Maria Pembawa Kabar Gembira

Renungan Harian Misioner
Jumat Pekan III Prapaskah, 25 Maret 2022
HARI RAYA KABAR SUKACITA

Yes 7:10-14; 8:10; Mzm 40:7-8a.8b-9.10.11; Ibr 10:4-10; Luk 1:26-38

PENUH RAHMAT: Berabad-abad para murid Kristus mengulang-ulang ungkapan iman bersama Perawan Maria, yang mensyukuri anugerah agung, yang boleh diterimanya, yaitu “dipenuhi Rahmat Allah”. Atas dasar “kepenuhan Rahmat” itulah Malaikat datang menghadap gadis ini: tanpa apapun dalam dirinya, yang menyebabkan ia pantas menerimanya. Rahmat erat berkaitan dengan “Ruach Allah”, yang juga disebut “Ruach Elohim”, yang bagi anak cucu Abraham disebut “Ruach Yhwh”. Ketika mendengarnya, Maria langsung ingat akan Kej. 1:2, yang menegaskan, bahwa “Roh Allah melingkupi segalanya”, sebelum Kisah Penciptaan. Bagi kita, anak-anak Maria, syukur kepada Allah, merupakan ungkapan penting, yang menyebabkan kita dapat menyertai Ibu Maria memadahkan “Magnificat anima mea Dominum” (Jiwaku memuliakan Tuhan).

BACAAN I Yes. 7:10-14;8:10b: Lama sebelum Maria, umat Israel belajar dari Utusan Allah, bahwa Allah akan mengirim Utusan, yang memberi Kabar Gembira (=Evangelium) bahwa Allah menyelamatkan umat manusia, melalui Seorang Perempuan Muda; suatu gema dari awal Kitab Kejadian, yang menegaskan Janji Allah akan Keselamatan. Pada kesempatan itulah disebutkan ‘Emanuel’, Allah Menyertai kita. 

REFLEKSI KITA: Bersama Santa Perawan Maria, kita mensyukuri Kebar Gembira, yang dijanjikan Allah sejak masa Perjanjian Lama. Sebab Kata Agung itu, Emmanuel, itu merupakan pegangan iman kita semua, bahwa Hadirnya Allah menyertai kita merupakan Tanda dan Sarana, betapa Allah berbelaskasih kepada kita, seberapa pun noda dan dosa kita. Kelak Tuhan Yesus mengingatkan para murid, agar Janji itu menyebabkan kita juga “saling mengampuni dengan sesama kita”.

BACAAN II Ibr. 10:4-10: Seraya mengingat Tradisi Perjanjian Lama, kita diingatkan, bahwa persembahan seberapapun, tidaklah cukup untuk memulihkan dosa kita; walau pun secara berkala anak cucu Abraham diundang untuk menghunjukkan korban. Hanya Sang Kristus,- Sang Terurapi -, yang dapat memulihkan dosa manusia, melalui Pelaksanaan Kehendak Allah, dengan Penyerahan Diri-Nya sampai habis-habisan. Penulis Ibrani menegaskan, bahwa Penyerahan Diri Sang Terurapi itulah yang melaksanakan Pengutusan Allah dan karena itu menebus kita.

REFLEKSI KITA: Marilah kita mengkontemplasikan kesediaan murid Yesus untuk mensyukuri Penebusan, yang ditawarkan untuk menyelamatkan seluruh umat manusia.

BACAAN INJIL LUKAS 1:26-38: Santa Perawan Maria terpukau menyambut Malaikat, karena rendah hatinya dan tidak mengira, bahwa Utusan Allah mendatanginya dan bahkan menyatakan, bahwa Allah berkenan memberi anugerah, yang tidak terkira: “Menjadi Bunda Sang Penebus”, yaitu sesuatu, yang melampaui segala perhitungan manusiawi. Caranya juga mengatasi perhitungan dan kemampuan manusia serta dirinya, untuk mengerti. Dari sisi kita, anak-anak Maria, betapa kita harus bersyukur, bahwa Bunda Maria menyambut Kehendak Penebusan Sang Putera itu dengan ucapan: “Aku ini hamba Tuhan. Jadilah padaku, seperti Yang Kaukehendaki”.

REFLEKSI KITA: Marilah kita tidak banyak cakap, tetapi mengkontemplasikan perjumpaan Bunda Maria dengan Utusan Allah, yang kini berulang kali kita ikut ucapkan: “Aku ini hamba Tuhan: jadilah padaku menurut perkataanmu”. Dengan khidmat dapat pula kita berucap: “Salam Maria, penuh rahmat…”

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Menghadapi tantangan bioetika

Kita berdoa untuk umat Kristiani yang menghadapi tantangan bioetika baru; semoga mereka dapat terus membela martabat segenap umat manusia dengan doa dan tindakan.

Ujud Gereja Indonesia: Pengabdian politik

Kita berdoa, semoga di alam demokrasi ini para elit politik dan pemerintah menggunakan kewenangannya untuk mengabdi dan menata masyarakat dan bukan untuk menguasainya.

Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s