Melihat seperti yang TUHAN Lihat

Latihan rohani Paus: merawat hati untuk mengenali kehadiran Tuhan
Meditasi pertama dari Abbas Benediktin Bernardo Francesco Maria Gianni kepada Paus Fransiskus dan 65 kolaboratornya yang sedang menjalani latihan rohani tahunan, adalah tentang perlunya memandang dunia dengan mata Kristus.

Paus Fransiskus dan 65 kolaboratornya dari Kuria Roma memulai latihan rohani tahunan mereka pada Minggu malam di Casa Divin Maestro di kota Arricia, persis di luar Roma.

Abbas Benediktin Bernardo Francesco Maria Gianni, kepala Biara Olivetan San Miniato al Monte, memimpin retret spiritual Prapaskah 10-15 Maret dengan tema “Kota Hasrat yang Kuat: Untuk Tampilan Paskah dan Gerakan-Gerakan di dalam Kehidupan Dunia”.

Paus Fransiskus duduk di baris ke-4 pada Minggu malam itu, untuk mendengarkan meditasi pertama dari Pastor Gianni tentang sebuah puisi 1997 yang ditulis oleh penyair Italia Mario Luzi berjudul: “Kami di sini untuk ini”. Refleksi abbas dimulai dari perspektif biaranya yang menghadap ke kota Florence Italia, yang oleh Giorgio La Pira, walikota Florence setelah Perang Dunia II, sekarang seorang “Venerabilis (Yang Mulia)” dalam perjalanan menuju kesucian, digambarkan sebagai “sebuah tempat geografis bagi rahmat”.

Paus dan kolaboratornya diundang untuk melihat Florence dan menemukan petunjuk tentang “bagaimana Tuhan menghidupi kota”.

Pandangan dari atas
Abbas berbicara tentang perlunya memandang dari atas agar tidak jatuh ke dalam godaan si jahat yang hampir membuat kita memiliki, menguasai, dan mengkondisikan hal-hal di dunia ini. Sebaliknya, katanya, seseorang perlu memiliki sebuah pandangan yang dibangkitkan oleh Roh Kudus dan Firman Tuhan – tatapan perenungan, rasa syukur, kewaspadaan jika perlu dan nubuat. Itu adalah sebuah pandangan yang dengan mudah mengenali bahwa kota kita adalah sebuah gurun.

Gurun menjadi taman
Biarawan Benediktin itu menjelaskan bahwa pandangan dari atas juga merupakan dorongan untuk menyalakan kembali api untuk memulihkan kehidupan sejati dalam Kristus dan Injil.

Dia dengan sungguh-sungguh mendesak para pendengarnya untuk memiliki apa yang disebutnya “pandangan misteri ke arah Florence”, sehingga tindakan pastoral dan kepedulian mereka terhadap orang-orang dan kemanusiaan yang dipercayakan kepada mereka oleh Tuhan, dapat benar-benar menjadi “nyala api baru dari hasrat yang kuat” yang mengubah gurun menjadi sebuah taman keindahan, kedamaian, keadilan dan harmoni.

Mengutip kata-kata dari mistikus Skotlandia Abad Pertengahan, Richard dari Saint Victor – “di mana ada cinta, ada sebuah pandangan” – Abbas Gianni berbicara tentang perlunya mengenali jejak-jejak dan petunjuk-petunjuk yang ditinggalkan Tuhan ketika Dia melewati hidup dan sejarah kita. Dalam cinta inilah seseorang harus membaca pandangan La Pira di Florence, tentang Yesus di Yerusalem dan tentang semua yang Tuhan temui. Abbas berkata, itu adalah perspektif yang memperkenalkan “Paskah yang dinamis”, membuat kita sadar akan persaudaraan yang melemah. Kekuatan persaudaraan, tegas sang pengkhotbah, adalah garis batas baru dari Kristianitas.

Pandangan Kristus
Mengingat bahwa humanisme dimulai dari Kristus, abbas mengundang peserta retret untuk melihat sekilas wajah belas kasih Yesus yang telah mati dan bangkit yang menciptakan kembali kemanusiaan kita yang retak oleh pergumulan hidup atau ditandai oleh dosa.

“Mari kita biarkan Yesus memandangi kita,” desak pengkhotbah retret, agar “kita belajar melihat seperti yang Dia lihat,” sama seperti yang Dia lakukan dengan pemuda yang kaya raya dan Zakheus.

Abbas mengingat kata-kata Santo Agustinus – “Jika Anda tidak memperhatikan hati Anda, Anda tidak akan pernah tahu apakah Yesus mengunjungi Anda atau tidak” – dan menekankan pada pertobatan hati sehingga pertobatan itu mengenali kehadiran Allah dalam sejarah kita dan membuka diri pada sebuah harapan yang membara yang baru dan belum pernah terjadi.

Hidup bakti
Dengan demikian rahib Benediktin itu mendesak orang-orang yang dikuduskan untuk sebuah hidup sederhana dan hidup kenabian, di mana Tuhan ada di depan mata dan di tangan mereka, dan tidak ada yang lain yang diperlukan.

“Hidup bakti,” katanya, “adalah visi kenabian di dalam Gereja.” “Merupakan tatapan yang melihat kehadiran Allah di dunia, bahkan jika banyak yang tidak menyadarinya”. “Allah adalah kehidupan, Allah adalah harapan dan masa depan,” kata abbas

11 Maret 2019
Oleh: Robin Gomes
Sumber: Vatican News

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s