FORMASI MISIONER

Mencari Makna dan Kualitas Hidup Religius


Kehidupan kaum biarawan-biarawati menjadi sebuah tanda suburnya kehidupan menggereja. Namun, hidup bakti menjadi sebuah tantangan besar di abad milenium ini? Apa yang harus dilakukan?


Tantangan Kaum Religius

Di zaman modern ini, hidup bakti menjadi sebuah tantangan. Apa yang menjadi tantangan kaum religius di zaman sekarang ini? Ada banyak.  Menurut ensiklik “Bertolak Segar dalam Kristus” – Komitmen Hidup Bakti yang dibaharui di milenium ketiga oleh Paus Yohanes Paulus II, ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh kaum religius, antara lain:

  • Pertama,konteks budaya di mana mereka tinggal saat ini. Budaya sangat mempengaruhi kehidupan religius ini.
  • Kedua,berkurangnya jumlah anggota, dan sedikitnya minat orang yang mau bergabung, menjadi tanda sebuah krisis dalam panggilan. Ini menjadi sebuah pertanyaan. Apakah zaman sudah berubah?
  • Ketiga,kesaksian hidup belum secara maksimal. Dengan perubahan zaman sekarang ini, kaum religius dipanggil untuk menjadi saksi Kristus. Menjadi saksi Kristus berarti mampu menjadi seperti Kristus – “Imitasi Kristus”. Belajar dari kehidupan Kristus, yang taat, rendah hati, setia kepada perutusan dari Bapa-Nya. Dengan menjadi “Alter Christi” akan membuat banyak orang yang merasa tertarik dan ada kemungkinan membuka jalan hadirnya calon-calon dalam kehidupan religius.
  • Keempat,kehidupan awam yang semakin maju. Dengan ilmu pengetahuan yang banyak, lebih memudahkan awam untuk mendapatkan formasi atau pengetahuan. Oleh karena itu, kaum religius dituntun untuk selalu belajar dan terus belajar.

Suatu Rahmat “Kairos Baru”

Panggilan adalah anugerah. Anugerah yang Tuhan berikan kepada mereka yang dengan rela membuka hati dan menjawab panggilan Tuhan itu. Kendatipun ada tantangan, namun Roh Kudus memberikan kekuatan. Roh Kudus yang menuntun dan memberikan kesadaran untuk melihat makna dari sebuah panggilan Tuhan. Panggilan autentik Roh Tuhan yang memanggil. Setiap pribadi yang terpanggil diharapkan untuk menemukan potensi diri, menemukan jati diri di tengah tantangan zaman. Ini berarti setiap pribadi yang terpanggil untuk menciptakan dan berusaha menggali “kairos baru” sebagai suatu rahmat yang indah. Dalam “kairos baru” kaum terpanggil diajak menjadi saksi Kristus, yang menjadi modal dalam pelayanan. Selain itu, hal yang penting bagaimana cara menghidupi dan menghayati nasihat Injil dengan menjalankan triprasetia: kemiskinan (kesahajaan), ketaatan, dan kemurniaan. Dengan menjalankan nasihat Injili ini, seorang religius menjadi tanda kehidupan baru. Tentu ini menjadi modal yang ampuh dalam menghadapi dunia saat ini.

Seorang yang terpanggil, ia berkarya untuk Kerajaan Allah dengan sukacita. Bagaikan benih, yang jatuh di tanah, tumbuh berkembang, dan akhirnya berbuah. Dengan karya dan pelayanan yang dilakukan dalam keseharian, para religius telah menjadi berkat bagi orang lain. Menjadi garam di tengah dunia, di mana mereka berada. Inilah tanda yang indah dari Tuhan, tanda kehadiran Allah melalui sosok pribadi orang yang dipanggil-Nya.

Berkarya demi Kerajaan Allah

Jeanne Bigard pendiri Serikat Kepausan untuk Pengembangan Panggilan St. Petrus selalu berharap akan banyaknya orang menjawab panggilan Tuhan. Jeanne Bigard dan ibunya memberikan perhatiannya secara khusus bagi pembinaan calon imam. Yesus mengatakan: “Tuaian banyak namun pekerja sedikit” maka kita sebagai umat beriman selalu memohon agar Tuhan mengirimkan penuai-penuai untuk berkarya di kebun anggur-Nya. Jeanne Bigard dan ibunya Stephanie Bigard telah merintis promosi panggilan imam, biarawan-biarawati. Panggilan itu mengarah pada kekudusan dan kesempurnaan hidup.

Gereja setiap tahun merayakan Hari Doa untuk Panggilan. Semua itu bermaksud agar semakin banyak orang terpanggil. Panggilan khusus menjadi sebuah proses perjalanan setiap orang yang terbuka dan mencari kehendak Allah. Berani menyerahkan diri demi Kerajaan Allah. Semoga apa yang telah dimulai oleh Jeanne Bigard untuk misi Gereja, menjadi jiwa kita juga.

Yohana, SRM