Mengapa Yesus Tegar Menghadapi Tantangan dan Salib

Renungan Harian Misioner
Sabtu Prapaskah V, 13 April 2019
Peringatan S.Martinus I
Yeh. 37:21-28; MT Yer. 31:10,11- 12ab,13; Yoh. 11:45-56

Sahabat-sahabat Tuhan yang terkasih,

Kisah Yesus dikejar-kejar dalam Injil hari ini menambah sekian kisah semirip yang didalami sepanjang minggu ini tentang segala daya upaya para pemimpin agama Yahudi menangkap Yesus karena tindakan-tindakan kasih perhatian-Nya kepada orang-orang yang ditolong. Padahal tindakan-tindakan luhur Yesus itu merupakan upaya-Nya mewujudkan janji Bapa, sebagaimana diungkapkan Yehezkiel dalam bacaan pertama hari ini, untuk mempersatukan seluruh umat-Nya dan memperhatikan mereka sepenuh hati. Maka sebenarnya para pemimpin agama Yahudi justru harus menjadi penyokong utama karya-karya Yesus kalau mereka benar-benar mengenal dan memahami kehadiran, misi perutusan dan karya-karya Yesus.

Patut disayangkan bahwa mereka lebih menyoroti kehadiran, misi perutusan dan tindakan kasih Tuhan dari perspektif hukum Taurat. Dalam beberapa teks Injil disebutkan juga bahwa tindakan penolakan mereka lebih disebabkan oleh faktor iri hati dan cemburu atas karya-karya Yesus maka mulai dicari-cari kesalahan untuk memojokkan dan menyalibkan Yesus. Di sini kita diajak untuk merenungkan situasi hidup dan arah kiprah perjuangan kita. Apa yang menggerakkan (motivasi) saya dan apa tujuan yang hendak saya gapai: kehendak Tuhan atau mau memenuhi asa diri/kelompok saya?

Hal mengagumkan dan patut kita teladani dari sikap Yesus dalam menghadapi situasi penolakan dan upaya pembunuhan ini yakni sikap realitis Yesus bahwa melakukan hal-hal luhur demikian di tengah situasi bangsa yang punya orientasi hidup berlawanan maka Dia pasti akan mendapat tantangan demikian bahkan akan dibunuh. Alarm-Nya bagi para pengikut-Nya dalam Matius 10 mencerminkan kesiapsediaan-Nya untuk menderita demi kebenaran dan keselamatan umat manusia.

Kesiapan mental demikian membuat Yesus menghadapi penderitaan yang dibebankan kepada-Nya dengan tenang dan bijak. Malah Dia tetap fokus pada karya-karya luhur-Nya karena apapun tanggapan dan daya upaya manusia menolak-Nya, toh tak bisa membendung api kasih dalam hati dan jiwa-Nya untuk terus melakukan karya kasih kepada manusia karena untuk itulah Dia diutus ke dunia. Dia pun menyiapkan diri-Nya untuk menerima segala hukuman yang diberikan kepada-Nya termasuk hukuman mati bila upaya penyamaan persepsi dan arah perjuangan seturut kehendak Allah tidak bisa dilakukan lagi dengan kaum pimpinan agama Yahudi.

Semangat inilah yang membuat Dia rela dan berani menerima salib serta kematian-Nya karena keyakinan-Nya yang kokoh pada Bapa-Nya yang mengetahui segala sesuatu termasuk cara pandang dan rencana jahat mereka. Dia yakin bahwa justru dengan jalan demikian kebenaran yang sesungguhnya akan tersingkap lebih meluas.

Dan Kebenaran yang terbit pasca penyaliban-Nya menjadi bukti nyata bahwa kebenaran tidak bisa diputarbalikkan oleh siapa pun. Kebenaran hanya disembunyikan sejenak oleh orang-orang yang merasa mampu melakukannya tetapi Tuhan Sang Kebenaran Sejati akan menyingkap kebenaran yang sesungguhnya. Segala daya upaya para pemimpin Yahudi menutupi kebangkitan Tuhan menjadi sia-sia karena terhadap karya Tuhan ini tak satu manusia pun mampu membendung-Nya.

Kiranya kita ‘berkaca’ pada pengalaman Tuhan ini dan dijadikan pegangan dalam hidup dan karya perjuangan kita sebagai misionaris-misionaris-Nya sembari berani mengambil resiko bila hal itu tidak bisa dielakkan demi lahirnya kebenaran-kebenaran sejati.

Tuhan mampukanlah kami para pengikut-Mu agar mampu mengikuti jalan-jalan-Mu termasuk harus memikul salib penderitaan demi lahirnya kebenaran sejati dan kesejahteraan umum. Teguhkan kami selalu untuk selalu yakin bahwa Kebenaran Sejati akan tetap terbit di tengah kegelapan dan kejahatan dunia ini. Amin.

(RP. John Masneno, SVD – Sekretaris Eksekutif Pusat Spiritualitas Sumur Yakub Indo – Leste)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Para Dokter dan rekan-rekannya di wilayah perang: Semoga para dokter dan rekan-rekannya yang bekerja di wilayah perang dan mengambil risiko bagi hidup mereka sendiri demi keselamatan orang lain dikuatkan dan dilindungi oleh Tuhan yang Maha Kasih. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Menangkal Radikalisme: Semoga Gereja membantu dan sungguh-sungguh terlibat secara nyata dalam bekerja sama dengan pemerintah dan kelompok masyarakat lain yang sedang berupaya menangkal segala bentuk kekerasan radikalisme dan fundamentalisme yang sedang mengancam keutuhan bangsa. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami merayakan Paskah dengan penuh hikmat dan kebijaksanaan di tengah masyarakat yang beraneka ragam, dalam bimbingan Bunda Maria, Ratu Damai dan Sukacita. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s