Paus pada Audiensi mingguan: “Percaya kepada Bapa yang tahu apa yang kita butuhkan”

Paus Fransiskus melanjutkan katekese tentang Doa Bapa Kami di Audiensi Umum hari Rabu, dengan mengingatkan bahwa kita perlu menghindari kemunafikan dan tetap terbuka terhadap kehendak Tuhan.

Paus Fransiskus memulai katekese dengan mengatakan bagaimana Injil Matius secara strategis menempatkan teks doa Bapa Kami “di tengah-tengah Khotbah di Bukit, yang dimulai dengan Sabda Bahagia.” Penempatan ini penting karena memadatkan aspek-aspek mendasar dari pesan Yesus, katanya.

Sabda Bahagia
Dalam Sabda Bahagia, Yesus menganugerahkan hadiah kebahagiaan kepada banyak kategori orang yang pada zamannya dan kita sendiri, “tidak terlalu dihargai,” kata Paus: “orang miskin, lemah lembut, penyayang, rendah hati.” Para pembuat perdamaian yang, sampai saat itu, yang terpinggirkan, menjadi “pembangun Kerajaan Allah.” Dari sinilah, kata Paus Fransiskus, “kebaruan Injil muncul.” Hukum tidak boleh dihapuskan, tetapi membutuhkan penafsiran baru, menemukan penggenapannya dalam Injil cinta dan rekonsiliasi. “Injil menantang kita,” kata Paus, “Injil itu revolusioner.”

Cinta tidak memiliki batas
Ini adalah “rahasia besar” di belakang Khotbah di Bukit, lanjut Paus Fransiskus: “Jadilah anak-anak dari Bapamu yang di Surga.” Tuhan meminta kita untuk memohon kepada-Nya dengan nama “Bapa,” untuk membiarkan diri kita dibarui dengan kuasa-Nya, “untuk mencerminkan sinar kebaikan-Nya bagi dunia yang haus akan kabar baik.” Sebagai putra dan putri, saudara lelaki dan perempuan dari Bapa Surgawi kita, Yesus mengundang kita untuk mengasihi musuh kita, karena “kasih tidak memiliki batas.”

Waspadalah terhadap doa orang-orang munafik
Sebelum memberi kita doa “Bapa Kami,” kata Paus Fransiskus, Yesus mengingatkan kita tentang dua halangan untuk berdoa. Dia melakukannya dengan menjauhkan diri dari dua kelompok pada zaman-Nya: orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Kita tidak berdoa agar “dikagumi/dipuji oleh orang lain,” kata Paus. Alih-alih hanya sekedar pertunjukan lahiriah tanpa pertobatan batin, doa orang Kristiani “tidak memiliki saksi yang dapat dipercaya selain hati nuraninya sendiri.” Ini merupakan “dialog terus-menerus dengan Bapa.”

Waspadalah dengan doa orang-orang kafir
Kelompok kedua adalah para penyembah berhala, yang berdoa dengan lantang dan penuh formalitas, dengan menyampaikan petisi mereka tanpa ketulusan kepada kehendak Tuhan. Paus Fransiskus menyarankan bahwa doa hening sering kali cukup, dengan menempatkan diri “di hadirat Allah, mengingat kasih-Nya sebagai seorang Bapa.” Yesus mengajari kita untuk berdoa seperti anak-anak kepada seorang Bapa “yang tahu apa yang kita butuhkan bahkan sebelum kita meminta.”

Tuhan tidak membutuhkan apa pun
“Sangat indah untuk berfikir bahwa Allah kita tidak membutuhkan kurban persembahan untuk memenangkan hati-Nya,” tutup Paus Fransiskus. “Allah kita tidak membutuhkan apa pun: dalam doa Dia hanya meminta agar kita tetap jujur membuka saluran komunikasi dengan-Nya sehingga kita dapat mengenali bahwa kita selalu menjadi anak-anak-Nya yang terkasih. Karena Dia sangat mencintai kita .”

02 Januari 2019
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s