Sajian Utama

Anak Misioner,

Hidup Bagi Tuhan dan Sesama 

Mgr. Charles de Forbin Janson sebagai pendiri Serikat Anak dan Remaja Misioner, bercita-cita agar anak dan remaja Katolik dapat menjadi misionaris Tuhan Yesus, yang hidup bagi Tuhan dan sesama. ”Children Helping Children” menjadi moto yang ditanamkan oleh Mgr. Charles dengan semangat “Doa, Derma, Kurban, Kesaksian (2D2K)”. 

Anak Misioner Mewartakan Injil

Salah satu tujuan dari Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner adalah menjadikan anak dan remaja sebagai misionaris Tuhan Yesus. Mereka adalah misionaris cilik. Sebagai misionaris cilik, anak dan remaja ikut ambil bagian mewartakan Kabar Sukacita Tuhan, melalui kesaksian hidup mereka. Menurut Mgr. Charles, sukacita harus mewarnai kehidupan anak dan remaja misioner, terutama “Kabar Sukacita Injil”. Melalui pewartaan Injil, anak dan remaja diperkenalkan kepada Yesus, sebagai tokoh yang mencintai mereka. Yesus harus menjadi “Idola” bagi mereka.  Pendampingan dilaksanakan agar mereka “jatuh cinta kepada Yesus”. Inilah tugas pendamping. Dengan demikian, anak dan remaja pun bisa terlibat dalam mewartakan Injil, Kabar Sukacita. “Saya mendorong semua anak dan remaja untuk berkomitmen dalam mewartakan Injil dan membantu teman-teman mereka yang membutuhkan,” ungkap Paus Fransiskus ketika ulang tahun SEKAMI, 2017.

Hidup bagi Tuhan dan Sesama

Mgr. Charles de Forbin Janson sebagai pendiri berharap agar anak dan remaja misioner hidup untuk Tuhan dan sesama. Dengan mencintai Tuhan, mereka tergerak hati untuk mencintai sesamanya. Bagaiman cara mereka untuk mencintai Tuhan? Tidak lain melalui hidup rohani yang kuat. Ada banyak sarana yang dapat dilakukan oleh mereka, untuk membangun relasi yang baik dengan Tuhan. Ekaristi sebagai puncak hidup dan sumber kekuatan yang utama; membaca dan merenungkan Sabda Allah sebagai pedoman hidup mereka; dan juga melalui doa harian, sebagai ungkapan syukur dan terima kasih atas kasih Tuhan. Kehidupan rohani bagi anak dan remaja misioner sangatlah penting, karena dengan menjalin relasi dengan Tuhan Yesus, anak dan remaja akan menjadi misionaris-Nya yang handal dan setia. Maka, dapat dikatakan bahwa, doa menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Doa menjadi sumber kekuatan dalam menjalankan hidup sebagai misionaris cilik. Dengan mencintai Tuhan, mereka juga tergerak hati untuk mencintai sesama.

Bagaimana caranya? Dengan peduli bagi orang lain yang membutuhkan, yang menderita. Melalui perhatian, kunjungan, sapaan, dan doa. Itulah yang dapat mereka lakukan. Dengan mencintai Tuhan dan sesama, berarti mereka telah mempersembahkan hidup mereka bagi Tuhan dan sesama.  Mereka telah ikut ambil bagian dalam karya misi Gereja. Mereka hidup bukan hanya untuk diri mereka sendiri, namun untuk orang lain. Tuhan yang mereka sembah dan sesama yang mereka layani. Semangat dasar 2D2K yang mereka hidupi menjadi dasar pijakan sebagai misionaris cilik.

Doa dan Solidaritas

Relasi yang baik dengan Tuhan yang terungkap dalam doa, akan menghasilkan buah yang baik pula. Apakah buah dari doa itu? Salah satunya adalah rasa kasih, peduli akan sesama yang menderita. Rasa kasih ini, dapat pula kita katakan, sebagai rasa solidaritas terhadap orang lain atau sesama yang menderita. Salah satu semangat anak misioner adalah doa. Doa menjadi sarana mereka untuk menjalin relasi dengan Tuhan. Mereka dapat berdoa untuk dirinya sendiri, keluarga, teman-teman yang menderita, pemimpin, dan karya misi Gereja.

“Doa dan Solidaritas” dua bagian yang tak terpisahkan. Dengan berdoa, dapat menumbuhkan rasa solider dengan orang lain. Nah, inilah yang ingin kita tanamkan kepada anak-anak misioner. Mereka bukan hanya pintar dalam hal doa, namun sekaligus juga solider, peduli kepada orang lain. Anak misioner, hidup bagi Tuhan dan sesama, itulah yang menjadi ciri khas mereka. Tugas kita para pendamping, memberikan teladan yang benar.  Hidup bagi Tuhan dan sesama, kita lakukan dengan jalan mempersembahkan diri hari demi hari kepada Tuhan agar kita pun layak menjadi misionaris yang sejati. Mencintai Tuhan dan sesama seperti yang Tuhan Yesus lakukan. “Doa dan Solidaritas” telah dimulai dan ditanamkan oleh pendiri SEKAMI, Mgr. Charles de Forbin Janson, mari kita lanjutkan!

Kalian Misionaris, Membawa Misi Gereja

Paus Emeritus Benediktus XVI, memberikan semangat kepada anak dan remaja misioner pada hari HUT SEKAMI pada tahun 2009. Beliau mengatakan, “Kalian semua adalah misionaris, membawa misi Gereja, kalian mempunyai program untuk menyuarakan apa yang ditunjukkan pada diri kalian yakni: mendengarkan Sabda Tuhan, berdoa, mengenal satu dengan yang lainnya, dan saling berbagi dalam bentuk solidaritas”.

Demikian pula, Paus Fransiskus turut berbangga dan bahagia dengan kehadiran anak dan remaja misioner. Beliau mengatakan, “Saya bangga dan bahagia karena kamu saling membantu satu sama lain melampaui batas-batas parokimu, keuskupanmu, negaramu, bahkan benua. Ketahuilah, betapa kecilpun ungkapan doa, derma, dan kesaksian kamu, jika itu kamu buat dengan cinta, maka sungguh semuanya itu akan tidak terhingga nilainya dan mulianya di mata Tuhan” (Paus Fransiskus, 6 Januari 2016).

“Selamat Merayakan Hari Anak dan Remaja Misioner ke-178”

 

  Sr. Yohana,  SRM

<<< Kembali ke Halaman Utama

Selanjutnya >>>