Berilah “Kami” Rezeki Pada Hari Ini

Audiensi: Dalam doa “Bapa Kami” kita berdoa untuk semua kebutuhan
Paus Fransiskus melanjutkan pengajaran tentang doa Bapa Kami selama Audiensi Umum mingguannya. Dalam renungan hari Rabu, Paus berfokus pada permohonan: “Berilah kami rezeki pada hari ini”.

Selama Audiensi Umum pada hari Rabu, Paus Fransiskus memulai serangkaian perenungan pada bagian kedua dari doa “Bapa Kami”, di mana, kata Paus, kita menyampaikan kebutuhan kita kepada Tuhan.

Doa dimulai dengan kebutuhan konkret
Yang pertama dari permohonan ini, “Berilah kami rezeki pada hari ini”, mengingatkan kita bahwa kita tidak mampu mencukupi kebutuhan sendiri. Doa, kata Paus, dimulai dengan keprihatinan kita sehari-hari, kebutuhan hidup kita yang paling mendesak dan nyata. Paus Fransiskus mengundang kita untuk melihat doa ini dari sudut pandang mereka yang benar-benar membutuhkan: “Berapa banyak ibu, dan berapa banyak ayah, bahkan hari ini, tidur dengan kesedihan karena tidak memiliki cukup makanan untuk anak-anak mereka untuk hari berikutnya?” Paus bertanya. Dilihat dari perspektif ini, “perkataan Yesus memuat kekuatan baru.”

Paus Fransiskus menekankan bahwa doa dimulai bukan dalam bentuk ilmu kebatinan abstrak, tetapi terkait kebutuhan kita sehari-hari. Di sini, kata Paus, “rezeki harian kita” berarti tidak hanya makanan, tetapi juga semua kebutuhan hidup, seperti air, obat-obatan, rumah, pekerjaan. Selain itu, Paus melanjutkan, dalam doa “Bapa Kami” kita diingatkan bahwa kita harus berdoa bukan hanya untuk kebutuhan kita sendiri, tetapi untuk kebutuhan semua orang. “Jika itu tidak didoakan dengan cara ini”, Paus berkata, doa ‘Bapa Kami’ tidak lagi menjadi doa Kristiani”.

“Bapa Kami” termasuk sebuah sikap solidaritas
Dengan permohonan “rezeki harian kami”, bukan rezeki harian saya, doa “Bapa kami” dengan sendirinya memasukkan “sikap empati, sikap solidaritas”, kata Paus Fransiskus. Dengan cara ini, Yesus mengajar kita untuk menyampaikan kebutuhan setiap orang kepada Bapa.

Paus Fransiskus mengingatkan bagian Alkitab yang dibacakan di awal Audiensi, yang menceritakan kisah pemberian makan lima ribu orang, dari Injil St. Matius. Penggandaan roti dan ikan adalah mukjizat sejati, kata Paus; tetapi keajaiban yang lebih besar adalah berbagi. Bocah lelaki yang berbagi roti dan ikannya telah memahami pelajaran dari doa ‘Bapa Kami’, Paus Fransiskus menjelaskan: “Makanan itu bukan milik pribadi… tetapi merupakan pemeliharaan baik dari Tuhan untuk dibagikan, dengan rahmat Allah”.

Hanya Ekaristi yang dapat memuaskan rasa lapar akan yang tak terbatas
Dalam mukjizat ini, Paus mengatakan dalam kesimpulan, Yesus mengantisipasi persembahan Diri-Nya dalam Ekaristi Kudus: “Hanya Ekaristi”, katanya, “mampu memuaskan rasa lapar akan yang tak terbatas dan keinginan akan Tuhan yang menjiwai setiap manusia, bahkan dalam mencari rezeki harian”.

27 Maret 2019
Oleh: Christopher Wells
Sumber: Vatican News

Tinggalkan komentar