Mgr. Anton: Misionaris tanpa Mercy Bukan Misionaris

Pertemuan Nasional pertama Teens School of Mission atau T-SoM 4, diadakan pada tanggal 07-09 April 2024, bertempat di Bumi Silih Asih, Keuskupan Bandung. 13 Keuskupan yang ikut dalam program misi remaja ke-4 ini adalah: K. Bandung, K. Bogor, K. A. Semarang, K. Manado, K. A. Makassar, K. Amboina, K. Padang, K. Sibolga, K. Pangkal Pinang, K. A. Palembang, K. Tanjung Selor, K. Sintang, K. Sanggau. 

Pernas pertama mengangkat tema “Bandung Friendship”. Persahabatan yang dimaksudkan bukan hanya perkenalan sahabat-sahabat baru dari 13 keuskupan, namun juga persahabatan ke luar, sebagaimana Yesus menjadi Sahabat bagi semua orang, termasuk mereka yang sakit dan menderita. 

Kegiatan hari pertama dimulai dengan membawa para remaja berkeliling kota Bandung, berfoto-foto dan singgah di museum Geologi.

Di sore harinya, kegiatan dilanjutkan dengan misa pembukaan yang dipimpin oleh Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, Uskup Keuskupan Bandung sekaligus Ketua Konferensi Waligereja Indonesia. Sebelas imam sekaligus Dirdios Karya Kepausan Indonesia menjadi konselebran, yaitu: RP. Petrus Maman Suparman, OSC, RD. Yosef Irianto Segu, RD. Marson Reynold Pungis, RP. Alfonsus Widhiwiryawan, SX, RP. Yohanes Sigit Winarno, SCJ, RD. Yosefus Anting Pattimura, RD. Gregorius Eko, RD. Fransiskus Yunarvian Dwi Putranto, RD. Patrisius Piki, RD. Ferdinandus Paulus Niki Towary, RD. Antonius Lopes Sirken. Sementara Direktur Nasional KKI, RD. M Nur Widipranoto berhalangan hadir pada acara pembukaan ini karena masih membawakan SOMA (School of Missionary Animators) di Seminari Tinggi Ritapiret.

Dalam homilinya Bapa Uskup mengatakan, setelah mengikuti SEKAMI (Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner) dan T-SoM, para remaja juga dipanggil menjadi rasul kerahiman. Bukanlah suatu kebetulan Pernas pertama T-SoM 4 ini dimulai bertepatan dengan Minggu Kerahiman Ilahi karena sesungguhnya T-SoM juga merupakan Teens School of Mercy. Para remaja diutus untuk menjadi rasul kerahiman ilahi atau rasul-rasul cilik belas kasih Allah. 

Bapa Uskup menjelaskan bahwa Yesus mau setiap orang mengalami kerahiman ilahi. Karya belas kasih menurut Gereja ada 14, yaitu: 7 karya belas kasih rohani (menasihati orang yang ragu-ragu, mengajar orang yang belum tahu, menegur pendosa, menghibur orang menderita, mengampuni orang yang menyakiti, menerima dengan sabar orang yang menyusahkan, berdoa bagi orang yang hidup dan mati) dan 7 karya belas kasih jasmani (memberi orang yang lapar/haus, perlindungan pada orang asing, mengunjungi orang di dalam penjara, merawat orang sakit, menguburkan orang mati). Mgr. Anton menekankan karya belas kasih itu sesuai dengan semangat SEKAMI: 2D2K (Doa, Derma, Kurban dan Kesaksian). 

Di akhir homili, Bapa Uskup menegaskan bahwa dengan mewartakan Injil, dengan menolong orang, dengan berbuat sesuatu sesungguhnya misionaris tanpa mercy bukanlah seorang misionaris. Orang tergerak menjadi misionaris karena tergerak oleh belas kasih Tuhan. Seperti Yesus selalu pergi berbuat baik karena belas kasih-Nya yang luar biasa. 

Di penghujung misa, RP. Maman memperkenalkan para peserta T-SoM 4 kepada Bapa Uskup. Seusai misa para peserta berfoto dengan Bapa Uskup, para imam, para pendamping dan juga tidak ketinggalan 2 orang suster Dirdios KKI, yaitu: Sr. Juliva Motulo, DSY dan Sr. Dionisia Siringoringo, OSF.

(Budi Ingelina – Biro Nasional Karya Kepausan Indonesia)

Satu respons untuk “Mgr. Anton: Misionaris tanpa Mercy Bukan Misionaris

  1. Anak-anak kita adalah TUNAS GEREJA KATOLIK, seyogiannya kita jaga, pelihara, dan bimbing agar tetap melekat pada Pokok Anggur Yang Benar; Jesus Kristus.

    Suka

Tinggalkan komentar