Belajar Beriman dan Menjadi Hamba Seperti Maria

RENUNGAN HARIAN MISIONER & HARI MINGGU
LITURGI Th. C/I
2018-2019

Sabtu I ADVEN, 08 Desember 2018
Hari Raya SP Maria Dikandung Tanpa Noda
Kej.3:9-15,20; Ef.1:3-6.11-12; Luk. 1:26-38

Saudara-saudari terkasih,
Gereja hari ini merayakan Pesta Maria dikandung tanpa noda asal. Suatu perayaan yang mengandung makna mendalam tentang Allah yang dengan cara luar biasa melaksanakan karya keselamatan dengan melibatkan Maria di dalamnya. Kesucian Maria, tanpa noda dosa asal, adalah anugerah dan rahmat istimewa, berkat pilihan dan penyelenggaraan Allah, yang memilih dia menjadi Bunda Tuhan kita Yesus Kristus.

Kesucian Maria menandakan kebesaran kasih Allah kepada manusia, yang menyerahkan Putra-Nya menjadi manusia, bahkan menanggung duka-derita demi keselamatan dunia. Kata-kata Yohanes dengan tepat melukiskan hal itu, “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Dia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh.3:6).

Perwujudan kasih Allah itu mengikutsertakan Maria, yang ditentukan Allah sejak semula menjadi kudus, bebas dari noda dosa asal, karena dari rahimnya lahir Sang Mahakudus, Penebus dunia, Tuhan kita Yesus Kristus. Pilihan Allah pada Maria tentu bukan suatu kesewenangan, tetapi karena kebebasan dari pihak Maria untuk menyatakan, “YA” terhadap kabar gembira dari malaikat yang kita dengar di bacaan Injil hari ini.

Kepenuhan kebebasan Maria dinyatakan dalam “ketaatan totalnya” kepada kehendak Allah, kendati hal tersebut berada di luar kemampuan Maria untuk mewujudkannya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk.1:34). Ini bukan suatu pernyataan menolak, tetapi penegasan iman, bahwa kendati melampaui kemampuan manusia, bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk.1:37). Di hadapan kemahakuasaan Allah sebagaimana dikatakan malaikat, Maria menyadari dan menerima dirinya sebgai seorang hamba dan membiarkan Allah melaksanakan kehendak-Nya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk.1:38).

Ini adalah pengakuan dan pernyataan iman sejati di hadapan Allah. Allah adalah segalanya dan manusia bukanlah siapa-siapa. Seluruh diri Maria dipenuhi Sang Sabda yang menjadi manusia, maka Maria dibebaskan dari noda dosa asal. Ia dikandung tanpa noda dosa. Inilah inti perayaan hari ini. Dari Maria kita belajar beriman dengan menyerahkan diri seluruhnya pada kehendak Allah, kendati hal itu sama sekali tak mungkin bagi kita. Dari Maria kita belajar menerima diri sebagai seorang hamba, yang membuka diri dan membiarkan diri menjadi tempat Allah melaksanakan kehendak-Nya.

Ketaatan Maria adalah pintu ke dalam keselamatan yang dikerjakan Allah dalam Yesus; pintu yang ditutup karena dosa manusia pertama, kini terbuka berkat iman dan ketaatan Maria dan kita semua mengambil bagian dalam keselamatan dalam dan oleh Kristus. Dari Maria kita belajar beriman dan menjadi hamba yang berkenan di hadapan Allah.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s