Beriman Berarti Bersaksi!

Renungan Harian Misioner
Minggu 14 April 2024
HARI MINGGU PASKAH III

Kis. 3:13-15,17-19; Mzm. 4:2,4,7,9; 1Yoh. 2:1-5a; Luk. 24:35-48

Mata hati dan budi para murid sudah penat oleh ketakutan, terpejam oleh kesedihan. Bagi mereka, salib menjadi kata akhir! Pesan kebangkitan bagaikan angin lalu. Bahkan, Tuhan yang sudah hadir pun tetap tidak membuat mereka percaya. Suasana hati mereka bercampur-baur antara suka-cita dan masih-heran. Entahlah mana yang dominan! Lukas tampaknya ingin mengajar kita tentang apa itu iman. Pertama, beriman berarti berani melampaui kepastian otak. Mengapa? Sebab, keraguan itu pasti selalu ada. Bahkan keraguan itu menjadi bagian hakiki dari pengembaraan iman. Para murid harus berani membuat lompatan: percaya kendati bimbang. Iman selalu penuh ketegangan dan perjuangan: antara percaya dan tidak, antara ingin pasti dan penyerahan diri, antara kembara akal dan ketaatan jiwa. Pokoknya, meragu itu perlu, tidak perlu malu! 

Kedua, iman bukan hanya upaya kita. Hanya Tuhan yang mampu mendorong kita agar membuat lompatan iman. Yesus mengerahkan segala cara untuk membuat para murid-Nya percaya bahwa kebangkitan itu nyata. Pertama-tama dengan sapaan-Nya. Sementara para murid sibuk berdiskusi, Yesus menginterupsi: “Damai-sejahtera bagi kalian!”. Salam damai dari Tuhan itu mengusir kebingungan, galau dan ketakutan. Yesus juga meyakinkan mereka dengan kehadiran-Nya. Ia datang dan berdiri di tengah mereka. Kebangkitan itu bukan khayalan dan lamunan para murid, tetapi kehadiran nyata Tuhan. Para murid mengalami dam merasakan kehadiran nyata itu. Mereka diundang untuk “melihat” dan “meraba” diri-Nya. Yesus bahkan makan di hadapan mereka. Makan “di hadapan mereka” membuktikan bahwa Yesus hidup, secara nyata dan jasmaniah. Akhirnya, semua gestur-Nya itu Yesus jelaskan dengan Kitab Suci. Iman akan kebangkitan hanya dapat dipahami dalam terang Alkitab. Peristiwa Yesus adalah peristiwa “penggenapan”: semua yang dikatakan tentang Dia “harus” digenapi. 

Ketiga, iman selalu juga berarti penugasan. Terlalu sering kita menganggap iman sebagai konsumsi dan urusan pribadi saja. Padahal, beriman selalu berarti bersaksi. Semua murid, dahulu dan kini, dipanggil untuk bersaksi tentang Tuhan yang wafat dan telah bangkit. Itulah Berita Gembira bagi dunia. Mengapa? Karena dengan kebangkitan-Nya, Tuhan membuka pintu pengampunan. Dengan kebangkitan Yesus, pengampunan dari Allah sekarang tersedia bagi semua, secara percuma, berlimpah, sekali untuk selamanya. 

(Hortensius Mandaru – Pembina Penerjemahan Lembaga Alkitab Indonesia)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja UniversalPeran perempuan – Semoga martabat dan nilai tinggi perempuan diakui di setiap budaya, dan semoga diskriminasi yang mereka alami di berbagai belahan dunia diakhiri. 

Ujud Gereja IndonesiaKesehatan mental – Semoga masyarakat kita memiliki kepekaan untuk mengenali orang dengan masalah kesehatan mental dan orang dengan gangguan jiwa, serta melakukan upaya nyata untuk membantu mereka agar tetap memelihara imannya.  

Amin

Satu respons untuk “Beriman Berarti Bersaksi!

  1. Renungan dari situs ini bisa jadi selama seminggu akan sama dengan renungan dari situs LBI, karena penulisnya sama.

    Alangkah lebih baik dua situs besar ini (KKI dan LBI) tidak secara bersamaan menampilkan penulis renungan yang sama.

    Maturnuwuun.

    Berkah Dalem.

    Suka

Tinggalkan komentar