Keakraban Dengan Yesus Membebaskan Kita

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA 26 September 2017 :

Bacaan Ekaristi : Ezr. 6:7-8,12b,14-20; Mzm. 122:1-2,3-4a,4b-5; Luk. 8:19-21

“Orang-orang yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya” : inilah konsep keluarga bagi Yesus, sebuah konsep keluarga yang “lebih luas daripada konsep dunia”. Itulah fokus homili Paus Fransiskus dalam Misa harian Selasa pagi 26 September 2017 di Casa Santa Marta, Vatikan. Dalam Bacaan Injil (Luk. 8:19-21), Yesus mengatakan bahwa justru mereka yang datang kepada-Nya, dan mendengarkan pewartaan-Nya, adalah “ibu-Nya”, dan “saudara-saudara-Nya” : keluarga-Nya. Dan hal ini, kata Paus Fransiskus, membuat kita memikirkan konsep keakraban dengan Allah dan dengan Yesus, yang merupakan sesuatu yang lebih dari sekedar “murid” atau bahkan “sahabat”; keakraban bukanlah sikap “formal” atau “sopan”, apalagi sikap “diplomatis”. Maka, beliau bertanya, “Apakah arti sesungguhnya kata ini – keakraban – yang begitu sering digunakan para bapa rohani Gereja, dan telah mengajarkan kita?”

Pertama-tama, beliau mengatakan, keakraban berarti “masuk ke rumah Yesus, masuk ke atmosfer itu, hidup dalam atmosfer yang ada di rumah Yesus. Hidup di sana, merenungkan, menjadi bebas. Karena anak-anak bebas, orang-orang yang tinggal di rumah Tuhan bebas, orang-orang yang memiliki hubungan akrab dengan-Nya bebas. Selain itu, menggunakan sebuah kata dari Alkitab, adalah anak-anak dari ‘wanita budak’. Kita dapat mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang kristiani, namun mereka tidak berani mendekat kepada-Nya, mereka tidak berani memiliki keakraban ini dengan Tuhan. Selalu ada jarak yang memisahkan mereka dari Tuhan”.

Tetapi keakraban dengan Yesus, seperti yang diajarkan oleh para kudus besar, juga berarti “berdiri bersama-Nya, memandang-Nya, mendengarkan Sabda-Nya, berusaha melakukannya, berbicara dengan-Nya”. Kita berbicara kepada-Nya dalam doa, Paus Fransiskus menekankan, dan kita bisa berdoa bahkan dalam bahasa yang sama : “Tetapi Tuhan, apa yang Engkau pikirkan?”. “Inilah keakraban, bukan?”, kata Paus Fransiskus. “Selalu! Para kudus memilikinya. Santa Teresa ciamik, karena ia mengatakan ia menemukan Allah di mana-mana, bahkan di antara panci-panci di dapur”.

Akhirnya, Paus Fransiskus mengatakan bahwa keakraban berarti “tinggal” di hadirat Yesus, sebagaimana Ia sendiri menasehati kita pada Perjamuan Terakhir; atau sebagaimana yang kita lihat tercatat pada permulaan Injil, ketika Yohanes mengatakan, “Inilah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia. Serta Andreas dan Yohanes mengikuti Yesus” dan, seperti ada tertulis, “mereka tinggal, berdiam bersama-Nya sepanjang hari”.

Dan inilah, Paus Fransiskus mengulangi sekali lagi, sikap keakraban; yang sangat berbeda dari “kebaikan” orang-orang kristiani ini yang tetap menjaga jarak dari Yesus, mengatakan, “Engkau tinggal di sana, dan aku akan tinggal di sini”. Maka, Paus Fransiskus berkata, “Marilah kita mengambil melangkah maju dalam sikap keakraban dengan Tuhan ini. Orang kristiani, dengan segala permasalahannya, yang naik bus, atau kereta bawah tanah, dan berbicara secara batiniah dengan Tuhan – atau setidaknya tahu bahwa Tuhan sedang mempperhatikannya – dekat dengan-Nya : inilah keakraban, kedekatan, perasaan dirinya merupakan bagian dari keluarga Yesus. Marilah kita memohonkan rahmat ini bagi kita semua, untuk memahami makna keakraban dengan Tuhan. Semoga Tuhan menganugerahkan kita rahmat ini”.

 

(sumber: http://pope-at-mass.blogspot.co.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s