Formasi Misioner

Serikat Kepausan Pengembangan Iman

Melanjutkan Misi Yesus


“Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Aku akan menyertai kamu sampai akhir zaman” (bdk. Mat 28:19-20).

Serikat Kepausan Pengembangan Iman mempunyai tujuan salah satunya adalah “Membangkitkan kesadaran dan tanggung jawab seluruh umat Katolik akan tugas pengembangan iman bagi Gereja semesta”. Iman akan tumbuh dengan subur, jika seseorang mendengar pengajaran dan tentunya mempunyai relasi dengan Tuhan, sang Sumber Iman itu. Iman yang hidup adalah iman yang dibagikan, iman yang diwartakan melalui karya dan kesaksian hidup sehari-hari. Dengan demikianlah, kita telah ikut ambil bagian dalam pewartaan Injil.

Pauline Bermisi dengan Cinta dan Sukacita

Pauline Marie Jaricot adalah tokoh pendiri dari Serikat Pengembangan Iman. Dengan imannya, ia telah mengembangkan semangat misioner Gereja universal. Jiwanya terarah pada karya misi Gereja. Hidup dan karyanya untuk kepentingan orang lain. Ia telah taat mengikuti perintah Sang Guru, menjadi pelaksana sabda Tuhan. Pauline melaksanakan misi dengan penuh cinta, sukacita,  dan penuh kesadaran akan perutusan yang menggema dalam batinnya.  Misi yang Tuhan percayakan kepada dirinya dijalankan dengan penuh sukacita dan tanggung jawab. Ia sadar bahwa Tuhan telah memanggilnya untuk menjalankan karya misi. Dan dengan penuh iman, ia pun menjawab “ini aku, utuslah aku” (Yes 48:8), seperti jawaban Nabi Yesaya ketika dipanggil oleh Tuhan.

Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium no. 273 mengatakan: “Saya adalah perutusan di atas bumi ini, itulah alasan mengapa saya berada di dunia ini”. Dengan kata-kata ini, kita diundang untuk menyadari akan keberadaan kita di atas bumi ini. Paus Fransiskus menyadari dengan sungguh, bahwa kehadirannya di dunia ini sebagai “perutusan”.  Begitu juga Pauline Marie Jaricot, seorang tokoh besar, yang dengan penuh kerendahan hati melaksanakan tugas perutusannya bagi kemuliaan Allah. Ia hidup untuk Tuhan dan untuk Gereja universal.

Misi adalah Cinta Tuhan

Tuhan Yesus menjalankan misi dari Bapa dengan penuh cinta dan tanggung jawab. Cinta-Nya kepada umat manusia, yang mendorong Ia rela memberikan nyawa-Nya sebagai korban penebusan dosa. Semua itu, Ia jalankan dengan penuh cinta. Kesetiaan dan cinta yang mendorong Ia menyelesaikan tugas misi-Nya.

Saat ini, kita semua diundang untuk ikut ambil bagian dalam karya misi cinta-Nya itu. Mengapa demikian?  Kita adalah murid-murid Yesus, yang telah dibaptis. Dengan pembaptisan yang telah kita terima, kita mempunyai tanggung jawab untuk ikut ambil bagian dalam karya misi Tuhan Yesus.  Menurut Paus Fransiskus,  “Misi kita,  panggilan kita,  kesediaan kita untuk diutus berasal dari panggilan Tuhan Yesus sendiri sebagai Misionaris Bapa”.

Mungkin kita akan bertanya, “bagaimana cara kita dapat melanjutkan misi Yesus ini?” Ada banyak cara yang dapat kita lakukan dalam menjalankan misi di tengah dunia ini. Hal yang sederhana, yaitu melalui kesaksian hidup kita sehari-hari dalam keluarga, masyarakat, sekolah, atau pun tempat kerja kita. Kesaksian ini menjadi sebuah tanda yang hidup, bahwa Tuhan hadir dalam dirinya, yang dapat diwujudkan dalam kata-kata dan tindakan. Paus Fransiskus menuliskan, “Melalui kesaksian dan pemberitaan Injil kita, Allah melanjutkan untuk menyatakan kasih-Nya. Inilah cara-Nya yang mampu menyentuh dan mengubah hati, pikiran, tubuh, masyarakat, dan budaya di setiap tempat dan waktu.” Selanjutnya Paus mengingatkan kita, “Panggilan untuk misi hanya dapat dilihat ketika kita memiliki hubungan cinta pribadi dengan Yesus yang hadir di Gereja-Nya” (Pesan Paus Fransiskus pada Minggu Misi 2020).

Sr. Yohana,  SRM

<<< Kembali ke Halaman Utama

Selanjutnya >>>