Homili: Tuhan adalah gunung batu tempat kita membangun hidup kita

Berbicara dan berbuat. Pasir dan gunung batu. Tinggi dan rendah. Paus Fransiskus menggunakan tiga pasang kata yang memiliki makna yang berbeda ini sebagai tema homilinya di Misa harian.

Paus Fransiskus dalam homilinya pada hari Kamis, berfokus pada tiga pasang kata, yang ada di dalam Bacaan hari itu: berbicara dan berbuat; pasir dan gunung batu; tinggi dan rendah.

Berbicara dan berbuat
Pasangan kata yang pertama, “berbicara dan berbuat,” membedakan dua pendekatan yang memiliki makna yang berbeda dalam kehidupan Kristiani:

Berbicara adalah sebuah cara untuk menjadi percaya, tetapi jika hanya berbicara saja masih sangat dangkal, seperti hanya melakukan separuh perjalanan: Saya adalah seorang Kristiani, tetapi saya tidak bertingkah laku sebagai seorang Kristiani. Bila disederhanakan, hanya bergaya seperti seorang Kristiani: hanya mengucapkan kata-kata saja untuk mengelabui, berkata-kata tanpa diikuti perbuatan. Pengajaran Yesus memiliki wujud yang nyata, selalu konkret. Ketika seseorang datang mendekat dan meminta nasehat, (DIA selalu menyarankan) mengenai hal-hal yang nyata. Perbuatan belas kasih adalah wujud yang nyata.

Pasir dan batu karang
Pasangan kata yang kedua juga saling berlawanan. Pasir merupakan elemen yang tidak padat, sama halnya dengan berbicara tanpa berbuat; bergaya seperti seorang Kristiani. Sebuah hidup yang dibangun tanpa fondasi.

Batu karang itu, di sisi lain, adalah Tuhan:

DIA adalah sumber kekuatan. Tetapi seringkali, orang-orang yang percaya pada Tuhan tidak terlihat, tidak memiliki kesuksesan, mereka tersembunyi… tetapi mereka selalu beriman teguh. Mereka tidak menaruh pengharapan mereka pada kata-kata, kebanggaan, kesombongan, pada kuasa kehidupan fana, (tetapi) mereka menaruhnya di dalam Tuhan, batu karang itu. Perwujudan nyata kehidupan Kristiani membuat kita terus berjalan maju dan membangun di dalam Tuhan, sang Batu Karang, yaitu Yesus; membangun di atas dasar kokoh keilahian. Bukan di atas penampilan, kebanggaan, kesombongan, anjuran orang lain… Tidak. Tetapi (di atas) kebenaran.

Tinggi dan rendah
Paus kemudian beralih pada pasangan kata yang ketiga, tinggi dan rendah, yang memiliki perbedaan makna antara jalan kesombongan dan sia-sia, di satu sisi, dengan jejak kerendahan hati di sisi yang lainnya. Mengutip perkataan Nabi Yesaya dalam Bacaan, Paus Fransiskus menggarisbawahi bahwa Tuhan, “merendahkan mereka yang berada di tempat yang tinggi, dan menaklukkan benteng-benteng yang kuat; DIA meratakannya dengan tanah, mencampakkannya menjadi debu. Diinjak-injak oleh orang-orang yang sengsara, oleh telapak kaki orang-orang lemah.

Perkataan Nabi Yesaya ini terungkap juga di Magnificat, nyanyian Bunda kita: Tuhan mengangkat orang yang rendah hati, mereka yang hidup tulus setiap hari dan mengalahkan keangkuhan. Mereka yang membangun hidup mereka dengan kesombongan, kebanggaan… semua itu tidak akan bertahan lama.

Pertanyaan untuk Adven
Pada masa Adven ini, Paus berkata, akan sangat baik untuk bertanya pada diri kita sendiri beberapa pertanyaan yang penting: “Apakah saya adalah seorang Kristiani yang hanya mampu berkata-kata ataukah juga mampu berbuat?” “Apakah saya telah membangun hidup saya di atas batu karang Tuhan, atau saya membangun hidup saya di atas pasir keduniawian, di atas kesombongan?” “Apakah saya rendah hati, selalu memilih jalan kesederhanaan, lepas dari kebanggaan, untuk melayani Tuhan?

06 Desember 2018
Oleh: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s