Paus di Angelus: ‘St.Stefanus Mengajarkan Kita untuk Memaafkan’

Saat doa Angelus pada peringatan Santo Stefanus, Paus Fransiskus menyebutkan bahwa Stefanus, martir Kristen pertama, mengajarkan kita untuk percaya pada Tuhan dan selalu mengampuni orang lain.

Paus Fransiskus berdoa Angelus pada hari Rabu bersama para peziarah dan turis yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus.

Ketika Gereja merayakan pesta martir Kristen pertama, Bapa Suci merefleksikan teladan iman Santo Stefanus kepada Tuhan dan tentang pengampunan.

“Pengampunan,” katanya, “memperluas hati, membuahkan semangat berbagi dan memberikan ketenangan serta kedamaian.”

Sukacita dan kemartiran
Saat berbicara sehari setelah Natal, Paus Fransiskus mengungkapkan kontras antara kelahiran penuh sukacita Anak kecil dan drama kejam martir Santo Stefanus “mungkin tampak aneh.”

“Dalam kenyataan ini bukan persoalannya, karena Bayi Yesus adalah Anak Allah yang menjadi manusia, yang akan menyelamatkan manusia dengan mati di kayu salib.”

Stefanus, kata Paus Fransiskus, adalah orang pertama yang mengikuti jejak Yesus dengan jalan mati syahid sebagai martir. Dia mati seperti Yesus, “memercayakan hidupnya kepada Allah dan mengampuni penganiaya-penganiayanya.”

Percaya kepada Tuhan
Dalam Bacaan Pertama hari itu (Kisah Para Rasul 6: 8-10; 7: 54-59), diakon Stefanus diseret di hadapan Sanhedrin di Yerusalem dengan tuduhan penistaan agama. Dia berbicara panjang lebar kepada mereka, tetapi mereka marah dengan kata-katanya. Mereka melemparkannya ke luar kota dan melempari dia dengan batu sampai mati.

Paus Fransiskus berkata bahwa Stefanus menunjukkan sikap penerimaan yang setia atas hidup apa pun, baik itu positif atau negatif. “Percaya kepada Tuhan membantu kita menyambut saat-saat sulit dan menjalaninya sebagai kesempatan untuk bertumbuh dalam iman dan untuk membangun hubungan baru dengan saudara-saudari kita,” katanya.

Maafkan selalu
Stefanus, kata Paus, juga meniru Yesus dengan sikap pengampunan, berdoa untuk para penganiaya.

“Kita dipanggil meneladaninya untuk mengampuni dan untuk selalu memaafkan.”

Teladan Stefanus adalah cara untuk menjalani hubungan kita dengan orang lain: dalam keluarga, di sekolah atau di tempat kerja dan dalam kehidupan paroki. “Logika pengampunan dan belas kasihan selalu menang dan membuka cakrawala harapan.”

Pengampunan, kata Paus Fransiskus, dikembangkan melalui doa, “yang memungkinkan kita menjaga pandangan kita tertuju pada Yesus.”

Berdoalah dengan sungguh-sungguh
Dia berkata bahwa Stefanus dapat mengampuni para pembunuhnya karena, “penuh dengan Roh Kudus, dia menengadah ke langit dan matanya terbuka oleh Tuhan.”

“Doa memberinya kekuatan untuk menderita sebagai martir.”

Kita juga, Paus menyimpulkan, perlu berdoa dengan intensif kepada Roh Kudus untuk “memohon karunia kekuatan yang menyembuhkan ketakutan kita, kelemahan kita dan pikiran kita yang kecil.”

26 Desember 2018
Oleh: Devin Watkins
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s