Iman dan Ketaatan

Renungan Harian Misioner
Senin Pekan III Prapaskah, 04 Maret 2024
P. S. Kasimirus

2Raj. 5:1-15a; Mzm. 42:2,3; Mzm. 43:3,4; Luk. 4:24-30

Dalam banyak bacaan, kerap kali orang menghadap Tuhan, untuk mendapat anugerah. Sering kali mereka meminta untuk disembuhkan dari sakit. Sebab, itulah hal yang sulit mereka peroleh. Bagi mereka, yang dipentingkan adalah ‘sembuh dari sakit’. Namun tidak jarang, mereka tidak masuk ke dalam bagian penting dalam dunia Israel, yaitu, bahwa dasar permohonan itu haruslah iman; dan bukan sekadar minta sembuh dari sakit. 

Refleksi kita: Apakah kita seringkali hanya minta hal-hal manusiawi, yaitu sembuh dari sakit atau mendapat pemberian yang dibutuhkan? Mintalah iman. 

Bacaan I: 2 Raj. 5:1-15a: Naaman juga minta disembuhkan. Namun dia masih berpendapat ‘mohon disembuhkan sesuai dengan jalan yang dipilihnya sendiri’. Padahal, jalan yang dipilihkan utusan Allah, ya sesuai dengan kekudusan, yang ditentukan. Oleh sebab itu, juga selaras denganj ketentuan Allah. Ketika itu tak dituruti, ya tidak sembuh. Namun ketika syarat utusan Tuhan itu dituruti, maka dia sembuh. 

Refleksi kita: sejauh manakah kita memohon agar permohonan kita dipenuhi Tuhan, namun seturut persyaratan kita? Bukankah kita memohon kepada Tuhan. Jadi, ya hendaknya kita menyesuaikan diri dengan persyaratan Tuhan. Sejauh manakah kita mau mengatur Tuhan? Ataukah kita siap taat kepada Allah? Sebab, kesesuaian dengan kehendak Allah itu merupakan syarat dari iman kita. Marilah kita menyesuaikan diri dengan kehendak Allah. 

Mazmur 42:2.3: Berdoalah Mazmur, bukan hanya dengan kata dan suara, tetapi membuka hati, agar Sabda Allah meresapi hati kita. Mazmur 43:3,4: Untuk itu, berdoalah agar mata maupun hati kita dibuka, agar dapat didatangi Allah. Hanya kalau hati kita dan mata hati kita diterangi Allah, maka kita memperoleh pesan Allah dengan benar; bukan seturut keinginan saya sendiri saja. 

Bacaan Injil: Luk. 4:24-30: Nabi Elia dan Elisa adalah nabi-nabi yang amat agung dan dihormati Israel. Mereka diberi bakti, karena Elia dan Elisa itu penuh iman kepada Allah dan bukan semau dirinya sendiri. Dalam kerangka Allah, Yesus juga mau tunduk kepada pengutusan Bapa. Hanya dengan demikian, maka pengutusannya dapat jalan. 

Refleksi kita: Marilah kita menyatu dengan Sang Putra, untuk tidak mencari ketenaran sendiri, melainkan hendaknya hanya menghadap ke arah Bapa dan melaksanakan rencana penyelematan-Nya. Begitulah terlaksana PENGUTUSANNYA.

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja Universal: Para martir zaman sekarang – Semoga mereka yang mempertaruhkan hidup demi pewartaan Injil di berbagai belahan dunia mengobarkan Gereja dengan keberanian dan semangat misioner mereka. 

Ujud Gereja IndonesiaKeluarga dengan anak berkebutuhan khusus. Semoga orang tua dan keluarga dengan anak berkebutuhan khusus dapat memaknai kehadiran anak mereka sebagai anugerah dan sarana untuk mewujudkan kasih Allah secara istimewa. 

Amin

Tinggalkan komentar