Memaknai Iman di “Zaman Now”

Renungan Harian Misioner
Selasa Paskah III, 7 Mei 2019
Peringatan S. Gisela
Kis. 7:51 – 8:1a; Mzm. 31:3cd- 4,6ab,7b,8a,17,21ab; Yoh. 6:30-35

Kita sering mendengar istilah anak zaman now atau generasi milenial. Bagi warganet (netizen) istilah ini bukanlah sesuatu yang asing karena bermula dari istilah kids zaman now di dunia maya. Istilah ini untuk menyebut kaum yang identik dengan gaya hidup yang serba digital, sangat bergantung pada gadget dan apapun yang dilakukan selalu diabadikan dengan kamera untuk selfie atau live-video entah itu sedang makan, menangis, sedang bersama dengan teman, acara pesta, liburan dan sebagainya.

Perkembangan yang sedemikian cepat ini tentu juga memberikan sebuah tantangan yang tidak kecil bagi pewartaan kita bahkan bila sudah menyangkut diskusi soal iman yang terkadang hanya bisa dirasakan dan tak kasat mata. Mengapa?

Ada beberapa pengalaman yang saya alami ketika saya mencoba untuk masuk dalam dunia orang muda zaman sekarang. Dalam sebuah diskusi, kesempatan pendalaman iman, seorang peserta mengemukakan pengalaman iman pribadinya dan di-sharing-kan kepada semua orang yang hadir pada saat itu. Kemudian ada yang berkomentar secara halus, “Pengalaman imanmu sungguh luar biasa. Apakah ada foto atau videonya agar kita di sini dapat lebih percaya?” Komentar ini sungguh membuat saya kaget dan berpikir apakah semua harus dibuktikan untuk menjadi percaya? Bagaimana dengan iman itu sendiri yang kadang tidak dapat dijelaskan karena tidak tampak secara nyata, tidak memiliki bentuk atau tidak dapat bergerak? Bukankah Yesus pernah berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh. 20:29). Apakah orang-orang di Kapernaum yang bertanya kepada Yesus bisa dikatakan sekumpulan orang-orang yang tidak bahagia karena tidak percaya sebelum melihat tanda? Mereka bertanya kepada Yesus, “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya kami dapat melihatnya dan percaya kepada-Mu? […]” (Yoh. 6:30).

Apa jadinya bila pertanyaan itu tiba-tiba ditanyakan kepada saya sewaktu memberikan Homili di atas mimbar oleh karena ada beberapa orang yang hanya mau percaya perkataan dan sharing iman saya hanya jika ada bukti otentik berupa foto atau video seperti kebiasaan zaman now ini? Mungkin peristiwa itu tidak akan pernah terjadi. Namun baik untuk kita renungkan bahwa entah kita berasal dari era 60-an, sampai 90-an, kita juga dapat terkena dampak global dari zaman now ini yang selalu menuntut segala sesuatu yang serba cepat, detail dan dapat dibuktikan. Ini tentu juga dapat berakibat pada cara pandang kita memaknai iman itu sendiri.

Iman hanya menutut sikap percaya dan yakin bahkan ketika semuanya masih tampak sebagai misteri bagi kita. Apakah Allah, yang kita kenal dalam diri Kristus Yesus, masih merupakan Pribadi yang terus menggetarkan (Tremendum) karena kedahsyatan-Nya dan sekaligus juga menggemarkan (Fascinosum) kita oleh karena Pribadi-Nya yang baik, penuh kasih, peduli dan menakjubkan? Ataukah Yesus hanya sekadar pribadi yang kita kenal saja tanpa mempunyai kuasa atau pengaruh yang dapat mengubah hidup kita? Ini bisa saja terjadi bila iman kita hanya terus menuntut bukti berupa gambar atau video saja dan tidak lagi dapat merasakan sapaan Allah dalam nafas hidup di pagi hari ketika kita bangun.

(RD. Hendrik Palimbo – Pastor Paroki Deri-Toraja, KAMS)

DOA PERSEMBAHAN HARIAN

Allah, Bapa kami, kepada-Mu kupersembahkan hari ini. Kuhunjukkan semua doa, pikiran, perkataan, tindakan maupun suka-dukaku hari ini dalam kesatuan dengan Putra-Mu Yesus Kristus, yang senantiasa mempersembahkan Diri-Nya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya Roh Kudus, yang menjiwai Yesus, juga menjadi Pembimbing dan Kekuatanku hari ini sehingga aku siap sedia menjadi saksi Kasih-Mu.

Bersama Santa Maria, Bunda Yesus dan Bunda Gereja, secara khusus aku berdoa bagi ujud-ujud Bapa Suci dan para rasul doa Gereja Indonesia untuk bulan ini:

Ujud Evangelisasi:

Gereja di Afrika, sebagai benih persatuan: Semoga Gereja di Afrika, melalui keterlibatan anggota-anggotanya, dapat menjadi benih persatuan bagi penduduknya dan menjadi tanda pengharapan bagi benuanya. Kami mohon…

Ujud Gereja Indonesia:

Pendidikan Nilai: Semoga tenaga pendidikan dalam Lembaga-Lembaga Pendidikan Katolik tidak sekedar sibuk mentransfer ilmu, tetapi sungguh-sungguh berupaya untuk menanamkan keutamaan nilai-nilai Kristiani kepada anak didiknya. Kami mohon…

Ujud Khusus:

Semoga umat di Keuskupan kami berkat rahmat Pentakosta dan dibimbing Bunda Maria, dapat saling mendidik sehingga memperoleh kebijaksanaan mendalam untuk membangun nasionalisme yang sehat dan bangsa bermartabat. Kami mohon…

Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s