Pekikan Misionaris Tuhan

RENUNGAN HARIAN MISIONER & HARI MINGGU
LITURGI Th. C/I
2018-2019

Pekan Adven II, 09 Desember 2018
Bar. 5:1-9 & Flp. 1:4-6, 8-11 & Luk. 3:1-6

Nabi Barukh menyerukan kepada Yerusalem, “Allah memerintahkan, supaya diratakanlah segala gunung yang tinggi dan segenap bukit abadi dan supaya sekalian jurang menjadi tanah yang rata…” Yohanes Pembaptis yang datang kemudian, menyerukan hal yang kurang lebih sama, “Luruskanlah jalan bagi Tuhan. Setiap lembah akan ditimbun, setiap gunung dan bukit akan menjadi rata. Yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan.”

Seruan Barukh ditujukan kepada orang Israel, merupakan kabar gembira bahwa sesudah pembuangan yang begitu memalukan dan penuh derita, mereka akan berarak kembali dalam naungan kemuliaan Allah. Begitu juga Yohanes Pembaptis, sang suara, pendahulu, penyiap jalan Tuhan sang Almasih, menyerukan agar orang-orang segera mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan.

Jalan-jalan yang ada di seantero tanah air kebanyakan berbukit-bukit, berlembah, berkelok-kelok, bahkan melewati jurang terjal dan dalam. Jalan-jalan ini merupakan lambang dari jalan hidup kita menuju Tuhan.

Jurang yang harus ditimbuni, apa itu? Itulah dosa-dosa yang menciptakan rongga kekosongan, cacat dalam hidup yang seharusnya utuh dari seorang Kristiani. Itulah relasi yang rusak, hancur pada dusta, gosip, kekurangan keutamaan dan kebaikan, ketiadaan tobat dan vakumnya kebajikan. Akibatnya kita menjadi manusia yang lemah, tak berakar dan terhempas dalam jurang kehampaan yang dalam.

Gunung dan bukit yang harus diratakan, apa itu? Itulah kecenderungan dan kebiasaan-kebiasaan penuh ambisi pribadi, keangkuhan atas sesuatu yang dimiliki. Itulah gunung-gunung egoisme yang menjulang dan tidak memberi tempat pada Tuhan, bahkan yang menjadikan diri sendiri sebagai Tuhan yang baru. Itulah dosa-dosa kesombongan, kekuasaan, kemarahan yang menguasai hidup seorang Kristiani. Akibatnya relasi kita dengan Allah menjadi sulit, penuh tanjakan dan halangan.

Jalan yang berliku dan berlubang-lubang, apakah itu? Itulah dosa-dosa yang merusakkan dan menghancurkan citra seorang kristiani yang adalah Image of God. Itulah dosa-dosa dari hidup yang mendua, bengkok, seperti orang mabuk tanpa arah dan kesadaran; itulah hidup yang melekat pada dunia yang sesat dan fana seperti kelekatan pada hobi, kesenangan, kepuasan, kenikmatan sesaat, pada kebodohan-kebodohan ciptaan iblis. Itulah dosa-dosa ketidaksetiaan pada janji baptis, janji perkawinan, janji dan sumpah profesi serta tugas/pekerjaan. Kesimpangsiuran hidup ini menjadikan orang Kristiani kehilangan rupa Allah dan menjadi bodoh serta kehilangan harga diri.

Barukh dan Yohanes Pembaptis menjalankan tugas mereka dengan baik. Barukh menghembuskan api pengharapan, semangat membara baru bagi mereka yang merunduk karena putus asa, yang merasa diabaikan dan ditinggalkan Tuhan. Mereka menjadi tegak lagi, hidup lagi, menjadi beriman lagi dan kemudian dapat menikmati kemuliaan Tuhan. Tanpa Barukh, mereka mungkin tergeletak mati dalam keputusasaan. Terima kasih Barukh untuk kata-kata positifmu, untuk janji menggembirakan Tuhan yang kau wartakan. Andaikan kau diam, Barukh, apa yang akan terjadi?

Dan engkau, Yohanes Pembaptis, suara di padang gurun yang tak kenal lelah, tak kenal kompromi. Demi kebaikan umat pilihan Allah, demi pertobatan, demi kembalinya ke citra yang asli, engkau tak takut, engkau tak gentar, engkau suarakan kebenaran, sukacita injil, engkau pekikkan agar mereka melihat adanya bahaya yang mengintai jika mereka tidak cepat sadar dan berbalik. Betapa banyak orang meluruskan jalannya, meratakan gunung kecongkakan, menimbun tubir-tubir dosa dan kekosongan hidup rohani mereka. Dan mereka bertobat, berdamai dengan Tuhan.

Semua orang akan melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Tetapi selalu dibutuhkan, pewarta, pemberita sukacita injil, penunjuk jalan, penghadir suara Tuhan, agar hidup tidak berakhir pada keputusasaan dan kegelapan. Dibutuhkan orang berani yang menegur atas dasar kebenaran, cinta dan demi kebaikan para pendengar. Dibutuhkan misionaris yang menyerukan orang kembali ke citra sejatinya sambil memulihkan hidupnya yang bercabang, penuh jurang dan kesimpangsiuran.

Terima kasih Barukh, terima kasih Yohanes Pembaptis. Terima kasih pada anda juga, ketika anda melihat anda juga mampu dan bisa menjadi Barukh dan Yohanes Pembaptis. Ingat, betapa bersyukurnya orang-orang yang mendengarkan suara Barukh, suara Yohanes Pembaptis. Dan suaramu juga…

(RD. Terry Thomas Ponomban – Pastor Paroki St. Antonius Padua, Manado)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s