Menggapai ALLAH

Renungan Harian Misioner
Jumat, 09 Agustus 2024
P. S. Teresia Benedikta dr Salib

Nah 1:15; 2:2; 3:1-3.6-7; MT Ul 32:35cd-36ab.39abcd.41; Mat 16:24-28

Sejak sangat dini, setiap orang belajar menggapai ke luar dirinya. Melalui matanya, bayi memandang ke depan, mencari suatu pandangan di depan sana. Melalui tangannya, anak berusaha menyentuh ibu dan ayahnya. Telinga dipakai anak untuk menggapai apa pun yang bersuara, yang ada di sekitarnya. Segala indra dimanfaatkan anak untuk mendekatkan hal-hal yang jauh. Hal-hal yang “jauh sekali”, sampai ke ufuk langit, merupakan hal yang memikat: sampai pada sesuatu titik, seorang anak disapa ibu dan ayahnya, untuk berdoa sebelum makan, mengarahkan hati pada Pribadi, yang “dicari dan mencarinya” untuk berkomunikasi dengan doa pendek sekalipun. 

Refleksi Kita: kapan kita mulai doa? 

Bacaan pertama menggambarkan umat beriman, yang lambat laun menjadikan Yang Mahaagung sebagai arah mata-hati sehingga membawa seluruh dirinya. Umat beriman saling mengajak sampai ke lubuk hati yang terdalam untuk melampaui segala yang tersentuh oleh pancaindra  sejauh-jauhnya. Cakrawala, yang amat luas itu mengajak manusia, untuk menggapai Dia, yang memberi segala, mengisi semua, memperkayanya sampai ke arah, yang Agung. 

Refleksi Kita: bersama para anak cucu Abraham-Ishak-Yakub, kita dijamah oleh Allah, Yang Mahakuasa, Mahabijak dan Mahakasih, sehingga hayatnya penuh dengan anugerah kehidupan, yang diresapi, tanpa terpenuhi. Marilah kita membuka hati kita kepada Yang Mulia. 

Bacaan Injil merentangkan gambaran hidup manusia untuk MENGGAPAI ALLAH, atas inspirasi Ruach Allah, sampai ke ujung cakrawala, yang memperkaya dan memper-subur hidupnya berlimpah ruah. Segala kelaparan dan kehausan hayatnya ingin dilimpahi dengan Sang Mahaagung, yang mau digapainya terus-menerus. Kehausan itu mau dipenuhi dengan kata, pemikiran, tindakan, tanpa dapat dilengkapinya sendiri, karena Allah saja-lah yang dapat memberinya. 

Refelksi Kita: segala, yang kita inginkan, hanyalah dapat dipenuhi oleh Allah, Sang Pencipta segala, sampai berlimpah ruah. Dalam pengarahan itulah Allah mengirim Sang Putra untuk menggapai Allah. Mari kita berdoa: Tuhan penuhkan Rahmat-Mu. 

(RP. B.S. Mardiatmadja, SJ – Dosen STF Driyarkara)

Doa Persembahan Harian

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Gereja UniversalBagi para pemimpin politik – Semoga para pemimpin politik melayani rakyat, bekerja untuk pembangunan manusia seutuhnya dan kebaikan bersama, serta memberikan perhatian lebih kepada orang miskin dan mereka yang kehilangan pekerjaan. 

Ujud Gereja IndonesiaPemberdayaan keluarga berpenghasilan rendah – Semoga paroki-paroki dapat meningkatkan keberdayaan keluarga-keluarga berpenghasilan rendah dengan langkah-langkah konkret, seperti menyediakan layanan koperasi, memberikan ilmu pengelolaan keuangan, serta meningkatkan semangat kewirausahaan. 

Amin

Tinggalkan komentar