Maria Guru dan Teladan Para Hamba Tuhan

Renungan Harian Misioner
Senin Prapaskah III, 25 Maret 2019
Hari Raya Kabar Sukacita
Yes 7:10-14; 8:10; Ibr. 10:4-10; Luk. 1:26-38

Dalam Kitab Suci menjadi hamba, bukanlah isu moral-sosial. Hamba terbedakan dari budak. Bahkan dapat dikatakan bahwa menjadi “hamba” seperti hamba Yahweh atau hamba Tuhan dinilai sebagai sikap dan pilihan hidup yang benar. Menjadi hamba Yahweh/Tuhan justru merupakan kesempurnaan dari hidup beriman. Hamba dalam lingkungan rohani seperti itu mengacu kepada suatu status atau keberadaan hidup sebagai manusia beriman, di mana Allah adalah “segalanya” dan sang hamba bukanlah siapa-siapa.

Dengan demikian menjadi hamba mengandaikan dua hal, pertama, pengenalan diri di hadapan Allah dan kedua, pengalaman akan Allah dalam kehidupan. Yang dimaksudkan dengan pengenalan diri adalah kesadaran dan penerimaan diri sebagai “tak bernilai” di hadapan Allah, seperti dikatakan dalam lagu Madah Bakti 368: Hanya debulah aku, di alas kaki-Mu Tuhan. Sebaliknya pengalaman akan Allah dimaksudkan sebagai kesadaran akan peran dan campur tangan Allah dalam hidup, yang membuat sang hamba yang tak bernilai itu, menjadi bernilai. Sang Hamba mengalami bahwa Allah peduli pada dirinya dan pada kehidupannya. Sang hamba yang dipandang tak bernilai dan dilecehkan, sekarang diangkat derajatnya oleh perhatian dan campur tangan Allah dalam hidupnya.

Kesadaran akan diri sebagai tidak bernilai, bukanlah hal yang dibuat-buat (artifisial) tetapi sikap iman sejati, bahwa sebagai manusia, nilai dan martabat hidup sang hamba seluruhnya bergantung pada perhatian dan kepedulian Allah. Seorang hamba akan mengembalikan kepada Allah, semua yang hebat dan luar biasa dalam hidupnya. Dia tidak mengklaim sebagai miliknya sendiri. Allah adalah segalanya baginya (Deus meus et omnia).

Jika merenungkan makna Hari Raya Kabar Sukacita hari ini, maka kita dapat menemukan dan belajar dari Maria tentang kiat menjadi hamba Tuhan yang sejati. Maria mengalami hal yang mustahil dari sudut pandang dan pengetahuan manusia. Maria diberitahu bahwa dia akan mengandung dan melahirkan, padahal dia belum bersuami. Dia akan menjadi ibu seorang Putra, padahal dia masih seorang anak dara. Tentu kita tergoda untuk bertanya: mengapa Maria begitu saja percaya pada hal-hal mustahil itu?

Jawabannya ada pada sikap iman sejati Maria, yang bersumber pada pengenalan diri dan pengalamannya akan Allah. Hal itu terungkap dalam kalimat yang diucapkannya kepada malaikat: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”.

Dalam kalimat itu kita menemukan bahwa Maria mengenal dan menerima dirinya sebagai seorang Hamba Tuhan. Sebagai seorang hamba dia sadar dan menerima dengan tulus bahwa apa saja, jika itu berasal dari Allah, maka tidak ada yang mustahil. Semuanya pasti terjadi.

Kita sering tergoda untuk mempersoalkan “kelahiran sang Putra dari seorang perawan yang tak bersuami”. Jika kita baru sampai di situ, maka itu berarti kita belum melampaui keterbatasan manusiawi kita, untuk mengamini dan mengimani ketakterbatasan Tuhan, bahwa bagi Allah tak ada yang mustahil. Mempersoalkan hal itu juga berarti bahwa kita tidak menerima kemahakuasaan Allah, itu berarti kita masih jauh dari keberadaan seorang hamba seperti Maria. Dari Maria kita belajar menjadi hamba; dan dari dia kita menemukan teladan sejati sebagai seorang hamba.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM – Ketua Komisi JPIC OFM Indonesia)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Pengakuan Hak Komunitas-Komunitas Kristiani: Semoga komunitas-komunitas Kristiani, terutama mereka yang teraniaya, dapat merasakan kedekatan dengan Kristus dan mengalami bahwa hak-hak mereka sungguh dihormati oleh masyarakat sekitar. Kami mohon…

 Ujud Gereja Indonesia:

Pemilihan Umum Legislatif dan Presiden: Semoga dalam menggunakan hak pilihnya pada pemilihan umum untuk anggota DPR dan Presiden, semua warga negara mengutamakan hati nuraninya, serta tetap berusaha menjaga kerukunan serta persaudaraan sesama anak bangsa agar tidak tergoda oleh bujukan politik uang. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami ikut mengusahakan agar penyelenggaraan pemilihan di kampung-kampung terlaksana dengan semangat persaudaraan yang tulus dan penuh kejujuran. Kami mohon…

 Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s