Awas! 3 Gaya Iblis

Homili Paus: Sabda Bahagia adalah cara hidup yang benar bagi orang Kristiani
Saat merayakan misa pagi, 21 Januari, Paus Fransiskus mengatakan bahwa beberapa orang yakin bahwa diri mereka adalah orang Katolik yang baik, tetapi tidak berperilaku sebagai orang Kristiani yang baik seperti yang ditunjukkan oleh Sabda Bahagia. Gaya Kristiani adalah gaya Sabda Bahagia yang digambarkan oleh Santo Markus dalam Injil hari itu sebagai “anggur baru dalam botol-botol baru.”

Injil, Firman Tuhan, adalah “anggur baru” yang telah dikaruniakan bagi kita, tetapi untuk menjadi orang Kristiani yang baik kita membutuhkan “perilaku baru,” sebuah “gaya baru” yang benar-benar “gaya Kristiani” dan gaya ini ditunjukkan oleh Sabda Bahagia. Inilah “kata kunci” bacaan hari ini dari Injil Markus: “Anggur baru dalam kantong kulit yang baru.” Paus Fransiskus menjadikan ini sebagai tema homilinya pada Misa, Senin pagi, di Casa Santa Marta di Vatikan.

Menuduh orang lain
Menurut Paus, kita dapat belajar tentang gaya Kristiani dengan terlebih dahulu mengetahui sikap-sikap kita yang bukan merupakan gaya Kristiani. Dalam hal ini, ia menunjuk pada 3 gaya: “menuduh,” “keduniawian” dan “egois”:
Paus mengatakan bahwa gaya menuduh merupakan milik mereka yang selalu berusaha dan hidup dengan menuduh orang lain, mendiskualifikasi orang lain, bertindak sebagai pejuang-pejuang keadilan yang kosong. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa itu adalah gaya iblis: dalam Alkitab, iblis disebut “penuduh hebat,” yang selalu menuduh orang lain.

Ini sama pada zaman Yesus yang dalam beberapa kasus Ia merupakan orang yang mencela para penuduh: “Alih-alih melihat bintik di mata orang lain, lihatlah balok di hatimu”; atau lagi: “Mereka yang tidak berdosa dapat melempar batu pertama.” Hidup dengan menuduh orang lain dan mencari kecacatan, kata Paus, bukanlah “Kristiani,” bukan kulit anggur baru.

Keduniawian
Berbicara tentang keduniawian, Paus Fransiskus menyebutnya sebagai sikap umat Katolik yang dapat “melafalkan Pengakuan Iman,” tetapi hidup dengan “kesombongan, kebanggaan dan keterikatan pada uang,” percaya bahwa diri mereka mandiri.
Paus berkata bahwa Tuhan telah menawari Anda anggur baru tetapi Anda tidak mengganti kantong anggur, Anda tidak mengubah diri Anda. Keduniawian inilah yang menghancurkan begitu banyak orang yang baik tetapi mereka masuk ke dalam roh kesombongan, kebanggaan, dari ketenaran… Kerendahan hati yang merupakan bagian dari gaya Kristiani, seperti yang dimiliki Bunda Maria dan St.Yosep, masih kurang, kata Paus.

Keegoisan, ketidakpedulian
Mengomentari gaya ketiga yang bukan gaya Kristiani, Paus mengatakan gaya itu adalah roh keegoisan, roh ketidakpedulian yang umum di komunitas kita. Seseorang percaya bahwa dirinya adalah seorang Katolik yang baik, tetapi tidak khawatir mengenai masalah orang lain – seperti perang, penyakit dan penderitaan sesama. Ini, kata Paus, adalah kemunafikan yang Yesus cela pada para ahli hukum. Lalu apa gaya Kristiani itu?

Menurut Paus, gaya Kristiani adalah gaya Sabda Bahagia: kelemahlembutan, kerendahan hati, kesabaran dalam penderitaan, cinta akan keadilan, kemampuan untuk menanggung penganiayaan, tidak menghakimi orang lain… Jika seorang Katolik ingin mempelajari gaya Kristiani, agar tidak kemudian jatuh ke gaya menuduh, gaya duniawi dan gaya egois, dia harus membaca Sabda Bahagia. Mereka merupakan kantong kulit anggur, jalan yang harus kita ambil. Untuk menjadi seorang Kristiani yang baik seseorang harus memiliki kemampuan tidak hanya untuk melafalkan Pengakuan Iman dengan hati, tetapi juga Bapa Kami dengan hati.

21 Januari 2019
Oleh: Robin Gomes
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s