Renungan Harian Misioner
Jumat Biasa IX, 07 Juni 2024
HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS
Hos. 11:1,3-4,8c-9; MT Yes. 12:2-3,4bcd,5-6; Ef. 3:8-12,14-19; Yoh. 19:31-37.
Sahabat misioner terkasih,
Hari ini kita merayakan Hati Yesus Yang Mahakudus. Kita merayakan Tuhan yang sungguh sayang dan mengasihi. Tuhan sungguh sayang akan yang kecil, yang sederhana, yang tak berarti. Ia sayang kepada semua makhluk ciptaan-Nya. Kita adalah anak kesayangan-Nya. Tuhan menaruh hati kepada kita. Ia tampakkan dan wujudkan betapa besar kasih sayang-Nya itu kepada kita dalam Yesus Kristus, Putra-Nya. Allah merelakan Putra-Nya terkasih menderita sengsara dan wafat disalib demi keselamatan kita.
Belas kasih kerahiman Allah itu disampaikan dalam bacaan I misa hari ini, yang dikutip dari Nubuat Hosea, “Akulah yang menyembuhkan mereka (Israel). Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih […] Hati-Ku berbalik dari segala murka. Belaskasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala […] Aku tidak datang untuk menghanguskan.” Allah adalah Tuhan yang penuh belas kasih. Kasih-Nya tidak membiarkan kita manusia binasa. Kasih-Nya adalah kasih yang mendidik, yang tidak membiarkan kita berjalan menuju kebinasaan, melainkan kasih yang membuat kita tangguh menuju keselamatan, damai dan bahagia.
Belas kasih kerahiman Allah yang diungkapkan dalam Nubuat Hosea itu ditegaskan lagi oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (bacaan II misa hari ini). Paulus tunjukkan bahwa dalam diri Yesus Putra-Nya Allah membuka diri terhadap segala ciptaan. Manusia diberi kehidupan ilahi. Paulus katakan, “Di dalam Dia (Yesus Kristus), kita beroleh keberanian dan jalan menghadap kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya […] Ia menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu, Kristus diam di dalam hatimu, dan kamu berakar serta beralas dalam kasih […] memahami betapa lebar dan panjangnya, dan betapa tinggi dan dalamnya kasih Kristus.” Kebesaran dan kedalaman kasih Kristus itu diwujudkan dengan kerelaan-Nya menanggung penderitaan dan wafat di salib.
Dikisahkan dalam Injil hari ini bahwa Yesus wafat disalib pada hari persiapan Paskah. Lambung-Nya ditikam tombak oleh prajurit dan keluarlah darah serta air dari lambung-Nya. Inilah lambang kerahiman Allah, lambang hati Allah yang penuh kasih mendamaikan dan menyelamatkan. Dengan hati-Nya yang mahakudus, Yesus membawa damai, kekuatan, harapan dan kebahagiaan kepada setiap orang yang datang menjumpai-Nya. Dengan penuh kasih cinta kita memandang Yesus, yang hati-Nya tertembus tombak di salib.
Demikianlah Yesus, manusia untuk sesama, man for others. Bagai seorang ibu terhadap anaknya, demikian itu Tuhan Yesus mencurahkan kasih cinta-Nya setotal-totalnya kepada kita. Hati-Nya begitu luas, begitu besar, begitu lembut, dan begitu kuat untuk membawa kita ke dalam damai dan bahagia sejati. Marilah belajar dari Hati Yesus, kita berlatih menaruh hati kepada sesama supaya Tuhan semakin kerasan bersemayam dalam hati kita. Kita juga berdoa supaya kita semakin berakar dalam cinta kasih Kristus dan hati kita seperti hati Yesus. Marilah kita berikan hati untuk mencintai, kita ulurkan tangan untuk melayani, supaya semakin banyak orang merasakan dan mengalami kasih Allah yang begitu besar dan kuat melalui pelayanan kita.***NW
(RD. M Nur Widipranoto – Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia)
Doa Persembahan Harian
Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.
Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:
Ujud Gereja Universal: Para migran yang meninggalkan negeri mereka – Semoga para migran yang meninggalkan negeri mereka karena perang atau kelaparan, terpaksa melakukan perjalanan penuh bahaya dan kekerasan, menemukan sambutan dan peluang baru di negara-negara yang menerima mereka.
Ujud Gereja Indonesia: Orang muda – Semoga Gereja semakin terbuka dan mampu merangkul kaum muda di tengah proses pembentukan identitas, sehingga mereka dapat mengalami Kristus sebagai Sahabat dan Juru Selamat.
Amin
