Berbahagialah, Hai Empunya Kerajaan Sorga!

Renungan Harian Misioner
Senin, 01 November 2021
HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS

Why. 7:2-4,9-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; 1Yoh. 3:1-3; Mat. 5:1-12a

Dalam penglihatan Yohanes seorang malaikat memerintahkan untuk mengendalikan penghancuran karena hamba-hamba Allah akan ditandai terlebih dahulu dengan meterai. Penampakan ini merujuk pada dunia Yunani-Romawi di mana orang memberikan tanda tertentu pada dahi budaknya, sebagai lambang kepemilikan. Namun kita juga mengenal tanda itu sebagai lambang perlindungan Allah kepada umat-Nya yang teraniaya (lih. Kej. 4:15, Kain ditandai; Yeh. 9:6, Allah memerintahkan Yehezkiel untuk membubuhkan tanda di dahi orang-orang benar agar mereka terlindung dari hukuman yang akan menimpa Yerusalem). Tanda itu sendiri dalam penulisan huruf kuno abjad Ibrani berbentuk mirip seperti salib.

Jumlah yang dimeteraikan 144.000 orang atau 12.000 orang dari masing-masing suku Israel. Angka 12 secara simbolis melambangkan kepenuhan umat Allah, sedangkan angka 1.000 melambangkan jumlah yang sangat besar – sehingga angka 144.000, sebagai perkalian 12 dikali 12 dikali 1.000, ingin menunjukkan bahwa yang dimeteraikan adalah kumpulan dalam jumlah besar umat manusia yang dibenarkan karena bertahan dalam penganiayaan. Kumpulan itu berasal dari segala bangsa, suku, kaum dan bahasa yang berdiri di hadapan takhta Allah dan Anak Domba dengan mengenakan jubah kemenangan putih sambil memegang daun-daun palma simbol kemenangan di tangan mereka. Liturgi surgawi yang diserukan dengan suara nyaring menghaturkan pujian dan syukur bagi Allah dan Anak Domba lewat tujuh kata penghormatan: puji-pujian, kemuliaan, hikmat, syukur, hormat, kekuasaan dan kekuatan menjadi lambang kepenuhan puji-pujian yang sempurna bagi Allah dan segenap ciptaan-Nya.

Orang-orang yang mengenakan jubah putih itu, ditafsirkan oleh para tua-tua sebagai orang-orang yang telah melalui penganiayaan sebagai martir dan mempersatukan darah mereka dengan darah Kristus. Ungkapan ini kelihatannya berlatarbelakang ritus pengudusan pakaian imam di Israel dengan darah (Im. 8:30). Setiap orang yang menaruh pengharapan bahwa: apabila Kristus menyatakan diri-Nya, mereka akan menjadi sama seperti Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya, telah menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci. Begitulah besarnya kasih karunia Allah Bapa kepada kita, sehingga kita pun disebut anak-anak Allah dan memang kita sungguh anak-anak Allah karena pembaptisan yang telah kita terima.

Wejangan Yesus di bukit ditujukan kepada semua bangsa yang telah membaca dan mendengarkan delapan Sabda Bahagia. Angka 8 merupakan simbol yang menunjuk ke hari kebangkitan Yesus (hari pertama sesudah hari ke-7) sehingga pada gereja purba, banyak ditemukan bentuk segi delapan pada gedung-gedung pembaptisan. Melalui pembaptisan itulah kita mengubah cara hidup dan memperoleh hidup baru yang kekal. Wejangan ini juga merupakan katekese permandian: petunjuk hidup kristiani sesuai dengan tata kehidupan sang Putera. Hidup yang ditawarkan sebagai suatu kepenuhan kehidupan, berbahagia karena dapat menghayati suatu hidup yang penuh. Bukan merupakan suatu hukum baru, melainkan melukiskan hati yang baru yang telah dijanjikan dalam nubuat para nabi (Yeh. 36:26-28; Yer. 31:31-34). Yesus menyatakan apa yang Dia hayati, perkataan-Nya bukan hukum melainkan Kabar Baik, bukan tuntutan-tuntutan berperilaku yang luhur saja, melainkan suatu karunia yang indah yang Ia anugerahkan dengan menawarkan diri-Nya sebagai saudara kita.

Wejangan Yesus ditujukan bagi warga Kerajaan-Nya, yaitu orang-orang yang miskin dan dianggap rendah keadaannya, bukan pada mereka yang kaya, berkuasa dan dihormati karena harta dan jabatannya. Dengan Sabda Bahagia-Nya, Yesus menawarkan kepada kita cara hidup sebagai anak Bapa dan menjadi saudara bagi semua orang. Kita hidup dari setiap kata yang keluar dari mulut Tuhan, kata “Berbahagialah” diulang sebanyak 8 kali supaya kita akhirnya meyakini bagaimana Tuhan menilai, dan ukuran Tuhan mesti jadi ukuran kita berpikir, berkata-kata dan bertindak.

Pada Hari Raya Semua Orang Kudus ini, “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Kebenaran yang dimaksud di sini menyangkut semua kewajiban kita terhadap sesama dalam hubungan dengan Allah. Kebenaran adalah sikap hormat dan setia terhadap hak-hak Allah serta penerapan kehendak Allah. Orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran adalah mereka yang telah melakukan kebenaran itu, hasrat mereka adalah hidup yang menghormati hak-hak Allah atas diri mereka sebagai suatu hidup yang sesuai kehendak Allah. Kita berbahagia karena telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus (Kis. 5:41). Yesus sendiri, Sang Damai telah menghadirkan Kerajaan Sorga lewat penganiayaan dan pencurahan darah-Nya di salib. Dia jadi pemenang justru karena telah disembelih (Ef. 2:13-14, Why. 5:6,9,12). Kemenangan kita adalah kemenangan Anak domba itu. Mari bertahan dalam kebenaran-Nya, kita semua diundang untuk mewujudkan keadaan yang memungkinkan kita masuk ke dalam kebahagiaan Kerajaan dan menjadi empunya Kerajaan Sorga. (ek)

(Antonius Ekahananta – Awam Katolik Pengajar Misi Evangelisasi)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Orang-orang yang menderita karena depresi: Semoga mereka yang menderita karena depresi dan kelelahan mental mendapat dukungan dan tuntunan ke hidup yang lebih baik. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Penghayatan iman: Semoga keluarga Katolik dapat menghayati iman secara lebih baik dalam kehidupannya. Kami mohon…

Ujud Khusus Tahun Santo Yoseph:

Sudilah mempersatukan kami dengan semua saudari dan saudara kami, yang sudah meninggal dan mendoakan kami, sebagaimana Santo Yoseph merestui pelayanan Sang Putera. Kami mohon…

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s