Renungan Harian Misioner
Hari Minggu Biasa XXIII, 10 September 2023
Yeh. 33:7-9; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 13:8-10; Mat. 18:15-20
Kehidupan beriman tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sosial. Sebab apa yang kita imani seyogianya juga kita hayati melalui tutur kata, tindakan, maupun perbuatan terhadap sesama. Hari ini dalam bacaan kitab suci kita diajak untuk merenungkan kembali hal tersebut. Pada bacaan pertama dari kitab Yehezkiel tertulis, “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati!? dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu” (Yeh. 33:8).
Apa yang diwahyukan kepada Nabi Yehezkiel tersebut bukan berarti kita harus ‘mematai-matai’ tindakan orang lain, melainkan kita diajak untuk peduli terhadap sesama kita. Iman yang kita hayati menjadi dasar atas tanggung jawab moral kita kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, terlebih mereka yang dekat dengan kita.
Dalam bacaan Injil, Yesus bersabda, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali…” Yesus mengajak kita untuk mengedepankan perjumpaan pribadi. Kendati sering kali hal ini sulit untuk dilakukan dengan segala alasan, teguran yang disampaikan secara pribadi terhadap sesama yang bersalah, merupakan langkah yang tepat. Dan ketika cara tersebut tidak berhasil, kita disarankan untuk melibatkan orang lain. Namun, sekali lagi, pribadi yang berbuat salah senantiasa dilibatkan.
Seringkali kita melakukan hal yang sebaliknya. Kita begitu bersemangat membicarakan kesalahan orang lain tanpa kehadiran orang yang bersangkutan. Tindakan demikian justru tidak membantu sesama kita, dan malahan membuat kita melakukan kesalahan baru dengan membicarakan kesalahan orang lain.
Saudari-saudara terkasih, Yesus mengajak kita untuk mengasihi, dan menegur sesorang yang melakukan kesalahan secara pribadi merupakan bentuk kasih kita terhadap mereka. Walaupun pada akhirnya segala cara gagal, sebagai anggota umat beriman, kita diajak untuk tetap mendoakan mereka yang melakukan kesalahan, dengan harapan rahmat pertobatan turun atas mereka. Maka marilah kita berefleksi dan melihat ke dalam diri kita masing-masing, bagaimana tindakan kita terhadap pribadi yang melakukan kesalahan. Marilah kita memohon bimbingan Roh Kudus, agar kita dimampukan untuk berani menegur sesama yang berbuat salah dengan penuh cinta kasih. Tuhan memberkati.
(Br. Kornelius Glossanto, SX – Misionaris Xaverian)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Mereka yang terpinggirkan – Kita berdoa bagi saudara-saudara kita yang terpinggirkan, dan berada dalam situasi yang tidak manusiawi, semoga mereka tidak diabaikan oleh lembaga-lembaga masyarakat dan tidak dipandang lebih rendah dan kurang diperlukan.
Ujud Gereja Indonesia: Inspirasi pengampunan – Kita berdoa, semoga kita rajin membaca dan menggali inspirasi dari Kitab Suci tentang pertobatan, sehingga kita disadarkan, bahwa manusia siapa pun mempunyai hak untuk diampuni, jika mau menyesali kesalahannya, dan mohon pengampunan dari Tuhan yang Maha Rahim.
Amin
