Homili: Adven adalah waktu untuk berdamai dengan jiwa, keluarga, lingkungan

Pada misa paginya di Casa Santa Marta pada hari Selasa, Paus Fransiskus berbicara tentang bagaimana orang Kristen dapat mempersiapkan Natal dengan membangun kedamaian dalam jiwa seseorang, dalam keluarga dan di dalam dunia melalui kerendahan hati.

Paus Fransiskus mendesak orang-orang Kristen untuk mempersiapkan diri mereka pada masa Adven ini untuk menyambut Natal dengan bersikap rendah hati dan berusaha membangun kedamaian dalam jiwa mereka, di dalam keluarga mereka dan di dalam dunia.

Membawakan homili di Misa, Jumat pagi di Casa Santa Marta, Vatikan, Paus mengatakan bahwa upaya perdamaian dapat berupa tidak berbicara buruk dan merugikan orang lain, meniru Tuhan yang merendahkan diri-Nya.

Menunjuk pada bacaan pertama, Yesaya, di mana serigala, domba, macan tutul dan anak kecil dapat hidup berdampingan tanpa saling melukai, Paus mengatakan Nabi berbicara tentang perdamaian Yesus yang mengubah kehidupan dan sejarah, karena itulah Dia disebut “Raja Damai.”

Jiwa
Adven oleh karena itu adalah masa untuk mempersiapkan diri bagi Raja Damai ini dengan berdamai dengan diri sendiri, jiwa kita, yang sering dalam kecemasan, penderitaan dan tanpa harapan. Untuk itu, seseorang harus memulai dari diri sendiri.

Paus berkata bahwa hari ini Tuhan bertanya kepada kita apakah jiwa kita damai? Jika tidak, maka kita harus meminta Raja Damai untuk menenangkan jiwa kita, agar kita dapat bertemu dengan-Nya. Paus mengatakan kita begitu terbiasa melihat jiwa orang lain daripada jiwa kita sendiri.

Keluarga
Setelah berdamai dengan jiwa kita, inilah saatnya untuk berdamai di rumah, di dalam keluarga, kata Paus. Paus mencatat banyak kesedihan dalam keluarga dengan banyaknya pergumulan, “perang kecil” dan kadang-kadang perpecahan.

Paus mendesak orang Kristen untuk memeriksa diri mereka sendiri apakah mereka telah hidup damai ataukah masih berperang di dalam keluarga mereka atau melawan orang lain, apakah mereka menjadi jembatan ataukah sebaliknya menjadi tembok yang memisahkan.

Dunia
Paus kemudian berbicara tentang perdamaian di dunia, di mana ada banyak perang, perpecahan, kebencian dan eksploitasi. Orang Kristen harus bertanya pada diri sendiri apa yang mereka sedang lakukan dalam usaha menciptakan perdamaian dunia dengan mengusahakan perdamaian di lingkungan, di sekolah dan di tempat kerja.

Paus mendesak umat Kristen untuk bertanya pada diri sendiri apakah mereka memiliki alasan untuk berperang, membenci, berbicara buruk tentang orang lain dan mengutuk ataukah sebaliknya mereka lemah lembut dan berusaha membangun jembatan.

Anak-anak juga dapat bertanya pada diri sendiri apakah di sekolah mereka menggertak teman yang tidak mereka sukai karena mereka mungkin dibenci atau lemah, ataukah mereka berdamai dan memaafkan segalanya.

Pembawa Damai seperti Tuhan
Damai, kata Paus, tidak pernah tinggal diam, tetapi bergerak maju. Harus dimulai dari jiwa dan setelah melewati perjalanannya yang damai, akan kembali ke jiwa. Membawa damai seperti meniru Tuhan. Ketika Dia ingin berdamai dengan kita dan mengampuni kita, Dia mengutus Anak-Nya untuk berdamai, untuk menjadi Raja damai.

Paus berkata sebagai pembawa damai, seseorang tidak harus bijaksana atau pandai atau belajar tentang damai. Damai adalah sikap yang Yesus bicarakan dalam Injil. Yesus memuliakan Allah karena Dia telah menyembunyikan hal-hal ini dari orang bijak dan pandai dan mengungkapkannya kepada orang-orang kecil.

Paus Fransiskus mendesak orang Kristen untuk membuat diri mereka kecil, rendah hati dan menjadi pelayan bagi orang lain. “Tuhan akan memberi Anda kemampuan untuk memahami bagaimana bisa berdamai dan akan memberi Anda kekuatan untuk mewujudkannya,” kata Paus meyakinkan.

Hentikan “perang kecil”
Paus mengatakan bahwa ketika ada kemungkinan “perang kecil” terjadi di rumah, di dalam hati, di sekolah atau di tempat kerja, kita harus berhenti sebentar dan berusaha untuk berdamai. “Jangan pernah, jangan pernah melukai yang lain. Jangan pernah, ”katanya, menasihati orang Kristen untuk mulai dengan tidak berbicara buruk tentang orang lain atau memulai perselisihan/pertikaian. Dengan cara ini, katanya, kita menjadi pria dan wanita pembawa damai, maju membawa perdamaian.

Oleh Robin Gomes

04 Desember 2018

Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s