“Berikanlah Dengan Cuma-Cuma”

Pesan Ketua Waligereja Asia untuk Hari Orang Sakit Sedunia di Calcutta
Kardinal Charles Bo dari Myanmar, Ketua Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC), telah mengeluarkan pesan untuk perayaan khusus Hari Orang Sakit Sedunia di Kolkata, kota St. Bunda Teresa dari Calcutta.

Ketua Waligereja Asia mendesak orang-orang beriman di benua ini untuk terus menegakkan tugas suci dan tradisi merawat dan menghormati orang tua, orang lemah dan tidak berdaya, dengan mengatakan bahwa itu adalah sebuah tolok ukur kesehatan masyarakat.

Kardinal Charles Bo, Ketua Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC), menyampaikan nasihat itu dalam sebuah pesan yang dirilisnya pada hari Minggu sehubungan dengan perayaan internasional yang akan datang mengenai Hari Orang Sakit Sedunia Gereja Katolik (11 Februari 2019).

Hari tahunan ini ditetapkan oleh St Yohanes Paulus II pada tanggal 13 Mei 1992, dengan merancang perayaannya pada pesta Perawan Maria dari Lourdes (Our Lady of Lourdes), 11 Februari setiap tahun. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian kepada orang sakit dan para pengasuhnya serta tindakan penebusan bagi penderitaan manusia.

Kolkata – kota Bunda Teresa
Setiap tahun, hari tersebut ditandai dengan sebuah cara khusus di sebuah tempat yang dipilih oleh Paus yang mengeluarkan sebuah pesan untuk acara tersebut. Hari Orang Sakit Sedunia ke-27 akan dirayakan di kota Kolkata di India timur (sebelumnya Calcutta), kota St.Bunda Teresa.

Dalam pesannya untuk peringatan tahun ini, Paus Fransiskus mendesak orang-orang beriman untuk menyebarkan budaya kemurahan hati, dengan mencatat bahwa sukacita dari pemberian yang dermawan adalah tolak ukur kesehatan seorang Kristiani.

Tema dari Hari Orang Sakit Sedunia tahun ini, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10: 8).

Mengingat Kolkata sebagai “karma bhumi” (tempat kerja) St.Teresa dari Calcutta, Kardinal Bo mengatakan bahwa tema tahun ini adalah mantra yang diberikan Yesus kepada para murid-Nya “sebelum mengirim mereka untuk menyebarkan kabar baik Kerajaan Allah.”

Merawat yang sakit, lemah – sebuah tugas suci
“Izinkan saya untuk mengingatkan diri saya sendiri dan mendorong semua orang beriman untuk menjunjung tinggi nilai-nilai tradisional yang tertanam dalam jiwa kelompok etnis kita yang beragam di benua Asia yang luas ini, yang memandang merawat orang tua dan lemah sebagai tugas suci dari penghormatan dan pengabdian,” jelas Kardinal, Uskup Agung Yangon, Myanmar.

“Kebiasaan tradisional kita dalam menggapai solidaritas kepada mereka yang membutuhkan, terutama mereka yang sakit, tidak berdaya, atau menjadi korban kecelakaan darurat,” katanya, “harus terus dipeluk sebagai budaya kedermawanan – tolok ukur yang menunjukkan kesehatan masyarakat.”

Kardinal Bo, yang mengambil alih kepemimpinan FABC pada 1 Januari, memandang Maria sebagai teladan, dengan mengatakan bahwa ia tetap berada di sisi sepupunya, Elizabet, pada saat dibutuhkan. Dia berharap Maria menjadi inspirasi dan teladan bagi kita “sebagai tanda nyata kasih Allah bagi orang miskin dan orang sakit.”

Dia berharap agar Bunda Teresa, yang menunjukkan apa artinya “memberi sampai sakit,” juga menjadi inspirasi dan teladan dalam memberikan waktu dan talenta kita dalam merawat orang sakit.

Kardinal berusia 70 tahun itu menyampaikan rasa terima kasih dan dorongannya kepada sukarelawan dan kelompok-kelompok yang membantu orang sakit dan semua yang mengorganisir kampanye-kampanye untuk donor darah, jaringan dan organ.

Paus Fransiskus pada 11 Desember menunjuk Kardinal Bangladesh Patrick D’Rozario sebagai utusannya untuk perayaan khusus Hari Orang Sakit Sedunia di Kolkata.

Hari Orang Sakit Sedunia tahun ini akan menjadi sebuah acara selama 3 hari, dimulai di Kolkata pada 9 Februari dan akan berakhir pada 11 Februari di Kuil Maria yang bersejarah di Bandel di tepi Sungai Hooghly, sekitar 60 km di utara Kolkata.

Hari Orang Sakit Sedunia yang pertama ditandai pada tahun 1993 di kuil Our Lady of Lourdes di Perancis selatan, salah satu kuil Maria paling terkenal di dunia. Sejak itu, hari tersebut telah menjadi perayaan khusus di seluruh dunia di tempat tertentu setiap tahunnya.

Menurut Kardinal Peter Turkson, Prefek Dikasteri Vatikan untuk Mempromosikan Pembangunan Manusia Integral, yang mengorganisir Hari Orang Sakit Sedunia, Kolkata dipilih sebagai tempat yang utamanya “mengingat pengalaman St. Teresa dari Calcutta.”

Kali ini adalah kedua kalinya tempat di India yang terpilih. Yang pertama kali di Vailankanni pada tahun 2003.

27 Januari 2019
Oleh: Robin Gomes
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s