Pertobatan yang Radikal

RENUNGAN HARIAN MISIONER & HARI MINGGU
LITURGI Th. C/I
2018-2019

Kamis Pekan II Adven, 13 Desember 2018
Yes. 41:13-20 & Mat. 11:11-15

Masa Adven menjadi kesempatan bagi kita untuk merefleksikan pengalaman perjumpaan dan pertolongan Tuhan dalam hidup kita dan mengajak kita untuk mempersiapkan diri kita menyambut kedatangan-Nya. Bacaan pertama mengisahkan situasi bangsa Israel, bangsa pilihan Allah yang tinggal di pengasingan. Mereka kehilangan segalanya; rumah mereka, tanah kelahirannya, Kerajaan dan Bait Allah, tempat Allah berdiam. Kerajaan Israel yang kuat di zaman Raja Salomo, kini hanyalah “cacing” dan “ulat”. Tidak ada lagi tanda-tanda kemegahan. Kehancuran bangsa Israel adalah buah dari lemahnya moral kepemimpinan dan kejahatan para pemimpinnya, baik itu politik maupun agama. Dosa para pemimpin telah membawa kehancuran bagi umatnya. Dalam situasi ini, Allah mengutus nabinya untuk mengingatkan mereka agar bertobat, berbalik kepada Allah, dan membangun hidup mereka yang baru. Namun mereka menolak seruan nabi bahkan memenjarakan dan membunuh nabi-nabi mereka.

Dalam realitas kehidupan kita saat ini, kita pun menghadapi situasi yang sama. Selalu ada perselisihan dan perpecahan, baik itu di dalam kehidupan keluarga, di dalam komunitas kita, atau dalam skala luas dalam pilihan politik berbangsa. Kita juga kekurangan pemimpin yang memberikan teladan yang baik, bekerja dengan tulus dan tanpa pamrih serta berbudi luhur. Kita menyadari bahwa keteladanan dari pemimpin yang baik akan menghasilkan generasi yang baik. Ketika para pemimpin kehilangan integritas moralnya, tidak berpihak pada orang-orang kecil dan tidak bersikap jujur, mereka sedang memberikan teladan yang buruk kepada orang-orang yang dipimpinnya. Karena sesungguhnya para pemimpin yang baik, rendah hati dan berbudi luhur, baik politik maupun agama akan membawa perubahan yang besar dalam kehidupan bersama.

Ketika realitas hidup kita yang demikian, Allah masih memberikan kita “harapan” agar kita sanggup membangun hidup kita sendiri dan komunitas/negara menjadi lebih baik. Pertolongan selalu datang dari Allah. Sebagaimana Ia memberikan janji-Nya kepada bangsa Israel, Ia pun akan memulihkan kita dari situasi hidup kita yang terpuruk. Ia akan menjadikan kita umat pilihan-Nya dan boleh menyambut kedatangan-Nya. Karena itu dituntut “pembaharuan dalam hidup kita.” Bagaimana pembaharuan itu dapat terjadi? Dalam masa Adven ini, Yohanes Pembaptis menjadi teladan dan penuntun kita untuk membaharui hidup kita. Dialah yang akan menunjukkan kepada kita cara kita membaharui hidup kita. Dialah “Elia” yang baru, yang mempersiapkan kedatangan Tuhan,

Bagaimana kita membaharui hidup kita? Pertama, “Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan hati!” Kita harus berbalik kepada Tuhan dengan meratakan gunung-gunung kecongkakan dan bukit-bukit egoisme kita dan mengisi lembah-lembah kegersangan hidup rohani kita. Kita dipanggil untuk menyingkirkan rintangan-rintangan yang menghalangi kita untuk melihat kebenaran sejati dan mengisi kekosongan hidup kita dengan kasih Tuhan dan kasih untuk sesama. Pertobatan adalah langkah pertama bagi kita untuk membarui hidup kita. Maka, masa Adven menjadi kesempatan bagi kita juga untuk menerima sakramen pengakuan/rekonsiliasi, agar kita dapat membangun relasi yang baru lagi dengan Allah dan sesama kita sebelum kita menyambut kedatangan Yesus dalam perayaan Natal.

Kedua, “Yohanes juga menyerukan keberanian untuk menerima rahmat Allah.” Ketika Yesus mengatakan bahwa “kerajaan Allah harus diambil dengan paksa,” Dia ingin kita menyadari bahwa pertobatan sejati hanya terjadi ketika Tuhan masuk dengan cara radikal dalam hidup kita. Pengalaman-pengalaman biasa bersama dengan Tuhan hanya akan menghasilkan pertobatan yang dangkal. Namun ketika seseorang mengalami Tuhan secara radikal dalam hidupnya, dengan cara yang menakjubkan dan mengejutkan, melebihi semua harapan dan perhitungan manusia, pertobatannya akan menjadi lebih besar. Pengalaman pertobatan Rasul Paulus dan pengakuan Petrus menjadi contoh bagi kita, sebuah pertobatan yang radikal. Namun, apakah kita siap untuk menghadapi kedatangan-Nya dengan cara yang spektakuler. Kita seringkali mengatur hadirnya Tuhan, bahwa Dia “hanya” datang melalui cara tradisional seperti dalam doa Rosario, menghadiri misa pembaharuan karismatik, berbahasa roh, mukjizat penyembuhan, dll. Namun, Dia bisa datang juga ketika kita melayani dan bertemu orang miskin.

Sesungguhnya Tuhan datang dengan cara yang paling tidak kita harapkan. Dia bisa datang melalui retreat pribadi kita, retreat Karismatik, doa penyembuhan, atau bahkan dalam doa pribadi kita. Yang utama bagi kita adalah bahwa kita tidak menempatkan rintangan atau batas serta cara bagaimana Dia ingin masuk dalam hidup kita. Jika kita membatasi cara Tuhan datang menjumpai kita maka kita mengatakan bahwa Kerajaan Allah harus datang sesuai dengan keinginan kita. Namun, ketika Tuhan datang dengan cara yang mengejutkan, kita akan mengenali kuasa dan kasih-Nya. Semakin besar kejutannya, semakin radikal perjumpaan kita dengan Tuhan.

Maka, di masa Adven ini, marilah kita membuka telinga dan hati kita untuk menanggapi panggilan pertobatan. Apakah hati kita sudah siap untuk menerima kedatangan Tuhan? Inilah saatnya kita di panggil untuk mempersiapkan diri kita. “Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!”

(RP. Gabriel Joseph, CSsR – Imam di Manila)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s