Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XVIII, 9 Agustus 2023
P. S. Teresia Benedikta dr Salib
Bil. 13:1-2a,25 – 14:1,26-29,34-35; Mzm. 106:6-7a,13-14,21-22,23; Mat. 15:21-28
Para Pembaca Ren-Har KKI yang terkasih, selamat datang ke dalam Bulan Proklamasi Kemerdekaan NKRI kita, hari ke sembilan, tanggal 09 Agustus 2023.
Bacaan-bacaan Firman Tuhan untuk kita hari ini menghadapkan kita kepada dua pilihan dalam perjalanan hidup ini: mau mengandalkan kuasa dan kekuatan Tuhan atau mengandalkan kekuatan diri kita sendiri? Bagaimana para tokoh alkitabiah yang Tuhan pertemukan dengan kita dalam Firman-Nya hari ini menentukan pilihan mereka atas pertanyaan mendasar tersebut di atas. Mari kita belajar dari para tokoh ini untuk membangun relasi yang baik dan benar dengan Tuhan Allah, sehingga kita tidak kehilangan berkat dan kasih-karunia-Nya!
Israel Melupakan Allah dan Karya-karya Agung Allah!
Perjalanan hidup umat Pilihan Allah setelah keluar dari perbudakan Mesir sesuai Bacaan Pertama hari ini, sudah sampai ke Padang Gurun Paran, dan Tuhan Allah meminta Musa mengirimkan para pengintai untuk melihat Tanah Terjanji, yang akan menjadi Tanah Yang Diberikan Tuhan kepada Umat-Nya, Israel. Ketika Kembali dari tugas-pengintaian itu, informasi yang disampaikan oleh para pengintai kepada Musa dan Umat Israel bukannya menimbulkan kegembiraan karena Janji Tuhan kepada mereka segera akan terlaksana, tetapi sebaliknya bangsa itu dipenuhi oleh ketakutan terhadap para penghuni Tanah Terjanji itu. Mereka melupakan Allah dan berbagai Karya Agung yang telah dilakukan-Nya di Mesir untuk membuktikan kuasa-Nya atas Firaun, dengan 10 tulah yang diturunkan-Nya kepada orang Mesir. Mereka juga lupa bahwa Firaun dan bala-tentaranya yang mengejar untuk membawa pulang mereka ke Mesir telah dibenamkan Tuhan di Laut Teberau! Mereka hanya ingat, bahwa dibanding dengan para penghuni Tanah Terjanji itu, mereka hanya seperti belalang di hadapan para raksasa, dan karena itu mereka menjadi takut dan gentar. Karena umat-Nya tidak memberikan tempat bagi-Nya di dalam perjalanan hidup mereka, maka Tuhan Allah menjadi murka. Mereka menghitung-hitung dan mengandalkan kekuatan mereka. Dalam situasi seperti itu, Israel tidak mengandalkan kuasa dan kekuatan Tuhan yang telah membawa mereka keluar dari Mesir (bdk. Keluaran 14:1.24-30.34-50).
Pengalaman Israel ini mengingatkan kita, bahwa ketika kita mengandalkan Tuhan dan memberi-Nya tempat untuk mengatur kehidupan kita, kita akan mengalami hidup yang penuh berkat dan kasih-karunia. Sebaliknya ketika kita mengandalkan kekuatan diri kita sendiri, maka hidup kita akan dipenuhi oleh ketakutan dan kecemasan, karena kita akan tergoda untuk melihat kehebatan orang lain sebagai ancaman dan melupakan Tuhan Allah sebagai sumber hidup dan kekuatan kita!
Menjadikan Tuhan sebagai Andalan Hidup: Pengalaman Pemazmur!
Pengalaman Israel yang sering meninggalkan Tuhan Allah sebagai dasar dan andalan hidup mereka, menjadi pengalaman banyak orang lain juga, termasuk pengalaman kita di dalam Gereja dewasa ini! Tindakan “melupakan Tuhan sebagai andalan hidup” menyebabkan terjadinya hal buruk di dalam kehidupan (Mazmur 106:6-7a.13-14.21-22). Namun, melalui hamba-Nya, yang atas nama umat yang berdosa itu, Musa menghadap dan memohon pengampunan bagi umat-Nya. Maka Allah mengampuni dan memberi kesempatan baru kepada Israel untuk melanjutkan hidup mereka (Mazmur 106:23). Tuhan Allah kembali menerima Israel sebagai umat-Nya, dan memberikan diri-Nya sebagai andalan hidup mereka!
Menjadikan Tuhan sebagai Andalan Hidup: Pengalaman Perempuan Kanaan!
Pengalaman yang menunjukkan bahwa Tuhan Allah adalah andalan hidup, yang tidak pernah mengecewakan siapapun yang datang kepada-Nya, dialami juga oleh seorang perempuan Kanaan dalam Bacaan Injil kita hari ini (Matius 15:21-28). Perempuan ini sejak semula, sudah yakin bahwa untuk penyembuhan anaknya, satu-satunya andalan adalah kuasa dan pertolongan Tuhan Yesus. Maka ketika datang kepada Yesus, perempuan ini tetap teguh untuk tidak meninggalkan Yesus. Sekalipun dia diuji oleh Yesus, namun pilhannya untuk tetap meletakkan harapannya pada Yesus bagi kesembuhan putrinya, membuat perempuan ini mengalami universalitas keselamatan. Sekalipun Yesus menyatakan diri-Nya diutus “hanya untuk domba-domba yang hilang dari umat Israel,” yang digambarkan sebagai “anak-anak yang makan roti dari meja sajian,” perempuan itu menempatkan dirinya sebagai bagian dari perjamuan roti itu, yang menegaskan bahwa dirinya juga “dapat memperoleh remah-remah roti yang jatuh dari meja perjamuan tuan rumah.” Iman perempuan ini, kemudian mengantarnya untuk mengalami kasih Tuhan, yang menyembuhkan putrinya dari kerasukan setan!
Iman kepada Allah menjadi hal yang terpenting dan perlu!
Dari para tokoh alkitabiah yang Tuhan pertemukan dengan kita hari ini, yakni: umat Israel, Pemazmur dan perempuan Kanaan ini, satu hal dapat kita tegaskan di sini, yakni bahwa orang-orang yang berbahagia untuk mengalami kasih dan keselamatan dari Tuhan, adalah mereka yang sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan, dan yang sepenuhnya mengimani Dia, seperti halnya perempuan Kanaan ini. Semoga kitapun seperti perempuan Kanaan ini: mempunyai iman yang kuat dan tahan uji, dan menjadikan Allah sebagai andalan hidup serta perjuangan kita. Amin. (RMG)
(RD. Marcel Gabriel – Imam Keuskupan Pangkalpinang)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Hari Orang Muda Sedunia – Kita berdoa semoga perayaan hari Orang Muda Sedunia di Lisbon dapat membantu orang muda untuk menghidupi dan menjadi saksi Injil dalam kehidupan mereka.
Ujud Gereja Indonesia: Cita-cita kemerdekaan – Kita berdoa, semoga pemerintah, anggota DPR, para elit politik, dan kaum cendikiawan bersama-sama serius memperjuangkan cita-cita kemerdekaan dan keutuhan bangsa, dan tidak saling bertengkar serta saling mencari kesalahan, yang membingungkan masyarakat dan memecah belah kesatuan serta kerukunan.
Amin
