Panggilan Tuhan Bukan Pemenuhan Ambisi Pribadi

Renungan Harian Misioner
Selasa Biasa VII, 26 Februari 2019
Peringatan S. Alexandros & S. Didakus Carvalho
Sir. 2:1-11 & Mrk. 9:30-37

Setiap orang memiliki ambisi dalam hidupnya. Sesungguhnya, ambisi memiliki tujuan yang positif. Tanpa ambisi kita akan kekurangan motivasi untuk bekerja keras atau bahkan untuk hidup. Itu sebabnya orang-orang yang tanpa ambisi hanya melewati hari-hari hidupnya tanpa makna dan tujuan. Sebagian orang mungkin disesatkan dalam kehidupan yang hanya untuk kesenangan belaka. Tanpa tujuan dalam hidup, kita bisa kehilangan arah hidup kita.

Menggarisbawahi ambisi sebagai upaya untuk mendorong orang untuk melakukan sesuatu yang berharga adalah hal yang sangat berguna. Tetapi ini bisa seperti pedang bermata dua karena ambisi cenderung berfokus pada diri sendiri. Ketika ambisi kita ditujukan pada usaha untuk meninggikan diri, maka ambisi tersebut dapat menjadi kejam, membuat orang bersaing dan manipulatif. Ambisi juga membuat kita memanipulasi orang lain-orang-orang lemah, tak berdaya, yang sedang menderita-demi mengejar kehormatan, pujian atau kemuliaan. Karena ambisi itu pula, kita bisa melihat orang lain sebagai pesaing dan musuh. Kita tidak memiliki waktu lagi untuk membangun relasi persahabatan yang sejati dan juga tidak memiliki teman sejati.

Inilah yang terjadi dengan para Rasul dalam bacaan Injil hari ini. Mereka terlibat dalam pertengkaran untuk mendapatkan posisi, kuasa dan kemuliaan. Mereka berdebat di jalan tentang siapa yang terbesar. Mereka termotivasi untuk mengikuti Yesus, namun dengan motivasi yang tidak murni. Mereka mengikuti Yesus demi kepentingan diri mereka, dan bukan demi Yesus dan kebaikan orang banyak. Mereka begitu dikuasai oleh pikiran mereka untuk mendapatkan posisi ketika Yesus datang dalam Kerajaan-Nya. Karenanya, mereka tidak sanggup untuk merasakan kecemasan Yesus tentang penderitaan-Nya yang sudah hampir tiba. Yesus berpikir tentang apa yang akan terjadi dengan mereka ketika penderitaan itu tiba, tetapi mereka membayangkan posisi apa yang akan mereka dapatkan.

Hari ini Yesus juga mengajarkan kita untuk menyadari panggilan kita sebagai pengikut-Nya. Panggilan kita adalah panggilan demi pelayanan dan bukan untuk memenuhi ambisi pribadi kita. Kita dipanggil oleh Allah untuk melayani kemanusiaan. Panggilan Allah ini menyempurnakan ambisi kita, untuk melayani TUHAN dan sesama. Inilah yang dikatakan Yesus kepada para Rasul-Nya, “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semua dan pelayan dari semuanya.” (Mrk. 9:35) Pelayanan harus menjadi motivasi bagi apa yang kita lakukan. Namun pelayanan tidak hanya demi tujuan pribadi kita, tetapi menjadi sesuatu yang membuat kita merasa berguna dan menjadi sumbangan kita bagi banyak orang.

Panggilan selalu merupakan sebuah pelayanan demi tindakan amal dan kebenaran. Kita dipanggil untuk melayani semua orang, secara khusus bagi mereka yang paling lemah dalam masyarakat, yang disimbolkan dalam diri anak kecil dalam injil hari ini. “Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian memeluk anak itu dan berkata, ‘Barang siapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku’.” (Mrk. 9:36-37). Anak-anak pada zaman Yesus dan mungkin juga pada zaman kita, dianggap sebagai orang-orang yang tidak memiliki pengaruh. Tetapi Yesus memberikan perintah dengan jelas bahwa bentuk pelayanan terbesar adalah pelayanan terhadap orang-orang miskin dan tak berdaya, lemah dan rentan. Melayani mereka adalah melayani TUHAN sendiri. Dengan demikian, pekerjaan apa pun yang kita lakukan, bukan semata-mata untuk keuntungan sendiri tetapi selalu menjadi bentuk pelayanan kita kepada banyak orang. Inilah panggilan kita untuk melayani!

Dengan demikian, motivasi kita untuk melayani hendaklah tidak untuk memenuhi ambisi pribadi kita tetapi sebaliknya untuk melayani Allah melalui sesama kita! Banyak orang bisa terjebak dalam pelayanan kepada orang kecil, miskin, lemah, dan terlantar, tetapi dengan ambisi pribadi, yang akhirnya bisa memanipulasi orang-orang kecil untuk mendapatkan kekayaan, kekuasaan dan popularitas. Sekali lagi, Yesus hari ini dengan jelas menjernihkan panggilan kita bahwa, pelayanan kita hendaknya termotivasi oleh panggilan Allah untuk orang-orang lemah dan bukannya mengejar ambisi pribadi kita. Pengalaman para Rasul hendaknya menjadi refleksi bagi kita untuk memurnikan motivasi panggilan pelayanan kita!

Marilah berdoa memohon kuasa Roh Kudus untuk memampukan kita menjernihkan panggilan kita, agar pelayanan kita kepada orang-orang kecil bukan untuk memenuhi keinginan pribadi kita namun merupakan sebuah pelayanan yang tulus, karena “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku!” (Mat. 25:40)

(RP. Joseph Gabriel, CSsR – Imam di Manila)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Perdagangan Manusia: Semoga dengan murah hati, kita semua bersedia menerima dan melayani para korban perdagangan manusia, korban prostitusi dan korban kekerasan. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pertemanan dalam Media Sosial: Semoga para pengguna media sosial semakin cerdas dan selektif dalam memilih lingkaran pertemanan di dunia maya demi pengembangan diri yang sehat dan baik, sehingga terciptanya masyarakat yang sehat dan bermartabat. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami melaksanakan Masa Prapaskah dengan memanfaatkan media sosial secara bijaksana penuh hikmat Roh Kudus bagi keselamatan sesama sebagai bentuk matiraga kami. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s