Mancanegara

Pandemi Menempatkan Anak Perempuan pada Risiko: Kawin Paksa dan Putus Sekolah


The Global Girlhood Report 2020 melakukan penelitian dan memberikan laporan bahwa covid-19 berdampak menghancurkan masa depan jutaan anak perempuan dan anak di seluruh dunia, karena adanya pernikahan dini dan kehamilan, putus sekolah, dan kekerasan kepada anak. Salah satu contoh Subira, 14 tahun sebagai pengantin cilik dari Tanzania, yang dipaksa untuk kawin dalam usia belia. Hal ini tentu menimbulkan rasa sedih, dan rasa kasihan terhadap remaja-remaja belia ini. Mereka tidak mampu menyelamatkan diri, karena mereka tidak memiliki siapapun. Demikian curahan hati salah satu anggota “Save the Children”.

Satu juta kehamilan dini

Dokumen The Global Girlhood Report 2020 menyatakan bahwa pada tahun 2020 hampir 500.000 anak perempuan di dunia dipaksa untuk menikah karena konsekuensi ekonomi di masa pandemi. Ada sekitar 1 juta kehamilan dini yang akan menjadi  penyebab utama kematian anak perempuan di antara 15-19 tahun. Ini adalah pembalikan tren negatif yang terjadi setelah 25 tahun kemajuan, dan itu memaksa remaja untuk menikah paksa terutama di Asia Selatan (191.000), Afrika Tengah dan Barat (90.000), Amerika Latin dan Karibia (73.000).  Sementara kehamilan dini sebagian besar terkonsentrasi di Afrika, 282.000 di bagian selatan dan timur benua, dan 260.000 di bagian tengah dan barat, serta di Amerika Latin dan Karibia (181.000).

Konsekuensi pada pendidikan

Save the Children menjelaskan bahwa sembilan dari sepuluh negara dengan persentase pernikahan dini tertinggi adalah yang paling rapuh. Karena mereka dilanda krisis kemanusiaan, seperti konflik, banjir, kekeringan, gempa bumi atau epidemi, dan di mana anak perempuan paling rentan terhadap risiko ini. Jelas negara-negara ini telah menunjukkan bahwa mereka kurang siap untuk menghadapi pandemi, dan penangguhan layanan pendidikan publik adalah salah satu konsekuensi yang paling langsung. Penutupan sekolah karena covid-19 telah menyebabkan 1,6 miliar anak tidak bersekolah – dokumen berlanjut – tetapi, seperti yang ditunjukkan oleh kasus epidemi Ebola baru-baru ini, anak perempuan jauh lebih kecil kemungkinannya untuk melanjutkan sekolah karena tekanan kebutuhan keluarga. Laporan tersebut juga memperkirakan peningkatan kekerasan dan pelecehan sebagai efek tidak langsung dari tindakan pembatasan akibat covid-19.

Anak perempuan yang pertama berhenti sekolah

“Pandemi telah memperburuk kemiskinan banyak keluarga, dan anak perempuan adalah yang pertama diminta untuk berhenti sekolah. Tetapi mereka sering juga didorong untuk mencari pekerjaan atau mengontrak pernikahan dini untuk memastikan keselamatan mereka. Jelas ini tidak benar dan kami menemukan mereka dalam sejumlah besar kawin paksa dan kehamilan dini,” jelas Daniela Fatarella, Direktur Jenderal Save the Children Italy, kepada Vatican News.

Hak anak perempuan

Menurut Fatarella, kelompok usia yang paling berisiko adalah anak perempuan berusia 10 hingga 15 tahun. Sebuah fenomena yang menempatkan kesehatan bayi yang belum lahir dan ibu yang tubuhnya tidak siap menghadapi kehamilan dalam risiko. “Gadis-gadis yang meninggalkan sekolah – lanjut Direktur Jenderal Save the Children Italy – adalah tren yang paling mengkhawatirkan karena sekolah tidak hanya memberikan pelatihan budaya, tetapi juga memberikan pengetahuan tentang hak-hak mereka dan memiliki berbagai peluang dan masa depan terbaik.”

Generasi yang berisiko

Oleh karena itu, pendekatan yang murni sanitasi terhadap pandemi harus ditinjau oleh komunitas internasional. Fatarella menyimpulkan, “Penting bahwa ada komitmen dari semua negara untuk  menangani keadaan darurat pendidikan, jika tidak kita akan kehilangan satu generasi”.


Sumber:https://www.vaticannews.va/it/mondo/news/2020-10/la-pandemia-e-le-bambine-crescono-matrimoni-forzati.html

<<< Kembali ke Halaman Utama

Selanjutnya >>>