurnaan hidup seseorang juga terletak pada kemakmuran yang disimbolkan dengan kepemilikan properti yang mewah, perhiasan yang dipakai, mobil mewah ataupun outfit lainnya yang sedang digunakan. Beberapa kali saya membaca berita, seseorang dipuja-puji sebagai crazy rich karena outfit yang digunakannya. Netizen berlomba-lomba mengecek harga jam tangan yang digunakannya, pakaian dan sepatu yang dipakainya atau apapun yang melekat pada dirinya dihitung dan dijumlahkan dengan nilai yang fantastis. Kebanyakan orang memuja bahkan mendambakan hidup yang ‘sempurna’ seperti itu.

Bacaan Injil hari ini, bercerita tentang orang muda yang datang kepada Yesus dan bertanya bagaimana caranya untuk memperoleh hidup yang kekal. Rupa-rupanya ia adalah seorang yang kaya. Pada zamannya tentu orang muda ini bisa membeli apa saja dengan kekayaan yang ia miliki. Namun ia tetap merasa ada yang masih kurang, yang tidak bisa dimilikinya dengan membeli. Atas pertanyaan orang muda ini, Yesus menjawabnya dalam dua bagian. Pertama, “Jika engkau ingin masuk ke dalam hidup yang kekal, turutilah segala perintah Allah”. Dengan percaya diri, sang pemuda ini pun membalas, “Perintah yang mana?” Mungkin pikirnya, ia telah melakukan semua perintah Allah khususnya yang termuat dalam 10 perintah Allah. Benarlah ketika Yesus melanjutkan dengan membeberkan perintah-perintah itu, orang muda ini pun menjawab, “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” Dari jawaban orang muda ini, tersirat suatu pesan bahwa semua yang telah dijalaninya selama ini seakan-akan sudah sempurna, namun masih saja ada yang terasa ‘kurang’ bahkan mungkin ‘sia-sia’ belaka. Pada bagian kedua, Yesus menjawab langsung tepat mengena pada perasaan ‘masih ada yang kurang’ atau ‘masih ada yang belum sempurna’ itu, dengan memberikan sebuah standar kesempurnaan, “Jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan memperoleh harta di surga”.

Tentu bukan hanya pemuda ini yang terkejut mendengar jawaban Yesus di atas. Saya dan Anda pun pasti merasa jawaban tersebut di luar diprediksi, standar kesempurnaan yang sama sekali tidak diharapkan bahkan dibayangkan sebagaimana standar kesempurnaan yang manusia sendiri telah buat dan tetapkan. Namun jawaban Yesus di atas mengandung makna tersirat yang sangat dalam. Kita jadi teringat tentang perkataan Yesus lewat Sabda Bahagia, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:3). Menjual segala milik kepunyaan tentu dengan tujuan agar kita tidak menghambakan diri pada kekayaan dan tetap merasa kecil, lemah, miskin, serta agar kita sepenuhnya punya hasrat untuk tetap bersandar sepenuhnya pada Allah. Yesus mengajak pemuda ini dan tentu juga mengajak kita semua murid-murid yang dikasihi-Nya jangan menjadi hamba uang, walaupun standar kehidupan dunia ini “segala-segalanya adalah uang”. Jika kita fokus dengan melakukan perintah-perintah Allah dan tetap menyandarkan diri pada-Nya kita pun akan mampu untuk melihat bagaimana segala yang kita miliki itu dapat menjadi sarana yang baik untuk semakin dekat dengan-Nya melalui berbagi kasih kita kepada sesama, terutama pada mereka yang menderita.

(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja: Marilah kita berdoa bagi Gereja, agar menerima dari Roh Kudus, rahmat dan kekuatan untuk memperbarui dirinya dalam cahaya Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menanggulangi masalah rasialisme: Semoga pemerintah dikaruniai kejernihan hati dan pikiran dalam membimbing masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh isu perbedaan sosial, budaya dan ras yang mudah meledak. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami menyertai Santo Yoseph untuk memperoleh Roh Kerendahan Hati, agar dalam kemerdekaan sejati dapat menyerahkan diri kepada Kehendak-Mu. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s