Lihat, Aku Menjadikan Segalanya Baru

RENUNGAN HARIAN MISIONER & HARI MINGGU
LITURGI Th. C/I
2018-2019

Jumat I ADVEN, 07 Desember 2018
Hari Biasa
Yes.29:17-24 & Mat. 9:27-31

Satu dari empat lilin korona Adven telah menyala. Lilin pertama yang menyala adalah lilin harapan. Sebab di minggu Pertama masa Adven ini, kita diundang untuk mengobarkan harapan kita akan kedatangan Yesus yang kedua, yaitu kedatangan-Nya dalam kemuliaan. Bagaimana suasana parousia atau kedatangan-Nya yang kedua itu? Bacaan pertama hari ini dari kitab nabi Yesaya memberikan sedikit gambaran.

Dikatakan bahwa, “Libanon akan menjadi kebun buah-buahan dan hutan yang lebat.” Artinya, kedatangan Kristus sebagai Raja tidak sekedar berdampak sosial-politik kemanusiaan tetapi punya efek kosmis: seluruh alam raya akan dibarui. Alam yang sudah rusak karena perbuatan manusia, akan dilahirkan secara baru. Hutan-hutan yang gundul karena penambangan liar atau karena perkebunan sawit akan penuh dengan pepohonan lagi. Laut dan sungai yang terpolusi akan segar kembali. Tidak ada lagi orang utan yang merana atau ikan paus yang mati karena menelan puluhan kilogram sampah plastik. Tuhan akan membawa keadilan, juga bagi alam!

Kelahiran kembali alam semesta disempurnakan dengan dipugarnya komunitas manusia. Pada akhirnya nanti, mereka yang rendah hati akan berdiri tegak; yang selama ini dilupakan dalam sengsaranya akan tampil ke muka sebagai pemenang. Semua terjadi karena Tuhan sendiri pernah mengalami penderitaan, direndahkan dan dibunuh tapi kemudian bangkit. Pada kedatangan-Nya yang kedua, kebangkitan-Nya akan dialami setiap orang yang rendah hati, yang dipermalukan, yang diabaikan oleh para congkak dan penguasa.

Dengan menyembuhkan kedua orang buta sebagaimana dikisahkan dalam Injil hari ini, Yesus memperlihatkan bahwa kemuliaan masa depan itu sudah dimulai. Kuasa Kerajaan Surga sudah menjalar melalui kata dan perbuatan-Nya. Yang dituntut dari kita: iman, yaitu keterbukaan hati untuk mendengarkan dan hidup berdasarkan sabda-Nya. Hanya dengan demikian, kitapun akan disembuhkan dari “kebutaan” kita, yaitu ketidakmampuan kita melihat bahwa sebenarnya, detik inipun Tuhan sedang membarui segalanya.

(RD.Carolus Putranto Tri Hidayat – Dosen Teologi STF Driyarkara)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s