Sajian Utama

Mengapa Kita Harus Datang dan Sujud Menyembah?


Hari Raya Epifani, menjadi awal pijakan bagi anak dan remaja misioner, karena di hari Epifani mereka berkumpul menyatukan hati untuk datang dan sujud menyembah Bayi Yesus yang baru dilahirkan.

Ketika kita mendengar kata Epifani, tentu pikiran kita terarah kepada tiga orang Majus dari Timur yang membawa persembahan kepada Bayi Yesus. Ya, Penampakan Tuhan melalui tiga orang Majus, yang mewakili seluruh umat manusia. Mereka datang dari Timur dan setibanya di rumah itu, mereka bersujud menyembah Tuhan, sang Raja Damai yang baru dilahirkan.

Bersujud dan Menyembah   

Di Hari Raya Epifani kita mendengar kata “sujud dan menyembah” yang dilakukan oleh para Majus yang datang dari Timur. Sujud dan menyembah ini juga kita lakukan dalam penyembahan pada Sakramen Mahakudus atau yang kita kenal dengan istilah “Adorasi Sakramen Mahakudus”.

Adorasi berasal dari bahasa Latin, adoratio, yang bermakna sembah sujud. Adorasi Ekaristi adalah tindakan sembah sujud, memberi hormat dan menyembah Yesus yang hadir dalam rupa Sakramen Mahakudus. Sejak perjamuan terakhir, ketika Yesus mengambil roti dan berkata, “Inilah Tubuh-Ku,” lalu mengambil anggur dan berkata, “Inilah Darah-Ku,” iman Katolik percaya roti dan anggur yang telah dikonsekrasi dalam Perayaan Ekaristi sungguh berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus sendiri. Lewat Tubuh dan Darah-Nya, Yesus Kristus secara istimewa hidup dan hadir bagi kita (E-Katolik).

Adorasi dan penyembahan dalam tradisi Katolik dilakukan pada hari Jumat pertama, atau Kamis malam, atau Sabtu pertama dalam satu bulan. Bahkan di setiap Gereja hampir mempunyai tempat secara khusus, yaitu ruang “sembah sujud” pada Sakramen Mahakudus. Tempat atau ruang “sembah sujud” menjadi tempat yang indah, yang nyaman ketika kita bertemu secara pribadi dengan Tuhan Yesus. Kita bisa mengungkapkan hati kita, berkeluh kesah, dan bersyukur, bahkan diam dihadapan-Nya. Itu semua memberikan kekuatan dan kelegaan dalam peziarahan hidup kita.

Penyembahan: Memberi Ruang bagi Rencana Allah

Penyembahan menurut Paus Fransiskus berarti “memberi ruang bagi rencana Allah,” dan menyadari bahwa kita milik Allah, “bisa berbicara dengan-Nya secara bebas dan intim”.  Selanjutnya beliau mengatakan, “Penyembahan berarti menemukan bahwa, ‘untuk berdoa, cukuplah mengatakan, ya Tuhanku dan Allahku’ dan membiarkan diri kita diliputi oleh kasih-Nya yang lembut.”

Dalam penyembahan atau adorasi Sakramen Mahakudus kita perlu datang, diam, dan tinggal dalam kasih Allah, mendengarkan Tuhan berbicara lewat keheningan hati. Kita diajak membuka hati dan menerima semua kasih karunia yang Allah berikan kepada kita. Melalui penyembahan, kita semakin dekat dan akrab dengan Tuhan yang kita sembah.

Paus Fransiskus juga mengatakan, “dengan berdoa dalam adorasi, kita izinkan Yesus menyembuhkan dan mengubah kita … mengubah kita dengan kasih-Nya, menyalakan terang di tengah kegelapan kita, memberi kita kekuatan dalam kelemahan, dan keberanian di tengah pencobaan” (Homili Paus Fransiskus, 6/1/20).

Orang-Orang Majus Datang dan Menyembah

Dalam Injil Matius, dikisahkan kedatangan orang-orang Majus ke Yerusalem dengan tujuan untuk menyembah Raja Orang Yahudi yang baru dilahirkan (bdk. Mat 2:2). Kedatangan para Majus membuat hati Raja Herodes gelisah, takut, dan kuatir akan kehadiran Sang Raja Kecil yang baru dilahirkan, yaitu Mesias. Dengan segala upaya dan tipu dayanya, Raja Herodes berupaya mencari informasi tentang Sang Mesias yang baru dilahirkan. Maka secara diam-diam Raja Herodes memanggil orang-orang Majus untuk bertanya perihal Raja Orang Yahudi (bdk. Mat 2:7).

Para Majus dengan tulus hati datang dari jauh untuk menyembah Mesias yang baru lahir. Ketika mereka melihat bintang, maka dengan sukacita mereka mengikutinya.  Akhirnya, para Majus tiba di tempat yang mereka tuju.  Mereka masuk, dan melihat Anak dan ibu-Nya, lalu para Majus “sujud dan menyembah” (bdk. Mat 2:10-11).

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah para Majus? Para Majus adalah buah-buah pertama para bangsa yang dipanggil untuk beriman dan mereka datang kepada Yesus bukan dengan tangan kosong tetapi dengan segala kekayaan dari tanah dan budaya mereka. Santo Leo Agung mengatakan: “Biarkanlah semua manusia, yang diwakili oleh tiga Majus ini, menyembah Pencipta semesta alam dan semoga Allah tidak hanya dikenal di Yudea, tetapi juga di seluruh muka bumi, karena agunglah nama-Nya di seluruh tanah Israel” (bdk. Mzm 75:2).

Anak dan Remaja Misioner Datang Menyembah

Di abad ini, Hari Raya Epifani menjadi sukacita bagi anak dan remaja misioner, karena Epifani menjadi hari khusus bagi mereka. Apa yang dapat dilakukan oleh mereka? Tahun 2021 ini, anak dan remaja misioner merayakan ulang tahunnya yang ke-178. Sudah banyak hal dan peristiwa yang telah dilakukannya dalam rangka mengisi hari-hari mereka. Masih teringat dan menjadi sebuah kenangan, ketika merayakan Ulang Tahun ke-175, anak dan remaja misioner mengadakan Jambore Nasional di Keuskupan Agung Pontianak. Ada banyak pengalaman, yang membuat para anak dan remaja misioner bertumbuh dalam semangat misioner sesuai dengan moto mereka “Children Helping Children”, dan dengan semangat 2D2K (Doa, Derma, Kurban, Kesaksian).

Di Hari Raya Epifani ini juga, anak dan remaja misioner dipanggil untuk datang dan menyembah Yesus Sang Bayi yang baru dilahirkan. Doa dan penyembahan menjadi bagian penting dalam kehidupan orang beriman. Sebagai pengikut Tuhan Yesus, kita juga belajar dari-Nya untuk selalu mengutamakan doa dan penyembahan. Doa menjadi nafas iman kita, menjadi sumber kekuatan dalam perjuangan hidup ini.

Salah satu semangat dasar dari anak dan remaja misioner adalah “doa”. Oleh karena itu, di Hari Raya Epifani ini juga, anak dan remaja misioner datang dan menyembah Tuhan Yesus. Melalui doa dan penyembahan pribadi maupun bersama, para anak dan remaja misioner akan bertumbuh imannya, dan semakin kokoh sebagai misionaris Tuhan Yesus. Paus Fransiskus juga menekankan tentang “penyembahan”. Beliau mengatakan: “Begitu kita kehilangan rasa penyembahan, kita kehilangan arah dalam kehidupan Kristen, yakni perjalanan menuju Tuhan” (Homili Paus Fransiskus, 6/1/20).

Menyembah: Memberi Kebebasan kepada Kita  

Di Hari Raya Epifani tahun 2020, Paus Fransiskus menekankan tentang “penyembahan”. Menurut Paus Fransiskus, Raja Herodes menggunakan kata menyembah hanya untuk menipu. Raja Herodes bukan ingin menyembah Allah, namun ia justru ingin menyembah dirinya sendiri. Hanya orang yang dengan jujur dan tulus akan datang dan menyembah, dan menemukan Allah yang hidup, yang mampu menggerakkan hati dan budinya. Doa dan penyembahan akan mendatangkan sukacita dan damai di hati.

Demikian juga, para imam kepala dan ahli Taurat, tidak mampu menyembah. Meskipun mereka tahu akan nubuat, “dan bisa mengutipnya dengan tepat“, mereka tidak bisa pergi ke sana sendiri. “Dalam kehidupan Katolik, berpengetahuan tidaklah cukup. Kalau kita tidak keluar dari diri sendiri, kalau kita tidak berjumpa dengan orang lain, dan menyembah, kita tidak bisa mengenal Allah,” kata Paus Fransiskus.

Paus berdoa, agar di awal tahun baru kita bisa “menemukan lagi bahwa iman menuntut penyembahan.” Paus mengatakan, “Adorasi, berarti menempatkan Tuhan sebagai pusat, bukan diri kita sendiri.”

Menurut Paus Fransiskus, “Menyembah Allah memberikan kebebasan kepada kita dari perbudakan terhadap berhala-berhala saat ini. Yang tidak boleh kita sembah, menurut Paus Fransiskus seperti: dewa uang, dewa konsumerisme, dewa keuangan, dewa kesuksesan, dewa diri sendiri.  Penyembahan berarti membungkuk rendah di hadapan yang Mahatinggi, dan menemukan dalam kehadiran-Nya bahwa hebatnya kehidupan tidak karena memiliki, tetapi karena mencintai.”

Penyembahan di Masa Pandemi Covid-19

Masa pandemi menjadi masa penuh pencobaan, perjuangan sekaligus masa yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Secara tidak langsung, kita mempunyai waktu lebih banyak di rumah dengan situasi saat ini. Sebagai seorang beriman, kita berharap agar pandemi segera berakhir. Maka, apa yang dapat kita lakukan? Berdoa. Memohon kepada Tuhan dan berharap agar masa pandemi segera berakhir. Melalui doa dan sembah sujud, kita menjalin relasi yang lebih dalam dengan Allah. Kita menyadari akan jati diri kita dihadapan-Nya.

Penyembahan di masa pandemi ini, menjadi prioritas. Ada banyak kesempatan bagi kita untuk datang kepada Tuhan, untuk menyembah dan memuji nama-Nya. Dalam keadaan apa pun, kita mensyukuri anugerah-Nya, seraya berbenah untuk menjadi seperti yang Tuhan inginkan.

Sr. Yohana, SRM

<<< Kembali ke Halaman Utama

Selanjutnya >>>