Audiensi: “Doa Bapa Kami mengarahkan penderitaan menjadi dialog”

Meneruskan katekesenya mengenai doa Tuhan pada Audiensi Umum mingguan, Paus Fransiskus mengatakan bahwa doa Bapa Kami mengundang kita untuk mengarahkan setiap rasa sakit dan kekeruhan hati menjadi dialog dengan Allah.

Paus Fransiskus melanjutkan refleksinya mengenai doa Bapa Kami selama Audiensi Umum hari Rabu, dengan menyebutnya sebagai “sebuah doa yang berani”.
“Saya mengatakan berani karena, jika Kristus tidak mengajarkannya, tak seorang pun dari kita akan mungkin berani berdoa kepada Allah dengan cara seperti ini,” jelasnya.
Bapa Suci menggarisbawahi bahwa tidak ada pengantar untuk doa tersebut. Yesus, katanya lagi, mengundang kita untuk berdoa secara langsung kepada Tuhan tanpa hambatan atau rasa takut. “Ia tidak mengatakan kepada kita untuk menyebut Allah “Mahakuasa” atau “Mahatinggi” atau “Engkau, yang begitu jauh dari kami…,” tetapi dengan cara yang sederhana menggunakan sebutan “Bapa”… yang mengungkapkan keintiman dan kepercayaan penuh.”

7 pertanyaan untuk kehidupan sehari-hari
Paus Fransiskus mengatakan bahwa doa Bapa Kami disusun dari tujuh pertanyaan, penyebutan angka tujuh menandakan kepenuhan dalam Kitab Suci.
Ia mengatakan setiap dari tujuh permohonan itu berakar dalam pengalaman hidup kita sehari-hari dan kebutuhan dasarnya. Kita meminta roti, kata Paus, untuk mengingatkan kita bahwa “doa dimulai dengan hidup itu sendiri.”
“Doa – Yesus mengajarkannya kepada kita – mulai bukan ketika perut kenyang tetapi di manapun saat seseorang kelaparan, menangis, bertengkar, menderita dan bertanya pada diri sendiri mengapa.”

Paus Fransiskus mengatakan doa pertama kita “merupakan tangisan yang menyertai nafas sejati kita sebagai bayi yang baru lahir, karena hal itu memaklumkan takdir hidup kita: kelaparan dan rasa haus serta pencarian akan kebahagiaan yang terus berkelanjutan.”

Penderitaan menjadi dialog
Doa Yesus, Bapa Suci berujar, mengubah setiap rasa sakit dan kekeruhan hati menjadi dialog dengan Allah, daripada memadamkan kemanusiaan kita atau membius penderitaan kita.
“Iman,” kata Paus, “adalah sebuah kebiasaan untuk berteriak.”

Ia memberi contoh tentang Bartimeus yang buta (Mrk. 10:46-52), yang berteriak memanggil Yesus, meskipun banyak teguran dari orang-orang di sekitarnya dan ia disembuhkan. Yesus, kata Paus Fransiskus, seperti mengatakan bahwa “Faktor yang menentukan penyembuhannya adalah doanya – permohonannya yang diteriakkan dalam iman – yang lebih kuat daripada akal sehat dari orang-orang yang menginginkannya untuk diam.”

Doa yang otentik
Akhirnya, Paus Fransiskus mengingatkan agar tidak memeluk teori bahwa doa permohonan – atau meminta sesuatu untuk diri sendiri – adalah bentuk iman yang lemah. “Tidak!” katanya, “Iman yang memohon adalah otentik. Ini merupakan tindakan spontan dan tindakan iman akan Allah yang adalah sang Bapa.”

“Allah sungguh seorang Bapa yang memiliki belaskasih kepada kita dan menginginkan anak-anak-Nya datang kepada-Nya secara langsung dan tanpa rasa takut.”

Oleh: Devin Watkins
12 December 2018
Sumber: Vatican News

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s