Renungan Harian Misioner
Sabtu Pekan Biasa XIII, 08 Juli 2023
P. S. Adrianus III
Kej. 27:1-5,15-29; Mzm. 135:1-2,3-4,5-6; Mat. 9:14-17
“Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” (Matius 9:14).
Dalam Bacaan Injil hari ini dikisahkan tentang pertanyaan murid-murid Yohanes kepada Yesus tentang puasa. Para murid Yohanes merasa bahwa mereka dan orang Farisi lebih sering berpuasa daripada murid Yesus. Mengapa Yesus justru tenang-tenang saja?
Dalam Alkitab, disebutkan keharusan puasa bagi seluruh bangsa Israel adalah sekali setahun yaitu pada Hari Raya Pendamaian (bisa dilihat dalam Kitab Imamat Bab 16 dan 23), namun para murid Yohanes lebih banyak berpuasa sebagai bentuk kesedihan karena gurunya ditangkap dan sebagai bentuk penantian akan Mesias yang dijanjikan. Dalam sejarah gereja berpuasa dijalankan pada saat-saat tertentu sebagai suatu ibadah dengan maksud tertentu. Orang-orang Farisi sangat rajin berpuasa, banyak di antara mereka bahkan berpuasa dua hari seminggu, demikian juga dengan murid Yohanes. Melihat murid Yesus tidak berpuasa sebanyak yang mereka jalani, para murid Yohanes merasa aneh dan mempertanyakan sikap Yesus. Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan memberikan 3 perumpamaan: pertama perumpamaan tentang sahabat-sahabat mempelai dan mempelai, kedua perumpamaan tentang menambal kain muda pada kain tua yang sobek, dan ketiga anggur baru yang diisikan ke kantong kulit yang tua.
Secara sederhana Yesus mau mengatakan bahwa saat Dia masih hidup para murid-Nya tidak perlu berpuasa seperti para murid Yohanes. Ada masanya untuk berpuasa. Tidak semua orang yang rajin berpuasa dan melaksanakan seluruh hal sesuai aturan agama adalah pribadi yang paling benar dan otomatis diselamatkan. Puasa hendaknya dilakukan dengan niat yang baik agar kita semakin dimurnikan dan dapat mendekatkan diri dengan Yesus. Yesus mengajak kita untuk tidak menghakimi kesalehan orang lain dengan ukuran yang kita buat.
Kadang kala kita jatuh dalam kesombongan beragama lalu membuat sebuah standar sesuai dengan apa yang kita buat, lalu dengan pernuh semangat mengukur tingkat keagamaan orang lain. Jika berbeda maka kita dengan ringan hati mengkritik, seolah-olah yang berbeda sudah pasti salah dan menyimpang; seolah-olah semua orang yang tidak berbuat sebanyak yang kita buat adalah pendosa. Melalui bacaan hari ini Yesus mengajak kita untuk tidak mudah mengkritik orang lain dan tidak gampang merasa diri lebih dalam hal rohani. Apapun yang kita lakukan hendaknya datang dari hati yang tulus dan demi kemuliaan nama Allah. Mari kita selalu membarui diri dan dengan semangat yang berkobar mendekatkan diri dengan Yesus tanpa harus pamer dan mengkritik orang lain. Amin.
(Ignasius Lede – Komisi Karya Misioner KWI)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Kehidupan Ekaristi– Kita berdoa semoga umat Katolik menempatkan perayaan Ekaristi sebagai jantung kehidupan, yang mengubah hubungan antar sesama secara mendalam, dan terbuka pada perjumpaan dengan Tuhan dan sesama.
Ujud Gereja Indonesia: Kesadaran berpolitik – Kita berdoa, semoga banyak orang muda Katolik terpanggil untuk terjun dalam dunia politik dan menjadi pejabat-pejabat di pemerintahan, agar mereka bisa turut ikut membuat kebijakan demi pembangunan bangsa dan penyelesaian persoalan sosial.
Amin
