Perutusan Gereja
“Solidaritas Misioner dan Pelayan cinta kasih”
dalam konteks
40 Tahun Karya Kepausan Indonesia (2011)
Pendahuluan
Perutusan Gereja merumuskan panggilan hidupnya berdasarkan “rencana cinta kasih Allah” bagi manusia menuju perwujudan “peradaban kasih” dalam dunia ini. Gerakan misioner ini memusatkan diri pada wawasan yang mengajak persekutuan gerejawi untuk menghadirkan “kesadaran, kerjasama dan solidaritas misioner”, terutama dalam upaya gerejawi untuk turut serta berjuang demi kesejahteraan bersama. Panggilan perutusan ini hendaknya menjadi bagian utuh dari perjalanan spiritual Kristiani dalam peziarahan di dunia ini.
Persekutuan gerejawi yang hadir dalam perjuangan dunia ini tidak mungkin melalaikan kenyataan hidup yang tak layak secara manusiawi. Gereja berada bersama perjuangan dan harapan yang terukir dalam hati manusia. Gereja terhimpun dari manusia yang mempercayakan diri pada Yesus Kristus, Penyelamat dan Penebus dunia.
Nyatanya, Karya Kepausan Indonesia mengungkapkan bagaimana menggerakkan persekutuan gerejawi dalam memajukan hubungan karya misioner sampai usianya yang ke-40 tahun (2011). Suatu pejalanan panjang dalam memajukan kesadaran, solidaritas dan kerjasama misioner dalam Gereja kita di Indonesia.
Keterlibatan Misioner Kristiani
Dalam masa akhir-akhir ini, dunia terhentak beberapa kali dengan malapetaka yang berkekuatan dahsyat seperti gempa, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor dan aksi teror, yang mengakibatkan korban jiwa dan meninggalkan sejumlah besar orang tanpa tempat tinggal dengan kekurangan kebutuhan mendasar manusiawi. Ribuan orang yang melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan demikian melakukannya dengan tulus hati, karena mendapat ilham dari perutusan Yesus Kristus yang memanggilnya untuk mengasihi Allah dan mencintai sesama. Cinta kasih sudah menjadi pedoman arah dan kaidah dasar yang mendorong mereka menghayati hidup dengan komitmen manusiawi demi kebaikan orang-orang yang tidak beruntung dan terabaikan dalam masyarakat kita.
Orang Kristiani menemukan pelayanan kasih sebagai suatu kerasulan kemanusiaan yang mendorong komitmen misioner bersama demi terwujudnya masyarakat yang adil, sejahtera dan bersaudara. Mereka juga mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang membagikan pengetahuan dalam budaya dan sains, dan memampukan orang untuk mengembangkan bakat serta melatih diri dengan ketrampilan-ketrampilan profesional, yang kelak membantu untuk menjalani hidup yang bermartabat. Mereka berupaya untuk meringankan kemiskinan dan kemelaratan, mencabut akar kebodohan dan mencari jalan bersama untuk menghapus pelanggaran dan penindasan manusia. Keterlibatan mereka dalam aneka bidang kehidupan sosial mendorong serta menyemangati semangat misioner dalam sikap rela berbagi. Gerakan misioner dalam Gereja kita mulai dengan memberikan perhatian pada pendidikan iman terbuka bagi anak-anak sebagaimana tanggungjawab Serikat Kepausan Misioner bagi anak-anak.
Persoalan misioner kemanusiaan
Panggilan akan cinta kasih juga menghantar kepada upaya menemukan akar persoalan kemanusiaan dari kemiskinan dan kemelaratan berhubungan dengan solidaritas dan kerjasama misioner. Perutusan misioner juga mengembangkan kemampuan umat beriman Katolik untuk mengatasi beban hidup serta mengupayakan perbaikan hidup dengan dayanya sendiri tanpa suatu ketergantungan yang menetap dalam perjalanan hidup ini. Jawaban Kristiani terhadap keadaan yang menyedihkan dari jumlah besar sesama sudah membangkitkan aneka cara berpikir dan bertindak, dan menghadirkan gambaran Gereja misioner secara baru. Kehadiran Gereja akan sangat berarti, jika Gereja bertindak sebagai suatu tanda yang dapat mempercepat dan memajukan upaya-upaya pemajuan kerjasama misioner guna menumbuhkan semangat bersaudara dalam karya perutusan.
Gagasan teologis menggambarkan Gereja sebagai suatu sakramen, yaitu suatu tanda yang mengungkapkan Gereja sebagai pernyataan cinta kasih dan pelayanan kemanusiaan. Kebenaran ungkapan ini memperlihatkan kehadiran Gereja yang melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan kasih: Gereja memberikan pelayanan tulus demi mengembangkan kerelaan serta kemurahan hati umat dalam membangun kerjasama bersekutu dalam Yesus Kristus. Inilah karya misioner kemanusiaan yang terjalin dengan evangelisasi yang utuh dan terbuka.
Cinta kasih dan perutusan misioner
Persekutuan hidup Kristiani mendapat peneguhan diri dalam penegakan persaudaraan. Oleh karena itu, ketika Gereja mewartakan Injil, maka ia memperlihatkan kepada manusia, atas nama Kristus, martabat dan panggilannya untuk persekutuan pribadi dengan Kristus. Gereja mengajarkan tanggungjawab misioner dan cinta kasih yang sesuai dengan kebijaksanaan Ilahi. Dalam kebersamaan, mereka berupaya bersekutu dalam kerjasama efektif untuk mendobrak semua sikap ingat diri dan memajukan kesadaran misioner bagi semua. Upaya-upaya perutusan dan partisipasi misioner dalam transformasi dunia sepenuhnya terungkap sebagai suatu panggilan konstitutif dari pewartaan Injil. Perutusan Gereja demi penebusan umat manusia adalah tanggungjawab setiap umat beriman Katolik demi kebaikan bersama dan terbagi. Pelayan pastoral tidak dapat menyampaikan Kabar Baik tanpa membangun dalam dirinya suatu sikap rela bekerjasama misioner sebagai saudara-saudari Yesus Kristus.
Sri Paus Paulus VI dalam ensikliknya “Evangelii Nuntiandi” menegaskan evangelisasi sebagai suatu proses yang erat berhubungan dengan karya keadilan. Menurut beliau, evangelisasi adalah suatu “proses yang rumit dan mencakup pelbagai unsur: pembaruan kemanusiaan, kesaksian, pewartaan langsung, keterlibatan batiniah, jalan masuk ke persekutuan, penerimaan tanda-tanda, prakarsa apostolik. Unsur-unsur ini dapat muncul berlawanan satu sama lain, bahkan sesungguhnya saling mengucilkan. Nyatanya, mereka semua saling melengkapi dan saling memperkaya” .
Pelayanan misioner Kristiani dalam Gereja Katolik akan cinta kasih tidak dapat disamakan dengan sembarang lembaga kesejahteraan sosial. Pelayanan perutusan Kristiani adalah ungkapan spesifik akan dan jawaban kepada kasih Allah yang dianugerahkan kepada kita. Gereja harus dengan cakap bersikap hati-hati terhadap ideologi-idelogi duniawi dan menegakkan serta melindungi perutusan transenden, hubungan vital antara pewartaan Injil dan solidaritas misioner, serta antara cinta kasih dan praktek hidup yang saling membantu dan saling melengkapi.
Perutusan misioner sejatinya terpaut pada perintah baru, yaitu kasih Allah yang melibatkan kasih akan sesama. Kecenderungan-kecenderungan dalam Gereja untuk mengarus-utamakan cinta kasih dalam konteks panggilan Yesus sama sekali tidak meremehkan perjuangan akan keadilan bagi semua. Gereja harus menyampaikan pesannya dalam rumusan positif, terutama sebagai pesan kasih. Jika perutusan misioner dipahami menurut wawasan biblis, maka tanggungjawab misioner akan seirama dengan penegasan akan cinta kasih. Gereja dipandang sebagai tanda cinta kasih tanpa melalaikan perjuangan akan kemandirian sebagai karya membebaskan Allah yang menuntut kerjasama dari pihak manusia dalam semangat Injil. Gereja harus menghadirkan hidup publiknya tidak serupa dengan kekuatan politik. Gereja hendaknya membentuk hati nurani dan menggerakkan persekutuan hidupnya, utamanya kaum awam, untuk menetrapkan pengajaran Injil dalam praktek hidup, khususnya dengan semangat kerjasama serta solidaritas misioner.
Upaya bersama dalam perutusan misioner
Dalam dunia yang berciri-khaskan kemiskinan dan pelanggaran hak hidup serta ketidak-adilan, bahwasanya Yesus mewartakan pesan-Nya akan cinta kasih yang melayani kemanusiaan. Yesus mewartakan Keadilan Allah guna membangkitkan kesadaran untuk membawa perdamaian di lingkungan hidup manusia. Yesus menyampaikan pewartaan akan keselamatan yang mencakup seluruh keberadaan manusiawi sekarang dan akan datang. Oleh karena itu, berhadapan dengan aneka penderitaan dan ketidak-adilan, Gereja dalam dunia sekarang ini dengan daya misioner mengingatkan kebenaran gambaran dirinya sebagai tanda keselamatan. Perutusan misioner secara mendasar adalah suatu cara hidup baru, a new way of life, suatu hidup harian yang kita terima dari Allah.
Kehadiran Gereja dalam tata dunia selayaknya menyapa transformasi kepribadian kemuridan ke dalam keserupaan dengan Kristus. Keselamatan dalam Kristus menyerapkan kita ke dalam sumber tersembunyi dari kasih ilahi yang membawa hidup Allah ke dalam hidup kita sendiri, baik pribadi maupun bersama-sama sebagai satu tubuh. Persoalannya, perhatian kita seharusnya berpusat pada tata baru dari hidup yang kita miliki sekarang dalam Yesus Kristus yang menegaskan panggilan misioner kita.
Pandangan teologi tentang persoalan kemanusiaan
Kemuridan Yesus Kristus berarti membebaskan diri dari kungkungan di mana kaum penderita, kaum miskin, kaum terpinggirkan, kaum tertindas dan kaum tercecer telah ditempatkan oleh keputusan kemanusiaan(politik, ekonomi, social, budaya) yang keliru. Gereja peduli akan sisi lain dari sejarah sebagai perjumpaan dengan spiritualitas Kristiani di mana praksis dari Allah dan Gereja dihubungkan dengan mereka yang berada di sisi lain dari sejarah. Gereja melibatkan diri dalam upaya menegakkan perutusan keadilan dalam masyarakat, supaya semua orang memperoleh kembali martabat yang setara sebagai ciptaan serupa dengan gambaran Allah sendiri.
Rasisme adalah suatu kejahatan yang harus diperangi dan dicabut dari masyarakat sampai ke akar-akarnya. Itulah kejahatan yang tidak hanya menyentuh beberapa individu, tetapi bercorak menyebar serta menindas pada semua bidang kehidupan manusia. Rasisme bukan hanya menyebabkan suatu kepedihan pribadi, tetapi mengembangkan lingkungan yang menindas terus menerus akibat diskriminasi.
Gagasan gerejawi di Asia lebih memperhatikan kodrat dari masyarakat-masyarakatnya yang diciri-khaskan oleh keadaan pluralisme agamawi dan keragaman budaya. Oleh karena itu, panggilan perutusan umat Katolik harus melibatkan diri dalam realitas sosio-budaya guna memajukan kebijakan-kebjiakan yang menghormati dan menghargai keanekaragaman. Sewaktu gagasan gerejawi menelisik realitas sosial dan budaya, Gereja menemukan keberadaan iman kepercayaan religius yang terbalut oleh kemiskinan dan keterbelakangan. Guna memahami dan mengakui kepercayaan religius dan praktek hidup orang, Gereja perlu mengupayakan dialog dengan agama-agama lain dan memajukan kesaling-pengertian dalam keselarasan budaya demi memajukan perjuangan akan kemandirian hidup.
Gagasan “pembebasan” sesudah Konsili Vatikan II, memusatkan perhatian pada upaya untuk menegakkan kemanusiaan dalam dunia ini. Persoalan keselamatan dipandang sebagai bagian utuh dari perjuangan melawan ketidak-adilan dalam masyarakat dunia. Konsili Vatikan II, seraya menyerukan pembaruan dalam hidup Kristiani, mengungkapkan suatu visi yang jelas akan perutusan kemanusiaan, biarpun sampai sekarang ini Gereja belum sepenuhnya menjawab panggilan Konsili, yaitu membaca tanda-tanda jaman dan membawa kesetaraan bagi semua. Visi kesetaraan sosial gerejawi yang dianjurkan dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tetap mendesak. Nyatanya, Gereja Katolik telah membuktikan diri tidak seutuhnya tanggap untuk mengangkat praktek kebijakan yang perlu untuk melakukan kemajuan berarti menuju pelaksanaan visi misioner tersebut.
Gereja kita perlu memperhitungkan bahwa kesempatan yang diwartakan Yesus hanya dapat terlaksana dengan menumbuhkan bentuk hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Persoalannya, gagasan teologis tertentu mengikuti lebih gaya gerakan sekular yang tidak punya hubungan dengan atau pun mengabaikan dimensi spiritual. Karya Kepausan Indonesia yang juga peduli dengan persoalan material tetap perlu menyadari perutusan spiritualnya, agar tidak jatuh pada lingkungan yang serupa.
Makna keutamaan Kristiani dalam perutusan misioner
Pemikiran Gereja Katolik sesungguhnya “built-in” dengan praktek keutamaan Kristiani, utamanya cinta kasih, guna memperlancar pemenuhan pembaruan perutusan gerejawi dalam hidup ini. Keutamaan Kristiani akan menghasilkan jati diri keterlibatan perutusan Kristiani dalam hidup sosial, selaras dengan cinta kasih.
Agar Gereja Katolik menjadi berhasil dalam menghadirkan pembaruan dunia menurut visi misionernya, maka Gereja harus memperhatikan paroki, karena paroki dapat menjadi suatu persekutuan yang kuat dalam pelbagai segi hidup manusia. Dalam persekutuan iman di paroki, orang mendapat pembentukan diri secara moral manusiawi dengan pengalaman-pengalaman yang berpegang pada bentuk-bentuk historis dari pedoman yang memberikan bimbingan etis dalam antar-hubungan sosial, dengan mempraktekkan kebenaran tentang hidup manusia yang terungkap dalam nilai-nilai seperti kesetaraan, hormat dan martabat.
Gereja dalam gagasan teologisnya merumuskan tema perutusan misioner sesuai dengan keadaan hidup dalam masyarakat. Semuanya bertujuan membentuk suatu visi misioner masa depan dari masyarakat yang menjamin kemandirian terbuka bagi semua dalam cakrawala kesejahteraan bersama. Dengan belas kasihan mendalam bagi sesama yang berkekurangan, gagasan pembaruan perutusan mendesakkan solidaritas misioner dengan menekankan praksis iman daripada teori yang tidak praktis. Gagasan perutusan ini mengajak Gereja untuk suatu komitmen yang lebih injili, sejati dan efektif bagi “kemerdekaan anak-anak Allah”. Tujuannya adalah suatu penciptaan baru berkelanjutan, suatu cara baru menjadi manusia, suatu revolusi budaya yang berkelanjutan secara manusiawi.
Dimensi perutusan Kristiani yang transenden harus menjadi dasar yang jelas, agar tujuan kehadiran Gereja terpenuhi dan terwujud dalam persaudaraan sejati. Guna mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab di masa depan, visi perutusan misioner harus mempunyai mutu seperti sejarah bersama, kesaling-tergantungan, jati diri bersama dan pluralisme. Gereja perlu membingkaikan kembali pendekatan perutusan misioner berdasarkan gagasan etika sosial.
Pengajaran misioner Katolik menunjukkan gambaran sebagai suatu kumpulan keutamaan-keutamaan atau prinsip-prinsip bahwa Gereja harus berjuang untuk berbagi dengan dunia. Gereja berpandangan bahwa praktek keutamaan yang berdasarkan suatu hidup bersekutu dengan Allah akan mengarahkan persekutuan gerejawi kepada suatu keadaan yang lebih adil dan setara. Solidaritas, belas kasihan dan keramah-tamahan merupakan beberapa keutamaan yang rekam jejaknya berguna bagi kelahiran kembali dari perutusan misioner, seirama dengan cinta kasih seturut suri teladan Yesus Kristus.
Makna Cinta kasih dalam solidaritas misioner
Perutusan misioner Kristiani akan kemandirian terbuka hanya akan berarti, jika perutusan itu mencakup keutamaan solidaritas. Seringkali dalam menyampaikan tuntutan akan perutusan misioner dan membangun suatu cara hidup baru gerejawi dalam kesetaraan, solidaritas dilupakan karena perhatian akan pola pikir “perubahan”. Bila kita memahami Gereja sebagai suatu tanda dari cinta kasih, para anggotanya akan melibatkan diri dalam mempraktekkan keutamaan ini dan pada gilirannya akan menghasilkan hadirnya kesetaraan dalam perutusan Injil: semua keutamaan Kristiani mengarah kepada kesejahteraan bersama, yang sangat tepat seirama dengan panggilan membangun persekutuan.
Umat Kristiani wajib mengusahakan suatu kesadaran akan sesama “gerejawi” yang berkekurangan untuk menghadirkan ikatan-ikatan baru dan memelihara hubungan yang bernafaskan dialog dan kesaling-tergantungan dalam semangat kerjasama misioner. Dalam sebuah dunia global, manusia mau tidak mau berada dalam hubungan satu sama lain. Solidaritas misioner menuntut bahwa struktur gerejawi mengalami perubahan demikian rupa, sehingga kesaling-tergantungan menjadi suatu hubungan positif yang secara misioner menghargai martabat manusiawi dari semua orang.
Solidaritas misioner berakar dalam penemuan akan kenyataan dari kesaling-tergantungan manusiawi dan dalam menjaga perkembangan dari hubungan yang saling melengkapi demi mengadakan perubahan dalam perutusan gerejawi.
Makna Cinta kasih dalam belas kasihan
Solidaritas misioner bertujuan untuk transformasi hidup iman yang bersekutu, sedangkan belas kasihan merawat serta menyertai harapan sesama yang berkekurangan. Belas kasihan menekankan dimensi afektif misioner dari perjumpaan dengan mereka yang berkekurangan. Belas kasihan perlu untuk menciptakan prasyarat emosional demi berkembangnya solidaritas persekutuan gerejawi. Bila seseorang ikut merasakan bersama orang lain dalam kekurangan, maka dia memahami beratnya dan tergerak untuk melibatkan diri dalam berkarya untuk memajukan gerakan kemandirian itu. Hanya dengan hubungan belas kasihan orang lain dapat mempersilakan kita masuk secara emosional dan moral dalam pergumulan hidupnya, khususnya dalam membangun kemuridan Kristus yang terbuka.
Makna Cinta kasih dalam keramah-tamahan
Keramah-tamahan adalah keutamaan Kristiani yang sangat tua. Praktek keramah-tamahan mengintegrasikan pilihan misioner yang memihak sesama yang berkekurangan ke dalam praktek belas kasihan dan solidaritas misioner. Keramah-tamahan menantang persekutuan untuk memperluas lingkungan dari mereka yang memerlukan perhatian. Keramah-tamahan menumbuhkan kesempatan-kesempatan untuk mengupayakan belas kasihan dan solidaritas misioner, agar orang berjumpa dengan sikap serta tindakan yang saling membantu dan saling melengkapi.
Dalam sejarah Gereja, hidup monastik baik di barat dan di timur selalu memandang keramah-tamahan bagi para peziarah sebagai suatu bagian integral dari panggilan monastik. Melalui pelayanan keramah-tamahan, setiap biara dapat berlaku sebagai sebuah oasis dari persekutuan rasuli dalam suatu masyarakat yang sedang berkembang semakin dingin dan saling mengasingkan. Keramah-tamahan tidak menciptakan suatu hubungan satu arah dari ketergantungan, tetapi memajukan hubungan dialogis dengan sikap berbagi daripada memberi. Bila belas kasihan dan keramah-tamahan misioner tidak ada, maka orang atau pun persekutuan gerejawi menyelinap ke dalam kekosongan diri sendiri.
Pembentukan umat Kristiani dalam keutamaan-keutamaan ini adalah penting untuk mengungkapkan visi misioner sosial yang menjadi tanggungjawab pewartaan Gereja dalam dunia. Cinta kasih sesungguhnya berada demi kesejahteraan bersama dalam dunia kita. Upaya dari keutamaan-keutamaan ini akan membuat cinta kasih efektif dan memajukan persekutuan misioner di antara orang-orang dalam kesetaraan yang adil, kritis dan partisipatif.
Gerak Cinta kasih dalam persekutuan misioner
Gereja dengan setia menaati keyakinan mendasar tentang keselamatan sebagai suatu hubungan persekutuan, koinonia. Gereja adalah sebuah tubuh yang dipanggil untuk menghayati persekutuan ini. Gereja dapat menghayati hidup dalam persekutuan, hanya karena cinta kasih. Persekutuan manusiawi dengan sesama juga merupakan sebuah alat dari persekutuan yang lebih penuh dengan Allah. Terpisah dari hubungan dengan Allah, hubungan-hubungan manusiawi menjadi bercorak sementara, terbatas dan berkendala. Tanpa karya transformatif dari rahmat di mana Allah mendekatkan kita, maka kemampuan kita untuk mencintai satu sama lain akan berjalan terhuyung-huyung. Perutusan missioner kita menjadi tanpa makna.
Gereja adalah persekutuan orang-orang yang hubungannya satu sama lain dibentuk oleh partisipasi bersama dalam hubungan dengan Allah di dalam Yesus Kristus melalui Roh Kudus. Persekutuan dengan Allah yang pada saat yang sama tidak melaksanakan persekutuan nyata dengan sesama makhluk manusiawi adalah suatu kontradiksi terhadap Injil dan melawan gerakan misioner dalam Gereja kita.
Cinta kasih dan karya misioner dalam konteks Indonesia
Teologi yang berpusat pada karya misioner dalam Gereja kita mempunyai dampak besar dalam hidup masyarakat kita. Kebanyakan dari wacana teologis misioner di benua Asia, termasuk Indonesia, nyatanya memalingkan perhatian pada kenyataan pluralisme agama dan budaya. Memperbaiki hubungan dengan agama dan budaya berbeda dan memajukan dialog kehidupan bersama sudah menjadi kepedulian utama. Upaya untuk memerangi kemiskinan dan eksploitasi, serta ungkapan Gereja sebagai tanda keselamatan atau cinta kasih dalam pelayanan misioner terpaut dengan latar belakang berbeda agama dan budaya.
Terdapat juga sejumlah anggota masyarakat kita yang terpaksa meninggalkan ibu pertiwi setempat dan mencari perbaikan nasib di mancanegara. Orang-orang demikian menghadapi persoalan-persoalan yang terkait dengan migrasi yang sedang mengejala secara global, karena pertambahan jumlah orang yang terpaksa meninggalkan tanah kelahiran akibat kemiskinan ekonomik, penindasan religius, politik, sosial dll. Banyak orang sudah beremigrasi ke tempat-tempat baru guna mencari pekerjaan dan masa depan yang lebih baik. Karena mereka tergolong pada minoritas di mancanegara pasti timbul persoalan diskriminasi budaya dalam beragam bentuknya.
Panggilan misioner kita bersama
Kehadiran kemiskinan dan ketidak-adilan, perbedaan agama dan budaya, eksploitasi dan penindasan adalah kenyataan-kenyataan di pelbagai masyarakat di dunia kita. Gereja tidak pernah boleh bersikap acuh tak acuh terhadap kenyataan sosial ini. Gereja terbentuk dalam cinta kasih persaudaraan, karena Yesus memanggil setiap orang untuk mengasihi dan melayani. Hal ini harus disertai dengan praktek keutamaan Kristiani seperti solidaritas, belas kasihan dan keramah-tamahan, agar mereka mengalami harga diri dalam persekutuan dan para pemangku kepentingan menjadi mitra dalam sikap berbagi daripada hidup terus menerus dalam keadaan ketergantungan atau pun berkekurangan. Cinta kasih yang terjalin dalam keutamaan Kristiani dapat menjadi lebih efektif dalam menjembatani kesenjangan beragam dan membangun komunikasi yang hilang, bahkan dapat memajukan kesejahteraan dan keselarasan hidup dengan sikap saling mengerti serta saling mempercayai. Memang benar, dalam panggilan Yesus, Gereja harus menjadi lebih sadar akan kehadirannya sebagai suatu tanda cinta kasih dalam karya pelayanan misionernya.
Konteks perutusan Kristiani Indonesia
Kehadiran Gereja Katolik di Indonesia sudah berlangsung lama. Tahun 2011, Gereja Katolik mengenang 50 Tahun berdirinya Hirarki Episkopal bertepatan dengan perayaan 40 Tahun kehadiran Karya Kepausan Indonesia. Sebagian kecil masyarakat Indonesia sudah menjadi penganut Kristiani dengan pelbagai denominasinya. Gagasan teologis misioner di Indonesia hampir tiada perkembangannya, karena para pakar teologi masih menjadi “franchiser” dari pemikiran teologi yang berkembang di dunia Barat. Tantangan keadaan masyarakat dengan aneka bentuk ungkapannya dalam dimensi sosial, politik, ekonomi, budaya dan terutama keagamaan belum mendapat pencermatan yang mendalam dan seimbang. Gerakan hidup iman misioner nampaknya mengikuti perjalanan bagaikan lembaga swadaya masyarakat yang punya ketergantungan dari pemangku kepentingan tertentu.
Peran Gereja dalam perjuangan misioner di tengah masyarakat Indonesia berjalan terhuyung-huyung, karena pemahaman iman Kristiani belum menemukan hati masyarakat yang pada dasarnya sedang mengalami aneka perlakuan tidak adil, entah terbuka atau pun terselubung. Keterlibatan misioner Gereja memang hadir dengan daya pengabdiannya, tetapi persaudaraan bersekutu belum muncul sebagai kekuatan misioner bersama. Dalam menghadapi pelbagai bencana yang menerpa masyarakat kita, Gereja memang tidak berdaya untuk mengambil bagian secara maksimal. Namun, mutu solidaritas misioner harus mendapatkan sentuhan yang efektif secara gerejawi, agar persekutuan Kristiani semakin mampu mempraktekkan cinta kasih seutuhnya sebagai penghayatan iman akan Keadilan Allah.
Tantangan misioner Persekutuan Gerejawi kita
Keimanan Kristiani Katolik juga belum sepenuhnya terungkap dalam perjalanan Gereja kita di Indonesia. Umat Katolik dengan pengalaman iman sebagaimana terungkap dalam SAGKI 2010 belum menampakkan keutuhan persekutuan yang terbuka. Masing-masing umat atau persekutuan gerejawi setempat sibuk mengurus kepentingan diri sendiri. Persoalan sosial dalam lingkungan hidupnya belum seutuhnya menjadi perhatian bersama dalam konteks tanggungjawab bersama, khususnya dari mereka yang mapan dan berkemampuan dalam dunia politik dan ekonomi. Bahkan dengan gerakan perpolitikan yang menjamur sekarang ini semisal Pilkada, perpecahan dalam persekutuan gerejawi semakin terungkap dan kentara. Persoalan-persoalan sosial kemanusiaan akibat bencana alam atau pun buatan manusia sendiri, kurang menghasut keterlibatan yang sepenuhnya mendorong solidaritas yang sejati. Nampaknya, semua orang berpegang teguh pada kepentingan diri atau kelompok sendiri di dalam persekutuan gerejawi. Karya misioner perlu menemukan cara baru, agar pencermatan tanda-tanda jaman membuahkan tanggapan misioner yang tepat, efektif dan benar.
Persekutuan yang terlibat dalam pelayanan misioner
Panggilan serta perutusan untuk “marilah terlibat” sebagaimana digemakan oleh SAGKI 2010, memerlukan komitmen misioner gerejawi yang utuh terbuka, agar persoalan kemanusiaan setempat dapat mengalami perubahan guna perkembangan martabat manusiawi bersama. Sumber kekayaan yang melimpah dalam masyarakat kita, nyatanya, menjadi jalan buntu bagi rakyat kebanyakan. Keadilan sosial semisal penegakan hukum lebih bergema dalam wacana daripada dalam praktek kebijakan politik yang ditetapkan demi kemajuan bersama. Kecenderungan untuk berjalan menurut tata sosial yang berlaku lebih berdaya daripada kemauan misioner bersama untuk memberlakukan tata sosial yang adil bagi semua orang. Dalam konteks ini, Gereja tidak mampu sepenuhnya mengembangkan kehadiran yang berdaya mencermati tanda-tanda jaman yang menuntut perbaikan dan perubahan dalam hubungan sosial, ekonomi, politik, budaya dan terutama hubungan antarumat beragama. Gereja kita harus berani belajar menjalankan cinta kasih yang menghadirkan pelayanan misioner manusiawi yang bermutu religius, yaitu kemampuan mengembangkan hati nurani yang berpihak kepada kesetaraan martabat manusiawi.
Perspektif persekutuan Kristiani dalam karya misioner
Persekutuan Kristiani dengan tanggungjawabnya masing-masing dan bersama-sama (pemerintah, pengusaha, politisi, aparat keamanan, pemimpin umat tertahbis dan tak tertahbis, katekis, pemimpin lembaga swadaya masyarakat, petani, pedagang, nelayan, pegawai; singkatnya, seluruh umat) sudah menerima anugerah iman dari Tuhan. Semua mempunyai peran untuk melibatkan diri dalam pembangunan keselarasan hidup dengan sesama, alam ciptaan dan Tuhan sendiri. Ikatan-ikatan ini menghadirkan daya misioner bersama untuk membangun kesejahteraan bersama yang berkeadilan. Oleh karena itu, dalam perjalanan hidup ini, persekutuan gerejawi kita tidak boleh melalaikan perutusan keadilan, terutama bagi saudara-saudara yang terpinggirkan. Inilah perutusan solidaritas yang mendorong persekutuan gerejawi untuk bertindak berdasarkan keyakinan akan kebenaran tentang manusia. Keterlibatan misioner tidak merupakan tambahan dalam hidup iman kita, tetapi merupakan bagian dari cara hidup Kristiani di atas bumi ini. Dengan demikian persekutuan gerejawi di dunia ini mampu menghayati persahabatan dengan Tuhan, persaudaraan dengan sesama dan memelihara keselarasan dengan alam ciptaan. Dalam keadaan masyarakat kita yang beragam, utamanya hidup budaya dan hidup beragama, Gereja Katolik perlu membangun kehadiran yang penuh sikap hormat dan penghargaan satu sama lain. Inilah dialog kehidupan yang tetap menjadi daya misioner bersama untuk menyumbang bagi pemerdayaan persaudaraan yang berkeadilan dalam masyarakat kita: persaudaraan dan persahabatan berdaya misioner dengan sikap rela berbagi dalam kesetaraan.,
Panggilan bertindak misioner
1. Perutusan gerejawi dalam hubungan dengan karya misioner dan spiritualitas adalah iman akan Yesus Kristus dengan perintah baru, yaitu cinta kasih.
2. Perutusan keterlibatan Gereja dalam karya misioner adalah tanda bersekutu guna membangun lingkungan hidup yang utuh, terbuka dan partisipatif.
3. Perutusan keterlibatan Gereja dalam proses menyejahterakan kemanusiaan merupakan bagian utuh kesaksian iman akan martabat manusiawi dengan semangat rela berbagi.
4. Perutusan misioner dalam persekutuan gerejawi adalah ungkapan khas pewartaan Injil yang mengarus-utamakan kebenaran, kebebasan, tanggungjawab, partisipasi dan kebaikan bersama.
5. Perutusan misioner dalam masyarakat Indonesia yang beragam menuntut keterlibatan Gereja yang bercorak bersaudara dan bersahabat, khususnya dalam hubungan kerja budaya dan hubungan antarumat beragama.
6. Perutusan misioner harus terlaksana dalam hidup paroki/komunitas basis sebagai kekuatan bersaudara dari persekutuan gerejawi.
7. Perutusan hidup bakti adalah kekuatan asketis yang tanggap akan tantangan misioner dengan teladan pola hidup sederhana karena semangat rela berbagi.
8. Perutusan misioner pelayanan imamat terpaut pada pewartaan Injil yang sejatinya mengembangkan peradaban kasih berdasarkan sumber daya yang tersedia setempat dalam solidaritas, belas kasih dan keramah-tamahan sebagai ungkapan kesadaran misioner.
Penutup
Gerakan misioner menuju perwujudan solidaritas dan kerjasama misioner merupakan perutusan kehadiran Gereja dalam dunia ini. Hubungan manusiawi yang terjalin secara adil adalah hasil cinta kasih yang terungkap melalui praktek hidup iman yang mengarus-utamakan solidaritas, belas kasihan dan keramah-tamahan dalam konteks karya misioner kemanusiaan.
Kenyataan-kenyataan hidup yang menantang dan mendesak perlu mendapat perhatian pastoral yang efektif, kritis dan partisipatif. Kerjasama kolaboratif dalam memperjuangkan karya misioner tidak boleh menempatkan Gereja sebagai salah satu lembaga swadaya masyarakat, karena kehadiran Gereja berdasarkan anugerah cinta kasih Allah sendiri. Gereja tetap harus setia untuk menghadirkan diri sebagai tanda keselamatan dalam masyarakat. Gereja bukanlah suatu kekuatan politik, tetapi suatu daya yang berwawasan misioner cinta kasih dalam upaya mewujudkan rencana cinta kasih Allah dalam dunia ini. Kehadiran Gereja harus menyumbang bagi tegaknya “kemandirian hidup dan perdamaian yang terbuka” dalam dunia ini. Di tengah kemajuan teknologi komunikasi, Gereja hendaknya membangun kehadiran misioner yang arif, agar seluruh persekutuan gerejawi tersedia mempraktekkan hidup askese yang mendunia. Penegasan tindakan misioner dalam kesadaran solidaritas harus membimbing persekutuan gerejawi dan persekutuan sosial kepada perwujudan peradaban kasih, di mana kasih Allah mewujudkan kasih akan sesama dalam perspektif kerukunan misioner. Inilah spiritualitas misioner kemuridan Kristus yang terbuka, transparan dan akuntabel kepada Allah dan sesama yang berharkat Kristiani, sebagaimana menjadi tujuan kehadiran Karya Kepausan Indonesia yang sudah berusia 40 Tahun (2011).
Demikian, beberapa pemikiran serta harapan sebagai renungan, sewaktu Gereja Katolik di Indonesia memperingati 40 Tahun (2011) Karya Kepausan hadir di bumi persada Indonesia. Semoga berguna dalam menjalani solidaritas misioner di masa depan !
Selamat Ulangtahun ke-40 (2011) Karya Kepausan Indonesia !
.
Kupang, 10 Maret 2011
Mgr. Petrus Turang


Terima kasih Bapak Uskup Mgr. Petrus Turang atas semuanya, Beristirahatlah Dalam Damai.
SukaSuka