Kemerdekaan: Peluang Meresapi Tata Dunia dengan Semangat Injil

Renungan Harian Misioner
Selasa, 17 Agustus 2021
HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Sir. 10:1-8; Mzm. 101:1a,2ac, 3a,6-7; 1Ptr. 2:13-17; Mat. 22:15-21

Renungan Harian KKI dari Yung-Fo, Keuskupan Pangkalpinang.

Para Sahabat Misioner yang terkasih: Merdeka & Shalom!

Selamat datang ke dalam Indonesia Baru, untuk memulai periode di mana negeri tercinta kita: Negara Kesatuan Republik Indonesia hari pertama dalam usianya yang ke-76 tahun! Dan pada Hari Peringatan Kemerdekaan Indonesia ini, tema yang kita dalami adalah “Kemerdekaan sebagai Peluang untuk merasuki dan menyempurnakan tata-dunia dengan semangat Injil.” Ungkapan “merasuki dan menyempurnakan tata-dunia dengan semangat Injil,” adalah ungkapan khas Konsili Vatikan II, yang menggambarkan tentang tujuan dari kerasulan Gereja, (Lihat: Konsili Vatikan II, “Apostolicam Actusitatem – Dekrit tentang Kerasulan Awam,” art. 5). Ketika merenung tentang hubungan antara kemerdekaan dengan tujuan kerasulan awam Gereja ini, kita akan bertemu dengan rumusan “dua dimensi dengan tiga kategori para anggota Gereja berikut ‘tata-dunia’ mereka masing-masing.”

1.Dua dimensi kehidupan
Merujuk kepada kata-kata Yesus yang memberi-jawab kepada orang yang bertanya kepada-Nya, supaya “memberikan kepada kaisar, apa yang menjadi hak Kaisar, dan memberikan kepada Allah, apa yang menjadi hak Allah” (Matius 22:21b), kita mengetahui bahwa kerasulan Gereja itu mencakup dua dimensi kehidupan, yakni dimensi kehidupan spiritual-rohaniah yakni “hak atau kepentingan Allah”, dan dimensi kehidupan korporal-jasmaniah, yakni “hak atau kepentingan manusia”, yang diwakili oleh Kaisar. Tugas Gereja, untuk “merasuki dan menyempurnakan tata-dunia dengan semangat Injil,” melalui para anggotanya ini, sesungguhnya berarti bahwa setiap anggota Gereja diutus untuk “menghadirkan dimensi spiritual-rohaniah atau menghadirkan kehidupan Allah ke dalam dimensi kehidupan manusia atau dimensi korporal-jasmaniah.” Proses dan model dari kerasulan Gereja ini mengikuti “Proses Verbum Incarnatum,” di mana di dalamnya, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih-karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:14).

2.Tiga kategori
Sekalipun judul dari Dekrit Konsili vatikan II tersebut judulnya adalah Kerasulan Awam, namun tugas untuk merasul merupakan tugas Gereja, di mana para anggotanya terdiri atas tiga kategori, yakni kaum awam, para biarawan/biarawati dan para klerus. Masing-masing kategori mempunyai “tata-dunia” tersendiri. Menggunakan ungkapan dari Dekrit tentang Kerasulan Awam, ditegaskan, bahwa “Tugas seluruh Gerejalah mengusahakan, supaya manusia menjadi mampu menyusun seluruh tata-dunia dengan seksama dan mengarahkannya kepada Allah melalui Kristus” (AA art. 7 al 4). Selanjutnya tentang tugas para klerus (gembala) ditegaskan, “Para Gembala bertugas mencanangkan dengan jelas azas-azas tentang tujuan penciptaan dan penggunaan dunia, menyajikan bantuan-bantuan moral dan rohani, supaya tata-dunia dibaharui dalam Kristus” (AA art 7 ibid).

Tentang para awam, dijelaskan bahwa, “…kaum awam wajib menerima pembaharuan tata-dunia sebagai tugasnya yang khusus, dan dibimbing oleh cahaya Injil dan maksud-maksud Gereja serta didorong oleh cinta-kasih kristiani bertindak secara langsung dan terarah dalam tugas ini. Sebagai warga masyarakat mereka wajib bekerjasama dengan sesama warga dengan kemahiran khusus dan tanggung-jawab mereka sendiri. Di mana-mana dan dalam segalanya mereka harus mencari keadilan kerajaan Allah. Tata-dunia harus diperbaharui sedemikian rupa, sehingga – dengan tetap menjaga keutuhan hukum-hukumnya sendiri – tata-dunia diselaraskan dengan azas-azas hidup kristiani yang lebih luhur, dan diseuaikan dengan pelbagai kondisi setempat, masa dan bangsa. Di antara usaha-usaha kerasulan itu yang mendapat tempat istimewa adalah kegiatan sosial umat kristiani. Konsili suci menginginkan, supaya kegiatan itu sekarang meliputi segenap bidang duniawi, termasuk kebudayaan” (AA art. 7 al 5).

Sementara tentang kaum religius, dalam PC (art. 1 al 2) dikatakan, “…berkat rencana ilahi berkembanglah keanekaan kelompok-kelompok religius yang menakjubkan. Itu semua sangat membantu Gereja, untuk tidak hanya diperlengkapi bagi setiap amal baik (lih. 2Tim 3:17) dan siap-siaga menjalankan karya pelayanan untuk membangun Tubuh Kristus (lih. Ef 4:12); melainkan juga supaya berkat pelbagai kurnia para putera-Nya, Gereja nampak berhias, seperti pengantin berdandan bagi suaminya (lih. Why 21:2), dan melalui Gereja makin nyatalah kebijaksanaan Allah yang bermacam-ragam (lih. Ef 3:10).”

3.Kemerdekaan: peluang untuk “merasuki dan menyempurnakan tata-dunia dengan semangat Injil”
Kerasulan Gereja yang bertujuan untuk “merasuki dan menyempurnakan tata-dunia dengan semangat Injil,” supaya membuka jalan bagi manusia untuk diadopsi menjadi anak Allah (Yohanes 1:12-13), dilakukan lewat cara hidup, dengan nilai-nilai yang harus nampak atau bisa dilihat orang, ketika para pengikut Kristus menerima dan memanfaatkan atau mengisi kemerdekaan. Kata-kata Rasul Santo Paulus ini menjadi ajakan bagi kita semua, untuk menggunakan kemerdekaan, termasuk HUT Kemerdekaan NKRI ke-76 dengan 365 hari yang tersedia di dalamnya, sebagai peluang untuk kerasulan: “Hiduplah sebagai orang merdeka, bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah. Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja” (1 Petrus 2:16-17). Cara hidup yang serupa untuk mengisi kemerdekaan itu, juga ditegaskan oleh penulis Kitab Putra Sirakh, “Hendaklah engkau tidak pernah menaruh benci kepada sesamamu apapun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu. Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun oleh manusia, dan bagi kedua-duanya kelaliman adalah salah” (Sirakh 10:5-7).

Baik Petrus maupun Sirakh, sama-sama menegaskan bahwa dalam mengisi kemerdekaan, dimensi kehidupan spiritual-rohaniah dan dimensi kehidupan korporal-jasmaniah perlu dihayati secara seimbang. Mari kita lakukan anjuran itu. Merdeka! [RMG].

(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja: Marilah kita berdoa bagi Gereja, agar menerima dari Roh Kudus, rahmat dan kekuatan untuk memperbarui dirinya dalam cahaya Injil. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menanggulangi masalah rasialisme: Semoga pemerintah dikaruniai kejernihan hati dan pikiran dalam membimbing masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh isu perbedaan sosial, budaya dan ras yang mudah meledak. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Perkenankanlah kami menyertai Santo Yoseph untuk memperoleh Roh Kerendahan Hati, agar dalam kemerdekaan sejati dapat menyerahkan diri kepada Kehendak-Mu. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s