Misionaris Teruslah Mencari

RENUNGAN HARIAN MISIONER & HARI MINGGU
LITURGI Th. C/I
2018-2019

Selasa Pekan II Adven, 11 Desember 2018
Yes. 40: 1-11 & Mat. 18:12-14

“Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang” (Mat. 18: 14).

Hari ini dalam bacaan kita menemukan kabar sukacita bahwa kesempatan perjumpaan antara Allah dan umat pilihan-Nya akan terjalin kembali. Yesaya menyerukan firman Tuhan: “Hiburlah, hiburlah umat-Ku! Tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari Tuhan dua kali lipat dari segala dosaNya.” Berita ini hendak melukiskan kepada kita bahwa selama ini Allah sungguh mencari dan proses pencarian-Nya telah mencapai titik temu, di mana Allah telah menemukan kembali umat pilihan-Nya. Ia akan membawa pulang umat pilihan-Nya dengan penuh sukacita.

Sikap Allah yang mencari ini juga nyata dalam bacaan ini hari ini. Melalui kisah perumpamaan tentang domba yang hilang, Yesus melukiskan kepada kita kesungguhan Allah dalam hal mencari lewat diri si pemilik domba. Pemilik domba sungguh-sungguh merasa kehilangan seekor domba dan dia berusaha untuk mencari serta menemukan kembali. Usaha yang dilakukannya ialah meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor domba pada tempat yang aman yaitu di pegunungan dan pergi mencari seekor domba yang hilang atau tersesat itu. Pencariannya akhirnya mendapat hasil, ia menemukan kembali domba yang hilang dan mengalami sukacita. Hal ini mau menunjukkan kepada kita sikap setia serta kecintaan pemilik domba yang tidak lain adalah Allah terhadap domba-Nya (kita manusia). Bagi-Nya bukan soal jumlah tapi soal kesetiaan dan cinta. Meskipun hanya seekor tapi itu sangat berharga. Allah tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak-Nya hilang atau tersesat sebab manusia itu berarti dan berharga di mata-Nya.

Dewasa ini kehilangan itu terjadi di mana-mana dan dampak buruknya pun tidak sedikit dialami oleh umat manusia. Persoalan kehilangan itu tidak sekedar terletak pada persoalan harta benda tetapi lebih dari pada itu terletak pada bagian terdalam dari inti kehidupan manusia. Manusia kehilangan jati dirinya sebagai makhluk yang berharga di mata Allah. Demi mewujudkan ambisi diri, manusia rela melakukan segala sesuatu yang tidak wajar dan tidak berkenan di hadapan Allah. Akibatnya manusia yang suci, manusia yang jujur, adil dan beriman perlahan-lahan punah dari hadapan Allah dan sesama. Manusia lebih suka bersekutu dengan kejahatan. Fitnah-memfitnah menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Keahlian menipu dan menyebarkan berita bohong menjadi ilmu yang dikejar-kejar oleh umat manusia ini.

Kenyataan ini bila dibiarkan maka Gereja dan Bangsa akan mengalami kehilangan segala-galanya bahkan Allah akan mengalami kehilangan umat yang dikasihi-Nya. Dan jika Allah mengalami kehilangan itu artinya kabar buruk untuk manusia. Manusia akan mengalami kebinasaan. Untuk itu peran misionaris di sini sangat dibutuhkan untuk menemukan kembali sesuatu yang hilang dari diri umat manusia. Gerakan yang keluar dari diri kita dan usaha untuk menemukan kembali manusia yang hilang harus mempunyai daya yang kuat. Seorang misionaris tidak boleh tinggal diam di tempat atau menatap dari kejauhan. Sebaliknya seorang misionaris harus keluar dan terus mencari domba-domba yang hilang, demi keselamatannya juga keselamatan seluruh umat manusia.

(RD. Tiburtius Plasidus Mari – Dirdios KKI Keuskupan Weetebula)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s