MANCANEGARA

Para Pemimpin Agama Berdoa Bersama

“Semoga Tuhan menyembuhkan yang sakit dan melenyapkan wabah virus corona dari dunia ini,” begitulah doa yang dipanjatkan oleh perwakilan Yahudi, Kristen, Muslim, dan Druze yang bergabung melalui streaming, 23/4/2020.  


Berdoa Bersama

“Ada ribuan orang meninggal, jutaan yang sakit, kami mohon selamatkanlah kami ya Tuhan,” itulah bagian dari doa yang dipanjatkan dalam komunitas di Israel, 23/4/2020, yang dipimpin oleh para pemimpin agama yang berbeda. Menurut laporan dari Pusat Media Kath Swiss, ada perwakilan Yahudi, Kristen, Muslim, dan Druze dalam acara yang disiarkan secara online untuk memungkinkan umat beriman berpartisipasi dalam acara tersebut.

Doa yang dilakukan oleh beberapa perwakilan agama dengan membacakan Mazmur 121 secara bersama-sama. Para pemimpin agama memohon dan memercayakan seluruh umat mereka di bawah perlindungan Tuhan, dan memohon perlindungan dari wabah virus corona ini. Di Israel, Mazmur 121 biasa didoakan pada hari peringatan tentara Israel yang menjadi korban terorisme, yang  dirayakan pada 28 April.

Tidak ada batas, bersatu kita mengatasi krisis

“Virus corona tidak mengenal batas antara agama, ras, atau partai politik,” kata Uskup Agung Pierbattista Pizzaballa, Administrator Apostolik Patriarka Latin Yerusalem. “Kita dipersatukan dalam penyakit, dan ini telah menghancurkan banyak batasan dan prasangka di antara kita,” lanjutnya. Beliau kemudian menyatakan harapan bahwa kegiatan doa bersama ini akan terus berlanjut bahkan setelah akhir krisis virus corona ini.

Semua orang ingin bergabung

Pertemuan doa bersama yang “bersejarah” dipelopori oleh rabi Inggris, David Rosen. Ia berkomitmen untuk mengadakan dialog antaragama. Para pemimpin agama di negara Israel bertemu untuk pertama kalinya berdoa bersama, memohon rahmat ilahi dan kasih sayang dari Tuhan ketika seluruh umat manusia ditantang oleh pandemi virus corona. Dalam kebersamaannya itu, David Rosen  berbicara tentang momen kebersamaan dalam keadaan duka dan suka, sedih dan gembira bersama. Bahkan mereka yang biasanya tidak begitu terbuka untuk dialog antaragama berkumpul untuk berdoa. Itu adalah kesaksiannya, bahkan jika itu adalah tragedi, rasa sakit, dan penderitaan yang menyatukan kita di luar perbedaan”.

Sumber: vaticannews.
Roberta Barbi – Kota Vatikan