“Talita kum: Hai Anak, Bangunlah!”

Renungan Harian Misioner
Selasa Biasa IV, 5 Februari 2019
Peringatan St. Agata, Perawan Martir
Ibr. 12:1-4; Mrk. 5:21-43

Belum lama ini beredar kabar tentang tertangkapnya seorang artis yang terlibat dalam kasus prostitusi online. Dalam kasus itu, anehnya adalah bahwa yang diadukan dan diusut hanyalah si perempuan. Padahal menurut berita, keduanya baik perempuan maupun laki-lakinya, tertangkap. Seperti pada zaman Yesus, ada perempuan kedapatan berzina, tetapi yang dihadapkan pada Yesus hanya si perempuan, sementara yang laki-laki dibiarkan pergi bebas begitu saja (lih. Yoh. 8:2-11). Ada lagi berita tentang penderita obesitas di Kalimantan Tengah dan Karawang, sampai keduanya sulit atau nyaris tidak bisa bergerak. Mereka semua adalah perempuan. Masih banyak lagi realitas kekerasan dan penderitaan yang menimpa perempuan di sekitar kita. Perempuan menjadi korban.

Bacaan Injil pada misa hari ini, Markus 5:21-43, berkisah pula tentang perempuan-perempuan yang menderita dan mati, namun disembuhkan dan dibangkitkan Yesus. Kisah pertama adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Harta kepunyaannya sudah habis semuanya untuk pengobatan, tetapi tidak sembuh, malah semakin memburuk. Dengan keyakinan penuh, ia menjamah jubah Yesus dan sembuh. Kisah kedua adalah seorang anak perempuan, anak Yairus kepala rumah ibadat, yang sakit keras, hampir mati. Anak ini kemudian dikabarkan telah mati. Kepada anak perempuan inilah, Yesus berkata, “Talita kum,” yang artinya, “Hai anak perempuan, bangunlah!

Pada hari ini juga, 5 Februari, kita Gereja memperingati St. Agata. Ia adalah seorang perawan dan martir. St. Agata adalah pengikut Kristus, seorang putri bangsawan yang lahir pada pertengahan abad ketiga di Sicilia. Ia berikrar menyerahkan seluruh hidup dan dirinya kepada Tuhan Yesus. Kecantikannya yang tenar telah memesona Quintianus seorang bangsawan Roma. Quintianus mempersuntingnya, tetapi Agata menolak. Karena penolakannya, Agata dijebloskan di rumah pelacuran dan penjara. Akhirnya St. Agata disiksa dan dibunuh dengan dipotong kedua payudaranya. St. Agata meninggal sebagai perawan dan martir.

Kisah tadi adalah kisah-kisah perempuan yang menderita bahkan dijadikan korban. Mereka adalah korban dan simbol korban, simbol orang-orang kecil-lemah-miskin-tersingkir-difabel (KLMTD). Namun, perempuan-perempuan Injil itu (perempuan yang sakit pendarahan, anak Yairus dan St. Agata) “tertuju kepada Yesus,” seperti ajakan bacaan pertama misa hari ini, Ibrani 12:1-4, “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus. Dialah yang memimpin kita dalam iman dan Dialah yang membawa iman kita kepada kesempurnaan!” Tuhan Yesus menyembuhkan dan membebaskan mereka. “Talita kum,” bangunlah! Itulah yang dikatakan Yesus. Yesus memperhatikan korban, mengangkat, menyembuhkan, melindungi dan membebaskan para korban. Tuhan Yesus menyempurnakan iman mereka. Ia katakan, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!

Demikian, ajakan misioner Injil dan bacaan misa hari ini konkret dan jelas. Pertama, dalam melakukan segala sesuatu kita harus senantiasa tertuju kepada Yesus. Dalam berpikir, bertindak, berkata-kata, semuanya harus kita latih tertuju pada Yesus. Ini semua bertujuan untuk mendidik mata batin dan perilaku hidup kita. Kedua, berpihak pada yang menderita, korban. Berikan prioritas perhatian pada yang paling kecil, lemah dan menderita baik dalam lingkungan keluarga atau komunitas kita maupun dalam lingkungan yang lebih luas masyarakat. Ketiga, membiasakan diri untuk “talita kum,” yakni menyemangati, menghibur, melindungi dan membangkitkan; bukan justru sebaliknya mengerdilkan, menghambat, mengacau, menghujat, mencemooh, menghakimi, bahkan mematikan (potensi-potensi baik) orang lain.*** (NW)

(RD. M Nur Widipranoto – Dirnas Karya Kepausan Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perdagangan Manusia: Semoga dengan murah hati, kita semua bersedia menerima dan melayani para korban perdagangan manusia, korban prostitusi dan korban kekerasan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pertemanan dalam Media Sosial: Semoga para pengguna media sosial semakin cerdas dan selektif dalam memilih lingkaran pertemanan di dunia maya demi pengembangan diri yang sehat dan baik, sehingga terciptanya masyarakat yang sehat dan bermartabat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami melaksanakan Masa Prapaskah dengan memanfaatkan media sosial secara bijaksana penuh hikmat Roh Kudus bagi keselamatan sesama sebagai bentuk matiraga kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s