Renungan Harian Misioner
Rabu Pekan Biasa XXII, 06 September 2023
P. S. Thomas Tzugi dkk
Kol. 1:1-8; Mzm. 52:10,11; Luk. 4:38-44
Saudara-saudariku yang dikasihi oleh Tuhan. Bacaan Injil hari ini merupakan kelanjutan kisah pelayanan Yesus (Luk. 4:31-37) yang tidak hanya mengajar tetapi juga menyembuhkan mereka yang sakit dan kerasukan setan. Menarik sekali bagaimana cara Lukas menampilkan ke-Mesias-an Yesus sementara orang-orang Nasaret dan pada umumnya orang sebangsa-Nya menolak ke-Mesias-an Yesus. Otoritas Yesus sangat kelihatan ketika Yesus berhadapan dengan setan yang merasuki seseorang: setan itu mengenal Yesus. Hardikan Yesus kepada setan dan bagaimana setah patuh pada perintah Yesus sungguh memperlihatkan otoritas Yesus dengan begitu jelas. Apalagi, ketika Yesus berhadapan dengan ibu mertua Simon Petrus yang sakit demam. Yesus menyatakan otoritas-Nya dengan menghardik demam itu hingga demam itu meninggalkan ibu mertua Simon Petrus (Luk. 4:39). Yesus semakin terkenal dan beberapa sudah mulai mengakui otoritas-Nya ketika semua orang di kota itu membawa orang-orang yang menderita berbagai penyakit (Luk. 4:40) serta yang kerasukan setan-setan (Luk. 4:41). Puncaknya ketika setan-setan itu mengetahui dan mengakui secara langsung tentang siapa Yesus: “Engkau adalah Anak Allah.”
Saya membayangkan apa yang dialami Yesus dan mencoba melihatnya dari kacamata manusiawi saya: popularitas. Dalam konteks kita di Indonesia misalnya. Hal-hal spektakuler bisa seketika viral dan hampir seluruh Indonesia bahkan dunia membicarakannya. Belakangan ini nama Ida Dayak cukup viral di sosial media (sosmed). Viralnya Ida Dayak karena pengobatan alternatif yang dilakukannya. Dalam beberapa pemberitaan, ia mengaku bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Ia juga bahkan sempat mengaku jika ia pernah membuat pasien yang asalnya tuli akhirnya bisa mendengar dan berbicara.
Tentu situasi kita saat ini yang cepat sekali menanggapi berita yang berbau spektakuler juga dialami oleh masyarakat dalam konteks kehidupan zaman Yesus pada waktu itu. Siapa yang tidak akan penasaran dan berupaya mencari tahu tentang sosok yang bisa menyembuhkan orang buta, membuat yang tuli bisa mendengar, yang bisu bisa berbicara, bahkan membangkitkan anak seorang janda dari Nain, putri Yairus yang berusia 12 tahun, serta Lazarus saudara dari Maria dan Marta. Siapa yang tidak akan takjub mendengar kisah-kisah itu bahkan setan-setan pun tunduk pada-Nya. Dalam situasi seperti ini, Yesus pasti semakin populer, dielu-elukan dan mendapat sanjungan dari banyak orang. Namun apakah Yesus jatuh dalam sindrom popularitas (Star Syndrome)? Di sinilah poin pentingnya kita kembali dapat belajar dari Yesus.
Yesus tidak seperti orang-orang yang ketika sudah mulai populer, semakin kaya dan dipuja banyak orang, akhirnya lupa diri bahkan berani meninggalkan imannya kepada Yesus demi untuk mendongkrak popularitasnya. Ketika Yesus ditahan untuk terus berada di tempat tertentu, Ia berkata: “Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus” (Luk. 4:43). Di tengah popularitas itu, Yesus tidak kehilangan fokus akan misi-Nya: mewartakan Kerajaan Allah kepada semua bangsa. Setiap hari kita punya godaan yang sama. Ketika kita sibuk mengembangkan diri kita, sibuk dengan pekerjaan kita, dan terus mengejar pencapaian dan target hingga memperoleh reward bahkan pujian, membuat kita terus mengejarnya hingga lupa bahwa kita sebagai pengikut-Nya juga perlu untuk pergi ke suatu tempat yang sunyi (Luk. 4:42). Kita perlu menyempatkan diri berdoa, ada waktu ke Gereja pada hari Minggu dan terus mengandalkan Tuhan dan bukan sebaliknya mengandalkan pujian, rasa hormat dan popularitas.
(RD. Hendrik Palimbo – Dosen STIKPAR Toraja, Keuskupan Agung Makassar)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Mereka yang terpinggirkan – Kita berdoa bagi saudara-saudara kita yang terpinggirkan, dan berada dalam situasi yang tidak manusiawi, semoga mereka tidak diabaikan oleh lembaga-lembaga masyarakat dan tidak dipandang lebih rendah dan kurang diperlukan.
Ujud Gereja Indonesia: Inspirasi pengampunan – Kita berdoa, semoga kita rajin membaca dan menggali inspirasi dari Kitab Suci tentang pertobatan, sehingga kita disadarkan, bahwa manusia siapa pun mempunyai hak untuk diampuni, jika mau menyesali kesalahannya, dan mohon pengampunan dari Tuhan yang Maha Rahim.
Amin

Terima kasih tulisan diatas bagus dan mengingatkan saya untuk tidak mengejar popularitas semata..
SukaSuka