Panggilan Misioner: “Menjadi Saksi Yesus Secara Nyata”

RENUNGAN HARIAN MISIONER & HARI MINGGU
LITURGI Th. C/I 2019

Selasa, 22 Januari 2019
Ibr.6:10-20 & Mrk.2:23-28

Kita seringkali bertanya, apa itu kehidupan Kristiani? Apa artinya menjadi seorang pengikut Kristus? Mungkin banyak dari kita memahami agama atau kehidupan Kristiani sebatas pelaksanaan ajaran agama atau pemeliharaan hukum yang diajarkan oleh Gereja. Kita tahu bahwa hukum pada dasarnya adalah sesuatu yang baik. Hukum dimaksudkan untuk membantu kita dalam hidup yang benar sehingga kita tidak membiarkan diri kita ditipu oleh khayalan yang ditawarkan oleh dunia. Hukum memberitahu kita apa yang harus kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan. Ini memberi kita pemahaman, mengapa orang Farisi sangat taat kepada hukum Musa dan menjalankannya dengan sangat teliti. Hukum Musa dianggap sebagai hukum yang suci karena diberikan langsung oleh Allah dan semua orang Yahudi harus mentaati hukum itu sebagaimana mentaati perintah Allah. Sehingga kita bisa memahami reaksi mereka terhadap murid Yesus yang melanggar hukum Musa, melakukan “sesuatu yang dilarang pada hari Sabat.”

Bagi kita orang Kristiani, kita mengakui bahwa hukum tetap baik dan penting bagi hidup benar, namun kita perlu menyadari bahwa hukum bukan di atas segalanya. Yang paling utama di hadapan Allah adalah perbuatan cinta kasih dan amal kita. Penghayatan kita akan hidup sebagai orang Kristiani atau pengikut Kristus tidak diukur dengan sejauh mana kita menaati hukum yang diajarkan oleh Gereja dan menjaga diri kita untuk tidak melakukan kesalahan, atau melanggar ajarannya, tetapi lebih pada upaya kita untuk menjalankan ajaran hukum itu dalam tindakan kasih kita kepada sesama. Kita ingat apa yang dikatakan oleh Yesus, “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”  (Mat. 25 : 40) Dengan demikian, hukum pada dasarnya adalah tindakan kebajikan bagi sesama.

Yesus dalam bacaan Injil hari ini menggunakan contoh Raja Daud untuk mengingatkan orang-orang Farisi apa maksud dari hukum sesungguhnya untuk kehidupan manusia. Bagi orang Farisi, tentu ini adalah sebuah dosa besar dan penghinaan kepada hukum Musa yang telah diajarkan turun-temurun. Namun Yesus memberi arti baru akan apa arti dari pelaksanaan hukum itu. Semua hukum hendaknya mengarahkan manusia pada perbuatan amal, tindakan kasih yang memberikan kebahagiaan bagi banyak orang. Hukum tidak boleh membelenggu manusia, sebaliknya memberikan kebebasan bagi manusia untuk menjalankannya dengan nurani yang benar, demi kebaikan bersama. Hukum hendaknya membebaskan! Yesus dengan jelas mengatakan, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat, jadi Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Mrk. 2 : 27-28) Dengan demikian jelaslah bahwa Sabat adalah untuk kepentingan manusia dan bukan untuk TUHAN. Sabat menjadi kesempatan untuk manusia berdoa memohon keselamatan dan TUHAN-lah yang berkenan akan ibadah manusia.

Namun Yesus dalam injil hari ini tidak hanya menegur orang Farisi, tetapi mengajak kita para pengikut-Nya untuk merefleksikan hidup kita. Ibadah yang benar dengan segala tata liturgi yang cermat, menghabiskan waktu berjam-jam dalam doa, bagi Yesus itu belum cukup untuk mencapai keselamatan. Yesus menghendaki para pengikut-Nya untuk memiliki semangat mencintai, semangat untuk berkorban bagi orang lain dan kemurahan hati! Inilah semangat Kristiani; menghayati apa yang diajarkan oleh Yesus sendiri dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk alasan ini, penulis Ibrani menasihati kita untuk bertekun dalam perbuatan baik bahkan jika kekurangan iman. “Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap-Nya oleh pelayanan kamu terhadap orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang.” (Ibr. 6 : 10) Dengan demikian, yang utama adalah perbuatan yang baik, bahkan ketika kekurangan iman. Sering kali, dengan melakukan perbuatan baik dan berusaha mendekatkan diri dan memberi pertolongan kepada orang miskin, mereka yang tidak memiliki kasih yang mendalam akan Allah mungkin datang untuk berjumpa dengan Kristus di dalamnya, karena melalui orang-orang miskin kita menjumpai wajah Allah.

Dalam kehidupan kita, ada banyak pengalaman membuktikan bahwa melalui karya amal terhadap orang-orang miskin dan terpinggirkan, orang sampai pada pemahaman dan menghargai arti cinta dan martabat manusia. Gereja kita mengajarkan bahwa, bahkan jika mereka tidak mengenal Allah secara pribadi, melalui kemampuan untuk berkorban bagi orang-orang yang membutuhkan, telah merupakan partisipasi mereka akan misteri kasih Allah yang menyelamatkan. Ini menjadi tantangan bagi kita orang Kristiani, apakah kita memiliki semangat hidup dalam kasih yang nyata sebagaimana diajarkan oleh Yesus sendiri, atau sebatas memahaminya hanya sebagai hukum cinta kasih yang kita tahu?

Hari ini Yesus memanggil kita untuk hidup secara benar sebagai murid-Nya dalam praktik. Kita tidak hanya mengenal Yesus dan ajaran yang disampaikan-Nya kepada kita tetapi menjadikannya “hidup” dalam keseharian kita. Karenanya, Yesus haruslah menjadi pusat kehidupan kita. Sebagaimana penulis Ibrani mengingatkan kita, “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.” (Ibr. 6 : 19-20) Di dalam dan bersama Yesus kita menemukan kekuatan dan kita menjadi kuat. Yesus sendiri telah menunjukkan kita jalan dan melalui jalan itulah kita berjalan menuju Bapa. Dia adalah JALAN, hukum Ilahi yang menuntun kita menuju Kerajaan sorga, tempat kita menikmati perjamuan bersama Bapa.

Marilah kita menimba kekuatan dari Yesus sendiri untuk menghidupi ajaran-Nya dengan benar dan dengan bebas menjalankannya dengan penuh kasih, agar semakin banyak orang mengenal Yesus melalui kehadiran kita. Kita memohon Roh Kudus-Nya agar memampukan kita menjadi pengikut Kristus yang benar, yang tidak hanya menjalani aturan secara lurus tetapi juga dengan kebebasan yang didasari nurani yang jernih. Inilah panggilan misioner kita, menjadi saksi kasih-Nya secara nyata di dunia!

(RP. Joseph Gabriel, CSsR – Imam di Manila)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Kaum muda dan Teladan Bunda Maria: Semoga kaum muda, terutama yang berada di Amerika Latin mau meneladani Bunda Maria dan menjawab panggilan Tuhan untuk menyampaikan kegembiraan Injil pada dunia. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pemimpin Agama: Semoga para pemimpin agama berani dengan tegas menolak segala bentuk usaha pribadi maupun kelompok masyarakat yang hendak menggunakan agama demi meraih kepentingan politik praktisnya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kamimendukung hasrat Sri Paus membangun damai dengan hikmat yang menguatkan tekad persaudaraan para pemimpin negara kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s