Belajar Menjadi Seperti Yesus Kristus

RENUNGAN HARIAN MISIONER & HARI MINGGU
LITURGI Th. C/I
2018-2019

Rabu Pekan II Adven, 12 Desember 2018
Yes. 40:25-31 & Mat. 11:28-30

Manusia kerap kali melihat beban hidupnya sebatas kesulitan finansial, ditinggalkan oleh orang yang dikasihi, pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya, hutang yang semakin besar, kelemahan fisik karena sakit dan sebagainya. Berbagai cara ditempuh manusia untuk lepas dari beban hidupnya dan tidak jarang dari kita hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri.

\Sebagai seorang Imam di pedalaman, beban hidup umat yang saya layani pada umumnya adalah kesulitan ekonomi dan hutang yang besar karena pesta pernikahan dan acara ritual kematian yang tidak sedikit memakan biaya. Nabi Yesaya datang kepada umat Israel di pembuangan untuk membesarkan hati mereka, “Allah kita tidak seperti dewa-dewa lain, Dia pencipta dan pemilik segala-galanya.” Dia tidak pernah mengecewakan siapapun. Semua orang yang berbeban diundang untuk datang kepada-Nya, sebagaimana perkataan Yesus. Apakah pewartaan ini cukup membantu sementara mereka tetap kelaparan? Namun di sisi lain, tidak jarang kita melihat banyak orang yang berkelimpahan makanan tetapi tetap saja mengeluh dan berbeban berat.

Menjadi pertanyaan bagi kita, apa sesungguhnya beban hidup itu? Bagaimana cara yang tepat untuk menghadapi segala beban dan persoalan hidup kita masing-masing? Sabda Yesus jelas bagi kita, “Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat.11:28). Sabda ini terdengar indah, ketika saya dapat menjadi saluran rahmat Tuhan melalui Sakramen Pengurapan Orang Sakit bagi mereka yang sakit keras dan dalam sakratul maut. Dalam kaca mata iman saya, melalui sakramen ini si sakit kerap kali mendapat kekuatan dalam iman, bahkan kemudian mampu tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas pelayanan yang telah diterimanya.

Namun, kita tidak perlu menunggu sehingga sakit keras untuk benar-benar percaya akan Sabda Tuhan ini. Yesus mengajak kita untuk memikul kuk yang terpasang pada diri kita masing-masing dan belajar sebagaimana Dia memanggul salib dosa kita dengan tabah dan penuh cinta. Kita perlu belajar kepada-Nya yang lemah lembut dan rendah hati agar hati kita dipenuhi ketenangan ketika kita menghadapi berbagai persoalan hidup.

Yang lebih luar biasa lagi, bila kita mau dipakai oleh Yesus sebagai alat-Nya yang berguna untuk meringankan beban hidup orang lain. Sebab, perkataan-Nya dalam Injil hari ini sesungguhnya adalah merupakan panggilan hidup untuk kita pula sebagai murid-murid yang dikasihi-Nya. DIA mau memakai kita menjadi saluran dan berkat bagi sesama. Salam Misioner.

(RD. Hendrik Palimbo – Pastor Paroki Renya Rosari Deri-Toraja Keuskupan Agung Makassar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s