DALAM NEGERI

MENDAMPINGI ANAK DALAM KELUARGA DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Oleh Maria Magdalena Tumani, Kota Madiun

Saat covid-19  merebak di Indonesia, anak saya yang pertama sedang duduk di bangku SMA kelas XII dan yang kedua di bangku SMA kelas X. Keduanya laki-laki. Sudah menjadi bagian dari hidup  anak pertama, ia ikut kegiatan Orang Muda Katolik (OMK) dan menjadi organis di paroki. Sedangkan anak kedua, aktif dalam kelompok misdinar paroki. Pada hari Sabtu dan Minggu, rumah mereka bagaikan di gereja. Sedangkan Hari Senin-Jumat, mereka disibukkan dengan kegiatan sekolah. Saya merasakan sebelum covid-19 interaksi di antara kami memang terbatas, karena kesibukan kami masing- masing. Saya dan suami sama-sama bekerja, nyaris kita bisa ketemu hanya sore hari saja.  Malam pun sering kami ada kegiatan. Tetapi begitu corona menerpa, anak-anak sungguh berdiam diri di rumah saja. Sedangkan saya dan suami masih tetap bisa bekerja hanya sesekali WFH (Work From Home).


Kehidupan Nyata Saat Pandemi

Hari-hari pertama, anak-anak saya belajar dari rumah. Jatah makan yang dikonsumsi mereka berlipat ganda. Mereka menjadi tambah gemuk dan kurang beraktifitas.  Saat mereka belajar dari rumah, pada awalnya memang banyak tugas yang dikirim oleh guru mereka. Masing-masing guru memberi tugas, sehingga mereka mengatakan: ‘enak belajar di sekolah saja’. Lama-kelamaan mereka merdeka belajar, mereka merdeka dari pembelajaran. Termasuk untuk anak pertama yang bebas dari Ujian Nasional (UN). Tetapi anak yang pertama tetap mengikuti les tambahan dan ikut tryout online untuk persiapan tes masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Dalam situasi dan kondisi yang terjadi, kami tidak menyalahkan guru atau sekolah. Kami tidak menyalahkan keadaan dan tidak mengeluh dengan situasi yang ada, karena semua orang mengalaminya dan ini yang nyata terjadi. Supaya anak-anak betah di rumah, paketan (kuota internet) gawai mereka harus selalu terisi. Mereka tetap mengetahui dunia luar tanpa harus keluar rumah.

Hak Anak Selama Pandemi

Walau pandemi covid-19 merebak, tidak akan mengurangi hak anak baik dirumah maupun di sekolah. Tentunya ini berlaku bagi semua anak.

1. Hak Tetap Hidup Sehat

Di tengah pandemi, hak anak-anak kami untuk hidup sehat menjadi hak yang pokok,  teristimewa untuk anak-anak yang masih menjadi tanggung jawab orang tua. Bukan sekedar untuk hidup, tetapi masih ada tuntutan untuk hidup yang sehat. Oleh karenanya, melalui makanan bergizi, istirahat yang cukup, olah raga teratur tetap perlu untuk anak-anak. Ditambah penerapaan kebiasaan/pola hidup baru.

2. Hak Pendidikan

Untuk pendidikan formal, kami percayakan kepada sekolah dengan cara yang dipilih atau ditentukan oleh sekolah dengan materi pembelajaran yang telah dicanangkan dalam kurikulum,  termasuk kurikulum adaptif karena adanya corona ini.  Tergantung pada kebijakan sekolah. Sedangkan pendidikan yang di rumah, sungguh kami bersyukur di tengah pandemi ini, kami lebih punya banyak waktu untuk mengevaluasi perkembangan rohani anak-anak. Sejauh mana nilai-nilai Kristiani yang sejak dini dan selama ini kami tanamkan dalam diri anak-anak   sudah membawa hasil apa belum. Hal itu dapat kami lihat/pantau selama pandemi berlangsung. Jika ternyata masih ada yang salah, masa pandemi ini sungguh kami manfaatkan untuk berbenah dan  memperbaiki. Pendidikan untuk kehidupan yang meliputi belajar hidup sosial, belajar bergotong royong,  solidaritas, dan saling melayani itu lebih penting. Harapannya, kelak anak-anak menjadi mandiri, terampil, peka, dan disiplin.

3. Hak Kebebasan

Seperti pada umumnya manusia, anak-anak kami juga sangat membutuhkan kebebasan sebagai seorang anak atau orang muda. Antara lain: bisa ketemu teman, bisa berolah raga di luar rumah, bisa sesuka hati menentukan kegiatan yang diinginkan, terutama tidur-tiduran, nongkrong, ngegame online, atau pun bermain gawai. Anak-anak kami ternyata juga ada keinginan untuk bebas berpendapat, berargumen, atau membantah pendapat orang tua.

Tantangan Baru Saat Pandemi

1.Membangun komunikasi

Sebelum covid-19 berlangsung intensif, untuk kami berkomunikasi dengan anggota keluarga yang lain sangat minim. Sedangkan bagi keluarga yang aktifitas anggota keluarganya tinggi,  komunikasi melalui telpon mungkin sudah menjadi kebiasaan, meskipun durasi waktunya cukup singkat dan juga komunikasi seperlunya saja.  Di saat pandemi berlangsung, dengan anjuran di rumah saja, kami justru seringkali berkumpul dengan seluruh anggota keluarga di rumah. Saat seperti inilah, kami dituntut untuk bisa membangun komunikasi yang baik antar anggota keluarga. Awalnya kaku dan komunikasi seperlunya. Ini menjadi tantangan untuk kami membuka komunikasi dengan tema yang menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga. Kami sungguh-sungguh belajar, bagaimana agar komunikasi terjadi tanpa harus menyinggung satu dengan yang lain. Maka sikap terbuka, bicara apa adanya, menyampaikan apa yang ada di dalam hati merupakan hal yang baik, supaya yang lain mengerti dan tidak terjadi pembohongan. Mungkin pahit dirasakan, tapi menjadi indah jika direnungkan dan dipahami.

2. Menciptakan kebersamaan

Kalau sebelum covid-19 semua dari kami mengerjakan tugas masing-masing berdasar tuntutan  belajar/pekerjaan masing-masing. Ketika di rumah saja, ternyata banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan secara bersama-sama, terutama pekerjaan di rumah: memasak, mencuci, setrika, membersihkan rumah, menyiram tanaman, belanja, sampai membayar pajak.  Di masa pandemi, semua pekerjaan itu kami bagi dan setiap anggota keluarga bisa melakukannya. Artinya satu bekerja, bekerja semua, saatnya istirahat semua istirahat. Dan yang paling membanggakan adalah kami bisa menciptakan kebersamaan dalam doa. Jika saatnya berdoa bersama, kami tidak perlu mengomando, semua sudah duduk di tempat doa dan sudah tahu siapa yang mendapat giliran tugas memimpin doa.

3. Penerapan kebiasaan/pola hidup baru

Ini juga merupakan hal yang baru untuk kami semua. Bekerja atau belajar dari rumah bukan berarti kami bisa bermalas-malasan di rumah. Kami tetap melakukan kegiatan seperti waktu corona belum mewabah. Pekerjaan rumah kami kerjakan sebelum kami masuk kerja. Saat harus berangkat kerja, pekerjaan selanjutnya diselesaikan oleh anak-anak yang tetap di rumah. Termasuk penyemprotan disinfektan di sekeliling rumah. Anak-anak  menjadi terbiasa untuk mengepel, membersihkan kaca, menyiram tanaman, belanja, bahkan masak. Setiap kali kami pulang dan sampai di rumah,  selalu saling mengingatkan untuk ganti pakaian dan cuci tangan terlebih dahulu. Itu pasti. Setelah itu, baru kami duduk-duduk bersama. Kami selalu saling mengingatkan untuk makan dan minum yang sehat. Itu juga pasti. Bahkan di rumah pun di antara kami ada yang setia bermasker.

Pesan dan Saran

Dalam hal komunikasi di antara anggota keluarga, selaku orang tua jangan menuntut anak untuk jujur/terbuka kalau tidak diawali dari orang tua sendiri untuk menjadi terbuka lebih dahulu. Sebetulnya anak-anak bisa memahami keadaan orang tua yang sebenarnya. Dalam hal apapun orang tua adalah teladan bagi anak-anaknya.

Selain kita sebagai orang tua, sekaligus bisa menjadi sahabat anak-anak. Kebersamaan akan mudah diciptakan. Pada dasarnya anak manut (mengikuti) orang tua, asal orang tua juga mempunyai komitmen. Misalnya kalau kondisi pandemi sudah berakhir, jangan menyuruh-nyuruh anak ke gereja, kalau orang tuanya sendiri tidak ke gereja. Sebaliknya kalau orang tua ke gereja, anak terbiasa diajak/diingatkan, maka tanpa disuruh tiba saatnya anak-anak sudah berangkat sendiri.

Jangan jemu untuk mengingatkan dan  jangan marah  kalaui diingatkan adalah kunci supaya dapat menerapkan pola hidup yang baru. Saling menjaga, “aku sehat orang lain juga harus sehat” sungguh bisa dijadikan  kebiasaan baru agar  kita semua bisa terbebas dan bisa keluar dari wabah covid-19.. Selamat berjuang, Tuhan beserta kita.