Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa IX, 07 Juni 2023
P. S. Anne dr S. Bartolomeus
Tb. 3:1-11a,13,16-17; Mzm. 25:2-4a,4b-5ab,6-7bc,8-9; Mrk. 12:18-27
Bagi orang Saduki, kebangkitan badan adalah sebuah “nonsense”. Bisa dimengerti, karena mereka adalah salah satu kelompok orang Yahudi yang pada umumnya cukup kaya dan tidak terlalu tertarik pada soal-soal keagamaan. Kelompok mereka inilah yang mendatangi Yesus dan bertanya tentang apakah ada kebangkitan badan. Pada mulanya mereka menyapa Yesus dengan hormat, Guru! Namun kita tidak tahu apakah mereka benar-benar percaya kepada-Nya sebagai Mesias, Sang Juru Selamat.
Pertanyaan mereka bertitik tolak pada perintah yang ditulis oleh Musa: “Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang istri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu.” Mereka masih melanjutkan lagi dengan cerita tentang tujuh bersaudara yang mengawini seorang perempuan dan ketujuh saudara itu mati. Lalu siapakah suami dari perempuan ini jika ada kebangkitan badan? Pertanyaan ini menjadi semacam lelucon. Kalau ada kebangkitan badan maka akan ada kekacauan di masa sesudah kematian. Demikian pula kalau tidak ada kebangkitan badan maka dengan matinya manusia, berakhir pula hidupnya di dunia ini.
Cara pandang seperti inilah yang dikatakan oleh Yesus sebagai sesat. Mereka sesat karena tidak mengerti Kitab Suci dan dengan demikian mereka juga tidak mengenal Allah. Cara pandang mereka tentang kehidupan baru yang akan datang tidak bisa disamakan dengan kehidupan di bumi ini. Melalui Kitab Suci, Allah sendiri memaklumkan diri-Nya sebagai Allah Abraham, Allah Iskhak, Allah Yakub. Artinya, Allah benar-benar menyejarah, tetap hadir menyertai umat-Nya dari generasi yang satu ke generasi berikutnya.
Kehidupan baru sesudah kematian diungkapkan secara indah oleh Kitab Wahyu seperti orang-orang yang keluar dari kesusahan besar: “Mereka tidak akan lapar atau haus lagi. Matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka. Allah akan menyeka segala air mata dari pipi mereka (lih. Why 7: 14-17). Mereka juga akan seperti para malaikat yang mengalami sukacita abadi: Para hamba Allah akan memandang wajah Allah dan nama Allah tertera pada dahi mereka. Malam tidak akan ada lagi, cahaya lampu atau sinar matahari takkan mereka perlukan lagi. Sebab Tuhan Allah menerangi mereka, dan mereka akan meraja selama-lamanya (22: 4-5).
Inspirasi ilahi inilah yang menjadi dasar iman kita, seperti kita ucapkan setiap hari: “Aku percaya akan kebangkitan badan dan kehidupan kekal”. Kepercayaan inilah yang membuat kita tidak lagi ragu-ragu akan apa yang terjadi pada kehidupan baru sesudah kematian. Kita dapat belajar dari Simeon. Di usianya yang semakin senja, ia semakin percaya bahwa kematian hanyalah sebuah masa peralihan menuju hidup abadi. Ia bahkan mengharapkan hidup abadi melalui doanya yang sangat menggetarkan jiwa: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu” (Luk. 2: 29-30).
(RP. Anton Rosari, SVD – Imam Keuskupan Bogor)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Penghapusan praktik penyiksaan – Kita berdoa semoga komunitas internasional berkomitmen dengan cara-cara konkret untuk memastikan penghapusan praktik penyiksaan dan menjamin adanya dukungan bagi para korban dan keluarganya.
Ujud Gereja Indonesia: Hati Yesus – Kita berdoa, semoga kita dianugerahi rahmat untuk menghormati dan mencintai Hati Yesus, dan percaya, bahwa dalam Hati-Nya yang Maha Kudus kita boleh menemukan kekuatan dan penghiburan, lebih-lebih ketika kita dicekam oleh beban hidup dan krisis yang tak tertanggungkan.
Amin
