VARIA

Minggu Misi dalam Konteks Pandemi Covid-19

“Minggu Misi, hari yang istimewa. Mengapa istimewa dan dimana letak keistimewaannya? Istimewa karena setiap pribadi diajak untuk menyadari dan membarui komitmen pribadinya melalui doa, refleksi, dan amal kasih.”


Minggu Misi 2020 dengan tema: “Ini aku, utuslah aku” (Yes 6:8). Melalui pesannya, Paus Fransiskus berharap, Minggu Misi menjadi hari yang istimewa. Mengapa istimewa? Karena Minggu Misi menjadi hari yang khusus dipersembahkan untuk kepentingan misi Gereja universal.  Melalui doa, refleksi, dan amal kasih, setiap orang ikut ambil bagian dalam karya misi Gereja. Setiap kita secara pribadi, diajak untuk menjawab dengan jawaban Nabi Yesaya: “Ini aku, utuslah aku” (Yes. 6:8).

Mengapa tema “Ini aku, utuslah aku?”

“Ini aku, utuslah aku”, adalah jawaban dari Nabi Yesaya, ketika Tuhan bertanya kepadanya: “Siapa yang akan Kuutus?”. Nabi Yesaya menyadari akan tugas panggilannya, sebagai utusan Tuhan. Dengan segala keberadaannya, ia berani menjawab panggilan Tuhan, “ini aku, utuslah aku”.

Pesan Minggu Misi dibuat Paus Fransiskus dalam suasana pandemi Covid-19. Dalam memulai pesannya, beliau mengkaitkan dengan momen doa luar biasa yang terjadi pada tanggal 27 Maret di Lapangan St. Petrus, Vatikan. Dalam suasana yang mencekam, rasa ketakutan, kegelisahan, ketidakberdayaan yang hampir menyelimuti seluruh umat manusia, Tuhan masih bertanya kepada kita semua: “siapa yang akan Kuutus?”.  Menurut Paus Fransiskus, bahkan dalam keadaan yang menyentuh kelemahan kita, kesakitan kita, undangan misi tetap bergema dalam hati kita. “Kita diundang untuk keluar dari diri sendiri,” tulisnya.

Selanjutnya Paus Fransiskus menuliskan: “Panggilan misi adalah undangan untuk keluar dari diri sendiri demi cinta kepada Tuhan dan sesama. Ini menjadi sebuah kesempatan berbagi, melayani, dan berdoa. Misi yang dipercayakan Tuhan kepada kita masing-masing beralih dari diri kita yang ketakutan dan tertutup kepada diri yang ditemukan dan diperbarui oleh karunia itu sendiri.”

Melanjutkan Misi Yesus

Bila kita renungkan, misi yang Tuhan percayakan kepada kita adalah bagian dari hidup kita. Misi adalah cinta Tuhan.  Yesus dalam hidup-Nya menjalankan misi yang Bapa percayakan kepada-Nya. Sepenuhnya, Yesus menjalankan misi karena cinta. Bahkan Ia harus mati di kayu salib, demi menyelesaikan tugas misi-Nya.

Nah, saat ini pula, kita diundang untuk melanjutkan misi Tuhan Yesus ini. Melalui pembaptisan yang telah kita terima, kita diundang untuk ambil bagian dalam misi-Nya ini. Menurut Paus Fransiskus, misi kita, panggilan kita, kesediaan kita untuk diutus berasal dari panggilan Tuhan Yesus sendiri sebagai “Misionaris Bapa”.

Mungkin kita akan bertanya, “bagaimana cara kita dapat melanjutkan misi Yesus ini?” Dalam Gereja Kristus, kita yang telah dibaptis ikut ambil bagian dalam misi Yesus. Melalui kesaksian hidup kita sehari-hari, dalam keluarga, masyarakat, sekolah, ataupun tempat kerja kita. Kesaksian ini menjadi sebuah tanda yang hidup, bahwa Tuhan hadir dalam dirinya, yang dapat diwujudkan dalam kata-kata dan tindakan.

Paus Fransiskus menuliskan: “Melalui kesaksian dan pemberitaan Injil kita, Allah melanjutkan untuk menyatakan kasih-Nya. Inilah cara yang mampu menyentuh dan mengubah hati, pikiran, tubuh, masyarakat,  dan budaya di setiap tempat dan waktu.”  Selanjutnya, Paus mengingatkan kita, “Panggilan untuk misi hanya dapat dilihat ketika kita memiliki hubungan cinta pribadi dengan Yesus yang hadir di Gereja-Nya”.

Tantangan Misi dalam Pandemi Covid-19

Apa yang menjadi tantangan misi di masa pandemi ini? Paus Fransiskus melihat sebuah tantangan misi Gereja saat ini, bagaimana untuk melihat dan memahami apa yang Tuhan kehendaki dengan peristiwa pandemi ini.  Ketika orang meninggal sendirian dan ditinggalkan, ketika banyak orang kehilangan pekerjaan mereka, ada banyak kekhawatiran, ketakutan, dan terpisah dari lingkungan sosial karena harus menjalankan social distancing (jaga jarak).

Apa yang Tuhan harapkan untuk kita perbuat? “Dalam situasi ini, tentunya kita membuka hati kita, mendekatkan diri kepada Tuhan. Biarlah Tuhan menyentuh hati kita, agar kita bisa peduli dan memahami orang lain, ikut bersolidaritas dengan yang menderita.  Biarkan kita mengizinkan Tuhan untuk menyentuh dan membuka hati kita melalui doa, dan memahami kebutuhan orang lain. Memahami bahwa saat ini, kita yang belum mampu berpartisipasi dalam kehidupan liturgi Gereja, tidak dapat merayakan Misa setiap hari Minggu, namun kita bisa ikut berpatisipasi melaui online dan live streaming.

Dalam situasi pandemi ini, suara Tuhan tetap bergema dalam hati kita, siapa yang akan Kuutus? Maka, dengan tulus hati kita menjawab: “Ini aku Tuhan, utuslah aku!”

Sr.  Yohana,  SRM