Penundaan Jangan Membuat Kita Terlena!

Renungan Harian Misioner
Minggu, 12 November 2023
HARI MINGGU BIASA XXXII

Keb. 6:13-17; Mzm. 63:2,3-4,5-6,7-8; 1Tes. 4:13-18 (panjang) atau 1Tes. 4:13-14 (singkat); Mat. 25:1-13

Penundaan sering membuat manusia terlena. Keterlambatan sering membuat kita tidak lagi siap. Juga berkaitan dengan kedatangan Tuhan, penundaan dan keterlambatan itu menantang sikap kita. Banyak yang coba menebak saatnya Tuhan datang. Sudah ada ribuan usul dan dugaan. Semuanya hanya propaganda dan pembohongan! Padahal, ajaran Tuhan ingin kita menata hidup sekarang. Ajaran tentang masa depan (eskatologi), selalu demi penataan hidup kini dan di sini (etik).

Si Pengantin jelas menunjuk pada Kristus yang akan datang kembali, pada saat-Nya nanti. Dalam dua cerita sebelumnya, kedatangan Kristus itu sifatnya tak terduga (24:43-44) atau terlalu cepat (24:45-51). Dalam cerita ini tekanannya bukan pada ciri tak terduga atau terlalu-cepat, tetapi pada penundaan alias kedatangan yang terlambat. Penundaan seharusnya membuat Saya dan Anda selalu siap untuk menyambut kedatangan-Nya, kapanpun waktu dan saatnya. Penundaan itu berarti juga perjuangan hidup beriman kita di dunia ini diperlama. Kita ditantang untuk bertekun dalam kerutinan dan perjuangan hidup harian. 

Kelima gadis yang bijak menjadi simbol kaum beriman yang selalu mempersiapkan diri. Mereka “bijaksana” sebab melihat ke depan dan siap (ay. 10). Mereka insyaf akan dekatnya akhir zaman, dan karena itu selalu berjaga-jaga dan siap untuknya. Tidak perlu mencap mereka egois karena tidak berbagi minyak. Penolakan mereka untuk berbagi memberi pesan penting: persiapan untuk hari kedatangan Tuhan adalah tanggung jawab pribadi setiap orang dan tidak dapat dialihkan kepada orang lain! Masing-masing harus selalu siap dengan pelita yang bernyala. Kualitas murid seperti ini sudah Yesus tandaskan sebelumnya, “hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat. 5:16). Dalam Injil Matius, “terang/pelita bernyala” dapat mengacu pada perbuatan-perbuatan baik dan sikap moral yang tepat (bdk. Mrk. 4:21; Luk. 11:33). 

Kelima gadis yang bodoh adalah simbol kaum beriman yang tidak siap. Mereka tidak berjaga-jaga, bukan karena mereka tertidur (kelima gadis bijak juga tertidur!), melainkan karena mereka bodoh. Dalam Alkitab, “bodoh” itu bukanlah soal pikiran, melainkan ketidakmampuan menata hidup dan relasi. Akibatnya, iman mereka tidak tangguh, pengharapan mereka tidak teguh, kasih mereka tidak  tulus. Saat kedatangan Kristus itu tertunda, mereka “kehabisan minyak”. Kualitas hidup beriman mereka hanya bernyala di awal pertobatan, tetapi meredup dan padam dalam perjalanan dan perjuangan hidup yang panjang. Pada saat Tuhan akhirnya datang, mereka tidak siap. Kalaupun akhirnya berhasil membeli minyak, mereka tetap saja terlambat. Pintu perjamuan surgawi sudah tertutup rapat. Permohonan “Tuhan-Tuhan…” tidak membuat mereka dikenal Tuhan. Pintu Surga tidak dibuka oleh kata-kata dan rumusan doa, tetapi oleh pelaksanaan sabda Tuhan di sepanjang jalan kehidupan. Kedatangan-Nya yang tertunda adalah ajakan untuk selalu siap. Penundaan bukanlah kesempatan untuk memperbanyak ramalan, tetapi saat bermisi untuk berbagi rahmat dan cinta-Nya!

(Hortensius Mandaru – Pembina Penerjemahan Lembaga Alkitab Indonesia)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja UniversalUntuk Bapa Suci – Kita berdoa untuk Bapa Suci, semoga dalam menjalankan tugas perutusannya, Beliau dapat terus menemani umat yang dipercayakan kepadanya dengan pertolongan Roh Kudus. 

Ujud Gereja Indonesia: Kekerasan seksual – Kita berdoa, semoga institusi-institusi gerejani dapat menciptakan suasana dan rasa aman serta mampu menegakkan protokol yang bisa menjauhkan dan mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap mereka-mereka yang lemah dan rentan. 

Amin

Tinggalkan komentar